
DENPASAR, BALIPOST.com – Hari Suci Nyepi Tahun Çaka 1948 dan awal Ramadan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada 19 Maret 2026 menjadi anugerah sekaligus momentum ujian kedewasaan toleransi antarumat beragama di Bali.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Bali, I Gusti Made Sunartha, mengatakan perayaan Nyepi dan Idulfitri tahun ini berpotensi berlangsung berdekatan. Menyikapi hal tersebut, pihaknya mengimbau seluruh umat beragama di Bali untuk saling menghormati dan memperkuat toleransi.
“Kalau dihitung sekarang kemungkinan tidak kena langsung dengan Nyepi untuk perayaan Idulfitri. Tetapi ada kemungkinan takbirannya berdekatan dengan Ngembak Geni,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (20/2).
Menurut Sunartha, kondisi hari raya keagamaan yang waktunya berhimpitan justru menjadi momentum memperkuat toleransi, saling menghormati, serta mempererat persaudaraan antarumat beragama. Ia menegaskan peran tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat penting dalam mengatur pola kehidupan berdampingan agar tetap harmonis.
“Masyarakat Bali selama ini sudah terbiasa hidup berdampingan dengan baik. Momentum ini harus menjadi bentuk kedewasaan dalam kehidupan beragama,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi hari raya yang berdekatan bukan kali pertama terjadi di Bali. Secara umum, hubungan antarumat beragama selama ini berjalan harmonis. Kendati demikian, ia mengingatkan agar potensi gesekan dapat dicegah sejak awal melalui komunikasi dan koordinasi yang intensif antar pihak.
Sunartha juga mengajak media dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif. Isu keagamaan, menurutnya, sangat sensitif dan berpotensi memicu reaksi berantai jika tidak dikelola secara bijak.
“Kalau bisa hal-hal yang dapat diselesaikan secara internal, selesaikan secara damai, dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan baik,” tandasnya.
Sementara itu, menyikapi pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bali telah menggelar Rapat Seruan Bersama, Rabu (18/2).
Rapat ini sebagai langkah strategis memperkuat koordinasi lintas sektor, mengingat terdapat kemungkinan waktu Nyepi berdekatan atau bahkan bersamaan dengan perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi melalui komunikasi intensif dan koordinasi antarlembaga.
Kepala Kesbangpol Bali, Gede Suralaga, menegaskan momentum ini menjadi refleksi nyata komitmen Bali sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama.
Menurutnya, Seruan Bersama tidak hanya mengatur teknis pelaksanaan Nyepi, tetapi juga mengedepankan komunikasi aktif antarumat beragama apabila terdapat irisan waktu dengan perayaan Idulfitri.
“Koordinasi dan musyawarah menjadi kunci utama. Setiap potensi persoalan harus diselesaikan melalui dialog dan kebersamaan,” tegasnya saat dikonfirmasi, Jumat (20/2).
Dalam Rapat Seruan Bersama tersebut, diungkapkan bahwa seluruh peserta sepakat menjaga harmoni sosial serta mengedepankan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.
Diharapkan Hari Suci Nyepi Çaka 1948 dan Idulfitri 1447 Hijriah dapat terlaksana dengan lancar, aman, serta tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan di Bali.
Hadir dalam kegiatan tersebut unsur TNI/Polri, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, perangkat daerah terkait di lingkungan Pemprov Bali, serta majelis-majelis agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali. (Ketut Winata/balipost)










