
DENPASAR, BALIPOST.com – Predikat Bali sebagai destinasi wisata terbaik dunia kembali menegaskan posisi Pulau Dewata di peta pariwisata global.
Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menyebut, pengakuan internasional tersebut sekaligus mematahkan asumsi bahwa Bali mulai ditinggalkan wisatawan.
“Ini bukti kuat bahwa Bali tidak ditinggalkan, justru tetap sangat diminati. Pengakuan global, seperti dari Tripadvisor, menunjukkan permintaan wisata ke Bali masih sangat kuat,” ujar Agung Partha, Senin (19/1).
Menurutnya, tantangan pariwisata Bali saat ini bukan terletak pada minat wisatawan, melainkan pada kualitas pengalaman di lapangan. Budaya yang hidup, kekuatan alam, keramahan masyarakat, serta ragam pengalaman mulai dari wellness, kuliner hingga seni, menjadi faktor utama yang membuat wisatawan terus kembali ke Bali.
Predikat destinasi nomor satu dunia juga dinilai berdampak positif terhadap awareness dan kepercayaan wisatawan, terutama wisatawan yang baru pertama kali berkunjung. Namun, Agung Partha menegaskan, dampak tersebut hanya akan maksimal jika diiringi dengan perbaikan tata kelola.
“Label terbaik dunia berpotensi menarik wisatawan quality tourism yang mencari experience dan longer stay. Tapi ini harus diikuti pengelolaan yang lebih rapi dan konsisten,” tegasnya.
Ia menambahkan, sektor hotel, restoran, dan usaha pariwisata lainnya akan mendapat efek promosi yang signifikan. Meski demikian, hasilnya tidak akan optimal jika persoalan klasik seperti kemacetan, kebersihan, kebisingan, transparansi harga, sampah hingga praktik penipuan (scam) tidak segera dibenahi.
Sejumlah tantangan krusial juga disoroti, mulai dari masalah lalu lintas, walkability, pengelolaan lingkungan, hingga penegakan aturan. Agung Partha menilai, pelaku pariwisata perlu menjaga kualitas layanan melalui konsistensi service excellence, standar harga yang jelas, respons cepat terhadap keluhan, serta kolaborasi lintas sektor.
Senada, Guru Besar Pariwisata Unud Bali, Prof. Dr. I Putu Anom, M.Par., di Denpasar mengingatkan agar Bali tidak terlena dengan predikat dunia tersebut. Menurutnya, apresiasi internasional patut disyukuri, namun harus menjadi pemicu percepatan pembenahan.
“Bali harus terus meningkatkan tata kelola dengan cepat menanggulangi masalah-masalah krusial seperti sampah yang belum tertangani dengan baik, kemacetan yang semakin parah, pelanggaran tata ruang dan alih fungsi lahan, kriminalitas, bisnis ilegal, hingga wisatawan mancanegara yang menyalahi izin tinggal,” ujarnya.
Prof. Anom juga menyoroti masalah migrasi penduduk ke Bali yang kian meningkat dan berpotensi menjadi beban. Ia menekankan perlunya kontrol yang jelas terkait izin tinggal dan kepastian pekerjaan agar tidak menambah pengangguran.
Ke depan, BTB Bali menilai keberlanjutan pariwisata Bali sangat bergantung pada transparansi harga, kebersihan dari sumber, manajemen keramaian dan mobilitas, kontrol kebisingan, serta penguatan trust dan akuntabilitas.
“Predikat terbaik dunia adalah peluang besar, tapi juga tanggung jawab besar. Bali harus membuktikan kualitas itu secara nyata dan berkelanjutan,” ucap Agung Partha.(Suardika/balipost)








