Antrian kendaraan yang didominasi truk hingga kawasan hutan Cekik, Gilimanuk, Jumat (13/3) pagi. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Jalur nasional di wilayah Gilimanuk mulai dipadati kendaraan menjelang puncak arus mudik Lebaran, Jumat (13/3). Antrean kendaraan bahkan dilaporkan mengular hingga kawasan hutan Cekik di wilayah Taman Nasional Bali Barat (TNBB), sekitar 4 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.

Pantauan di lapangan Jumat siang, antrian didominasi kendaraan angkutan logistik. Mulai dari truk kecil, truk sedang, hingga truk besar dan tronton tampak berderet panjang sejak Kamis (12/3) malam, hingga Jumat siang.

Baca juga:  Bus Tabrak Truk Parkir di Dermaga LCM, Warung Warga Ikut Rusak

Sejumlah sopir mengeluhkan lamanya waktu tunggu akibat kemacetan tersebut. Beberapa di antaranya bahkan terjebak antrean hingga berjam-jam. Wahono (40), sopir truk yang akan mengirim barang ke Surabaya, mengaku mulai terjebak kemacetan sejak pagi hari. Ia baru bisa bergerak mendekati kawasan Pelabuhan Gilimanuk beberapa jam kemudian.

“Ini sudah terjebak antri dari tadi pagi, siang ini baru sampai di depan Pasar Gilimanuk,” ujarnya mengeluh.

Sejumlah sopir juga mengaku terjebak antrian bahkan dari kawasan hutan Cekik, Gilimanuk yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Pelabuhan. “Sudah hampir tiga jam macet. Kendaraan bergerak sangat pelan,” katanya.

Baca juga:  Dikeluhkan, Truk Bongkar Muat Halangi Jalan

Sementara itu, Kanit Lantas Polsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk kepada wartawan mengatakan, antrian kendaraan sudah mulai terjadi sejak Kamis malam. Kepadatan dipicu meningkatnya jumlah kendaraan yang keluar Bali, khususnya kendaraan angkutan logistik.

Diakui, ada lonjakan volume kendaraan, terutama truk logistik yang hendak menyeberang. Bersamaan dengan kendaraan pribadi roda empat. Meski demikian, arus kendaraan kecil maupun sepeda motor masih terpantau lancar dan belum terjadi penumpukan di jalur tersebut.

Baca juga:  Truk Terguling, Lalu Lintas di Bangbang Terganggu Dua Jam

“Untuk kendaraan kecil belum dilakukan kanalisasi di area terminal kargo. Saat ini baru memanfaatkan satu jalur gang di pemukiman sebagai rekayasa sementara,” imbuhnya.

Di sisi lain, aktivitas penyeberangan di lintasan Gilimanuk–Ketapang saat ini sudah menerapkan pola operasi padat. Sekitar 30 armada kapal dikerahkan untuk melayani penyeberangan kendaraan.(Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN