Buleleng uji coba budidaya tanaman kapas yang akan mendukung pengembangan UMKM kain Endek dan Songket. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pertanian mulai menguji coba budidaya kapas sebagai langkah strategis mendukung arahan Bupati dalam memperkuat sektor UMKM berbasis kearifan lokal. Komoditas ini dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi petani sekaligus menyuplai kebutuhan bahan baku perajin endek dan songket di daerah.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distan KPP) Kabupaten Buleleng, I Gede Melandrat, menjelaskan bahwa kapas dipilih karena menjadi bahan dasar kain endek, salah satu produk unggulan UMKM Buleleng. Selama ini, bahan baku kapas sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah. Melalui uji coba ini, pemerintah ingin memastikan petani lokal mampu memproduksi kapas sendiri sehingga tercipta rantai produksi dari hulu ke hilir.

Baca juga:  BRI UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2021 Raih Marketeers OMNI Brand of the Year

“Kenapa kapas? Karena salah satu UMKM kita ada endek dan songket yang berbahan dasar serat kapas. Kita mencoba melaksanakan arahan Bupati agar budidaya kapas ini mampu memberikan nilai tambah ekonomi di tingkat petani,” jelasnya.

Budidaya kapas saat ini diuji coba di lahan eks hutan kota seluas 5 are. Selain itu, pengembangan juga dilakukan di Desa Julah, Kecamatan Tejakula sebagai bagian dari percontohan hilirisasi. Hasil panen dari hutan kota nantinya akan diolah dan diuji nilai ekonominya di Desa Julah, sebelum diperluas ke sentra UMKM lainnya.

Menurut Melandrat, kapas merupakan tanaman semusim dengan masa tanam sekitar enam bulan hingga panen. Tanaman ini cocok di lahan kering, yang menjadi karakteristik sebagian wilayah Buleleng.

Baca juga:  Dihipnotis, Jero Mangku Kehilangan Perhiasan Emas dan Uang

“Buleleng tidak ada masalah dari sisi lahan, terutama di wilayah timur seperti Kecamatan Kubutambahan dan Tejakula, serta di Gerokgak yang juga memiliki potensi besar. Tantangannya adalah memastikan jenis kapas yang baik serta pemasaran yang jelas agar petani tidak bingung,” tegasnya.

Salah satu persoalan utama sektor pertanian adalah kepastian harga dan pasar. Pemerintah daerah menegaskan bahwa pengembangan kapas tidak hanya berhenti di budidaya, tetapi juga menyiapkan jalur pemasaran yang jelas.
“Kalau petani menanam, kemana harus dijual? Itu yang harus kita siapkan. Pasarnya harus jelas agar petani tidak ragu,” ujar Melandrat.

Saat ini, hasil kapas yang dipanen sudah diproses menjadi pintalan benang secara tradisional di Desa Julah. Proses pemintalan masih menggunakan metode sederhana dan belum masuk tahap modernisasi. Namun, langkah ini menjadi awal penting dalam membangun ekosistem industri tekstil lokal berbasis kapas Buleleng.

Baca juga:  Ini Jadwalnya! Cek Pemeliharaan Jaringan Listrik di Bali pada 3 September 2025

Program ini juga menjadi alternatif budidaya baru bagi petani di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas pertanian lainnya. Dengan siklus panen enam bulan sekali, kapas dinilai dapat memberikan tambahan penghasilan jika dikelola secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan sektor UMKM.

“Pemerintah akan terus melakukan sosialisasi kepada petani terkait kesesuaian lahan dan teknik budidaya yang tepat. Jika hasil uji coba menunjukkan kecocokan dan nilai ekonomi yang menjanjikan, pengembangan akan diperluas secara bertahap,”tutupnya. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN