Ogoh-ogoh karya STT Bhuana Kusuma, Banjar Peken, Desa Adat Bualu dalam Badung Caka Festival 2026 di Puspem Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kreativitas pemuda Desa Adat Bualu kembali menorehkan prestasi. Ogoh-ogoh bertajuk “Manutur” garapan ST. Bhuana Kusuma, Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, berhasil meraih Juara II pada ajang Badung Caka Fest 2026.

Karya ogoh-ogoh ini mengangkat kisah Manu, yang dipercaya sebagai manusia pertama yang diciptakan di dunia. Cerita tersebut digarap secara artistik dan sarat makna filosofis tentang hubungan manusia dengan alam semesta.

Konseptor ogoh-ogoh, I Wayan Pradnya Pitala, menjelaskan bahwa ide karya ini lahir dari pemaknaan kata Manutur. “Merujuk pada suatu kata Manutur yang berarti Manu Tan Umenget Ring Sesana. Menggugah daya imajiner konseptor dalam mengembangkan cerita karya sastra Lontar Tutur Agastya Prana, dimana Manu merupakan manusia pertama yang diciptakan di dunia,” ungkapnya.

Baca juga:  Jadwal PKB, Kamis 11 Juli 2019

Ia menuturkan, kisah tersebut juga merujuk pada Lontar Bali Kala Tattwa yang mengisahkan perjalanan Sang Manu ketika memohon tiga langkah petak tanah kepada Sang Hyang Adi Kala, penguasa waktu, untuk dijadikan tempat tinggal.

Permohonan itu dikabulkan. Bahkan Sang Hyang Adi Kala memberikan setengah alam semesta dengan satu syarat, yakni Sang Manu harus mampu menjaga dan merawat alam. Namun ketika Sang Manu melangkah, wilayah yang dikuasainya bukan sekadar tiga petak tanah, melainkan Tri Bhuana Bhur, Bwah, dan Swah Loka. Merasa diperdaya, Sang Hyang Adi Kala pun murka dan menjatuhkan kutukan.

Seiring perjalanan zaman, keturunan Sang Manu justru hidup semaunya dan merusak alam demi kepentingan sesaat. Kutukan Sang Hyang Adi Kala pun perlahan terbukti. Hal ini digambarkan melalui wewangsalan Bali : Be bebek be guling, busan kedek jani ngeling.

Baca juga:  Dari Diduga Setubuhi Anak Pacarnya hingga Tiga Remaja Belasan Tahun Diamankan

Visual ogoh-ogoh menampilkan simbol manusia berbadan naga dan bersayap burung yang mengarah ke kanan dan kiri. Simbol tersebut menggambarkan sifat ego manusia yang enggan mengalah, bertindak seperti binatang, serta merasa lebih tinggi dari yang lain.

Konsekuensinya, alam menjadi murka. Lahar meluap dan gelombang laut dahsyat menerjang. Manusia terus dikejar waktu yang diwujudkan dalam sosok Sang Hyang Kala yang menyeramkan, bertangan enam sebagai simbol kelipatan waktu. Perubahan warna dari cerah menuju gelap melambangkan sekat waktu siang dan malam, termasuk fase Kali Tepet, Sandi Kala, dan Tengah Lemeng.

Baca juga:  Mahayastra Pilih Fokus Pimpin DPC PDIP Gianyar

Pada akhirnya, karya ini mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dikuasai manusia akan kembali pada kehampaan. Semua yang hidup pasti mati, yang senang akan bersedih, dan yang tajam akan menjadi tumpul. Pesan tersebut divisualkan melalui sosok malaikat yang dikelilingi burung dan membawa senjata bertuliskan Ongkara simbol kekosongan. Makna filosofinya sederhana namun mendalam: manusia berasal dari kekosongan dan pada akhirnya akan kembali ke sana.

Keberhasilan ogoh-ogoh Manutur meraih juara II Badung Caka Fest 2026 menjadi bukti bahwa kreativitas sekaa teruna tidak hanya menghadirkan karya artistik, tetapi juga mengangkat nilai spiritual, sastra lontar, serta pesan moral bagi kehidupan manusia. (Parwata/balipost)

BAGIKAN