NEGARA, BALIPOST.com – Desa Adat Yehembang Kauh kembali menggelar karya Pitra Yadnya Kinembulan lan Atma Wedana Nyekah Massal. Karya Pitra Yadnya ini merupakan agenda rutin setiap dua tahun yang meliputi empat desa adat di Desa Dinas Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo.

Karya Pitra Yadnya lan Atma Wedana Nyekah Massal ini diikuti 71 sawa. Sedangkan untuk ngelungah 53.

Karya ini dilaksanakan sesuai kesepakatan di empat desa adat ditambah perbekel desa dan dilaksanakan setiap dua tahun sekali.

Baca juga:  VIDEO : Ribuan Pil Koplo Diamankan dalam Bus

Bendesa Adat Yehembang Kauh, I Putu Artha mengatakan karya ini bertujuan membantu meringankan beban krama desa di empat desa adat yakni Desa Adat Kedisan, Desa Adat Yehbuah, Desa Adat Munduk Anggrek Kaja dan Desa Adat Yehembang Kauh. Serta krama desa adat diluar Yehembang Kauh untuk mengikuti kinembulan.

Pada karya pitra yadnya tahun ini, juga diikuti krama diluar provinsi Bali, seperti dari Sumatera, Kalimantan dan Lombok. Pelaksanaan yadnya bersama atau kolektif tersebut, sesuai dengan kesepakatan masing-masing pewilet dan kalkulasi biaya, secara gotong royong.

Baca juga:  Desa Adat Yehembang Kauh Gelar Manusa Yadnya Massal

Untuk punia dari masing-masing pemilet diantaranya ngelungah Rp 700 ribu, Nyekah Rp2.750.000 dan memungkah Rp3,6 juta. Dengan tingkatan madya dan dipuput empat sulinggih sarwa sedhaka pada puncak karya.

Puncak karya dimulai pada Kamis, 1 Agustus  hingga meajar-ajar pada Minggu, 4 Agustus 2024. Pelaksanaan ini juga tepat dua tahun penataan Setra Yehembang Kauh pasca diterjang banjir bandang. Meski digenangi air sungai hingga setinggi dua meter dan menghancurkan jembatan, sejumlah bangunan di setra tidak mengalami kerusakan. Seperti Pura Prajapati dan toilet.

Baca juga:  Diduga Akibat Gesekan Dahan, Pohon Beringin Terbakar

Kini setelah penataan dan dibangunnya kembali jembatan Yehembang Kauh, tujuannya mendukung pelaksanaan Karya Pitra Yadnya yang digelar di empat desa adat di Yehembang Kauh. Program ini sejalan dengan program pemerintah provinsi melalui “Nangun Sad Kerthi Loka Bali”, menyokong eksistensi desa adat di Bali. Begitu juga pemerintah desa dan kabupaten ikut mengimplementasikan program tersebut dalam upaya penguatan adat dan budaya. (Surya Dharma/balipost)

Tonton selengkapny di video

BAGIKAN