
DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah sungai di Bali yang mencapai sekitar 391 aliran. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali menilai kebutuhan sistem peringatan dini (sirine) banjir semakin mendesak.
Dengan jumlah sungai yang ada, BPBD memperkirakan setiap kabupaten/kota di Bali membutuhkan minimal 20 unit sirine banjir untuk mengurangi risiko korban jiwa akibat banjir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bali, I Gede Teja, menyebut kerentanan banjir terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk yang bermukim di bantaran sungai. “Di Jembrana saja kebutuhannya sekitar 18 unit. Tabanan juga perlu, Karangasem di luapan Sungai Betel kondisinya mirip dengan Tukad Badung, Gianyar juga. Kerentanannya terus naik,” ujarnya, Selasa (27/1).
Salah satu sirine banjir telah dipasang di kawasan Tukad Badung, Kota Denpasar. Pemasangan ini dilakukan sejak awal Januari 2026, menyusul banjir besar September 2025 lalu yang menelan korban jiwa.
Gede Teja menegaskan, pemasangan sirine bukan bertujuan mencegah banjir, melainkan untuk mengurangi risiko korban. “Sirine ini tidak ada hubungannya dengan mencegah banjir. Fungsinya untuk mengurangi risiko korban. Kalau soal mengurangi banjir, itu urusannya drainase, tata ruang, sampah, tutupan hijau, dan lain-lain,” tegasnya.
Sirine banjir diprioritaskan di bantaran sungai, khususnya wilayah yang terdampak banjir besar sebelumnya. Dengan adanya sistem peringatan dini, masyarakat diharapkan bisa lebih cepat mengevakuasi diri dan menyelamatkan barang berharga saat debit air meningkat.
Sistem sirine bekerja dalam tiga tahapan. Sirine pertama berbunyi saat ketinggian air mencapai 50 sentimeter, sebagai tanda waspada dan imbauan agar masyarakat segera keluar dari area sungai. Sirine kedua aktif saat air menyentuh detektor setinggi 160 sentimeter, menandakan masyarakat harus bersiap melakukan evakuasi mandiri.
Sementara sirine ketiga akan berbunyi berulang saat air meluap hingga 266 sentimeter, menandakan kondisi darurat dan evakuasi harus segera dilakukan.
Pada awal pemasangan, bunyi sirine sempat memicu kepanikan warga karena belum tersosialisasi dengan baik. BPBD Bali pun melakukan sosialisasi intensif dengan mengumpulkan perangkat desa di sekitar enam titik sirine, termasuk pedagang di Pasar Kumbasari yang dilintasi aliran Tukad Badung.
“Ini sirine pertama yang kita punya di Bali. Saat banjir September lalu tidak ada satu pun sirine. Kita pasang di enam titik, tapi karena belum disosialisasikan, ketika air naik sirine langsung bunyi dan masyarakat panik,” jelas Gede Teja.
Meski demikian, BPBD menilai respons cepat masyarakat sebagai hal positif. “Artinya masyarakat tanggap terhadap informasi. Prosedur evakuasinya memang masih perlu diperbaiki dan itu akan kami lakukan lewat sosialisasi. Kami minta semua pihak mendukung, bahkan bila perlu nanti sirinenya kita tambah,” katanya.
Dalam pengembangannya, BPBD Bali memanfaatkan bantuan PLN sebesar Rp200 juta untuk inovasi sirine banjir, mulai dari penyiapan detektor, pemasangan sirine, hingga kegiatan sosialisasi kepada masyarakat. (Ketut Winata/balipost)










