
NEGARA, BALIPOST.com – Payas Dirga menjadi salah satu warisan budaya khas Kabupaten Jembrana yang mencerminkan perjalanan sejarah panjang kerajaan setempat. Tata rias pengantin ini tidak hanya menonjolkan keindahan, tetapi juga sarat makna filosofis dan pengaruh lintas budaya.
Pakem tata rias dan busana pengantin ini unik, dengan perpaduan budaya yang berkembang di Jembrana, baik Jawa, Tiongkok, Bugis, dan Melayu dengan tidak melepaskan identitas Bali.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana, AA Komang Sapta Negara mengatakan, lahirnya Payas Dirga tidak lepas dari sejarah Kerajaan Jembrana yang berdiri sejak tahun 1705 di bawah kepemimpinan Ida I Gusti Agung Ngurah Jembrana. Seiring perkembangan zaman, kerajaan ini kemudian bertransformasi menjadi wilayah administratif kabupaten pada tahun 1960.
Menurutnya, pada masa awal, pakem tata rias pengantin di Jembrana masih dipengaruhi tradisi luar, khususnya dari Bali Timur yang dibawa oleh leluhur kerajaan yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Mengwi. “Pengaruh tersebut terlihat pada gaya rias pengantin puri di masa lampau yang masih kental nuansa Bali Timur,” ujarnya, Senin (23/3).
Ia menambahkan, pakem khas Jembrana mulai terbentuk pada masa pemerintahan Raja Jembrana IV. Namun, akibat kondisi politik dan peperangan saat itu, dokumentasi mengenai tata rias tersebut tidak banyak tersisa.
Barulah pada tahun 1929, di era Raja Jembrana VII, Ida Anak Agung Bagus Negara, dilakukan penyempurnaan pakem tata rias pengantin yang kemudian dikenal sebagai Payas Dirga Jembrana. Tata rias ini pertama kali digunakan dalam pernikahan agung keluarga kerajaan pada tahun 1940.
“Letak Jembrana sebagai pintu gerbang Bali di bagian barat turut memberi pengaruh budaya dari Jawa, China, Melayu, hingga Bugis dalam pembentukan Payas Dirga. Inilah yang menjadikannya unik dibandingkan payas di daerah lain di Bali,” jelas Sapta Negara.
Secara visual, Payas Dirga memiliki ciri khas pada hiasan kepala pengantin wanita berupa semi kapit udang yang melengkung di atas telinga, serta pusungan berbentuk tanduk kerbau yang melambangkan tradisi makepung.
Hiasan tersebut dipadukan dengan rangkaian bunga seperti cempaka, mawar, hingga sandat yang memperkuat kesan anggun dan sakral. Sementara itu, pengantin pria menggunakan destar songket dengan gaya ikatan khas yang disebut jejeteran atau tulak wangsul, dilengkapi hiasan bunga di bagian telinga.
Busana yang dikenakan pun didominasi kain tenun khas Jembrana dengan motif tradisional, baik untuk pria maupun wanita. Aksesori seperti perhiasan emas turut melengkapi tampilan pengantin dalam Payas Dirga.
Sapta Negara menegaskan, upaya pelestarian Payas Dirga terus dilakukan oleh pemerintah daerah melalui berbagai kegiatan, termasuk ajang Jegeg Bagus Jembrana. Dalam ajang tersebut, para finalis tidak hanya mengenakan, tetapi juga dibekali pelatihan merias Payas Dirga.
“Pelestarian ini penting agar generasi muda tetap mengenal dan menggunakan warisan budaya sendiri, baik dalam acara resmi maupun pernikahan adat,” tandasnya.
Selain itu, berbagai pelatihan dan workshop juga rutin digelar bekerja sama dengan organisasi profesi perias pengantin untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangan Payas Dirga sebagai identitas budaya Jembrana. Hingga akhirnya pada tahun 2025 lalu, Payas Dirga diajukan untuk menjadi salah satu kekayaan budaya dari Kabupaten Jembrana melalui Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Berdasarkan kajian, Payas Dirga pun resmi ditetapkan menjadi WBTB dari Kabupaten Jembrana bersanding dengan warisan budaya khas lainnya asal Jembrana. (Surya Dharma/balipost)







