Sejumlah naker migran asal Karangasem dikarantina di sebuah villa di Desa Tumbu. (BP/Istimewa)

Oleh: GPB Suka Arjawa

Masih belum dapat diprediksi kapan wabah Covid-19 ini akan berakhir. Konon di Jakarta setelah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mampu ditekan peningkatan jumlah kasus. Tetapi di Bali ada model perkembangan baru di mana satu banjar terjangkit sampai delapan kasus yang konon terpapar oleh pekerja migran Indonesia (PMI) yang baru datang dari luar negeri.

Bisa dibayangkan, bagaimana khawatirnya penduduk banjar setempat yang demikian dalam satu kampung terpapar delapan orang. Tidak terlalu jelas, bagaimana interaksi dari masyarakat setempat kepada PMI tersebut, sampai kemudian delapan orang terpapar.

Apakah karena gejala tidak nampak pada dirinya, atau karena sang PMI ‘’berjalan-jalan’’ di kampung karena kangen dengan rekan-rekan atau karena dikunjungi oleh teman-temannya dan kemudian akhirnya terkena virus Corona tipe baru tersebut.

Akhir-akhir ini PMI asal Bali banyak mendapat stigma buruk karena dipandang dapat menyebarkan virus Corona di tempatnya. Stigma yang  sangat disesalkan karena sesungguhnya tidak semua PMI mempunyai potensi untuk menyebarkan virus tersebut.

Tetapi, sebagai sebuah komunitas (kelompok sosial yang mempunyai identitas yang sama), maka sesama PMI harus mampu menghilangkan stigma tersebut melalui ‘’perjuangan’’ yang dilakukan oleh mereka. ‘’Perjuangan’’ ini tidak lain berupa upaya membuktikan diri bahwa tidak semua PMI membawa virus saat pulang kampung, dengan cara sukarela mengarantina dan memeriksakan diri. Pemerintah memang membuat kebijakan untuk mengarantina, tetapi selalu saja ada yang lolos.

Memang ada data yang menyebutkan bahwa peningkatan pesat dari jumlah anggota masyarakat yang positif terkena virus Corona terjadi setelah gelombang PMI ini datang dari luar negeri. Dan itu kemudian diduga yang memicu terjadinya penyebaran secara lokal.

Apa pun latar yang menyebabkan, apakah para PMI ini telah dikarantina, menyelinap, atau memang sengaja menghindari karantina dan pemeriksaan, tetapi faktanya kini telah terjadi fenomena baru terhadap menyebaran virus ini, yaitu penyebaran di banjar. Inilah yang harus diwaspadai oleh masyarakat Bali. Secara sosiologis, penyebaran di banjar mempunyai efek yang paling membahayakan frekuensi penyebarannya.

Yang pertama harus dilihat bahwa ranah yang terkena ini adalah sektor paling dasar dari sistem sosial di Bali, yaitu banjar. Sektor ini bukan sekadar komunitas desa yang menjadi basis dari sistem sosial di Bali tetapi mempunyai ciri dan karakter yang harus diperhatikan terkait dengan penyebaran virus Corona tersebut.

Dari sisi hubungan sosial, interaksi paling ketat, frekuentif dan intensif antaranggota terjadi di wilayah yang namanya banjar ini. Sudah menjadi nilai di dalam banjar itu bahwa keintiman menjadi identitas utamanya.

Di Bali, faktor penyebabnya adalah banyaknya ritual. Dan itulah yang kemudian orang harus dapat memelihara hubungan sosialnya secara intim di banjar karena ritual memerlukan banyak pertolongan, ritual menentukan status. Tanpa adanya keintiman, ritual menjadi hambar.

Jika matulungan identik dengan ritual, maka saling tengok merupakan bagian dari hubungan sosial tingkat kedua. Itulah yang melekat ketika salah satu anggota banjar pergi jauh merantau, meninggalkan waktu yang lama. Dan sebaliknya pada anggota banjar yang baru datang dari perantauan jauh, akan berkunjung ke rumah-rumah tetangga.

Dekade tujuh puluhan sampai delapan puluhan, fenomena ini masih sangat kelihatan dan kentara. Pemuda yang bersekolah di Jawa akan diantarkan oleh sanak banjarnya beramai-ramai untuk berangkat. Dan manakala datang saat liburan, giliran sang perantau inilah yang datang menuju rumah rekan-rekannya sebanjar. Inilah karakter guyub masyarakat Bali (mungkin juga Indonesia) yang paling dasar. Tidak mudah karakter ini berubah, dan masih berlangsung sampai saat ini.

Jika kemudian di sebuah desa sampai ada delapan orang yang terpapar virus Corona dan kemudian secara mengejutkan bertambah banyak seperti yang diberitakan di media massa dan media sosial, bukan tidak mungkin penyebab awalnya adalah karakter intim atau guyub ini.

Bukan tidak mungkin ada rekan yang menjenguk epeh terhadap PMI yang bersangkutan atau PMI bersangkutan yang epeh mendatangi rekan-rekan intimnya di banjar. Tidak salah epeh tetapi menjadi masalah manakala ada penyakit gering gede yang melanda dunia, apalagi kemudian telah ada arah-arah agar mengarantina diri dulu.

Hal lain yang harus diperhatikan, secara organisasi banjar itu ada di bawah desa adat. Artinya, persahabatan antarbanjar tersebut masih intim dan berlanjut sampai ke tingkat desa adat. Dalam sistem sosial Bali tradisional, hampir seluruh anggota banjar akan saling mengenal anggota banjar yang lain di satu desa adat, apalagi yang berbatasan langsung.

Lembaga sekolah dasar yang berada di satu desa adat itu semakin mengakrabkan antaranggota masyarakat di desa adat. Bukti keintiman itu adalah adanya saling pernikahan antaranggota banjar di desa adat tersebut, dan di masa lalu adalah ngejot punjung pada pasangan yang baru menikah dalam satu lingkungan desa adat. Jadi, keintiman ini berlanjut pada desa adat.

Maka, dalam kasus Covid-19 ini, keintiman yang mengandung bahaya tersebut dapat berlanjut kepada desa adat. Artinya meluas ke banjar lain di desa adat tersebut jika anggota masyarakat yang terjangkit virus Corona berinteraksi dengan anggota banjar yang lain. Maka jika ada satu banjar yang sudah terpapar sebanyak delapan orang, adalah benar seluruh warga banjar tersebut diperiksa keterpaparannya.

Karena keintiman itu meluas sampai desa adat, tidak bisa lain seluruh anggota desa adat harus diperiksa keterpaparannya juga. Memang akhirnya merepotkan, tetapi apa boleh buat, itulah harga yang harus dibayar kalau memang lengah terhadap virus yang katanya sangat kenal ‘’pola hidup manusia modern’’.

Solusinya, kurangi keintiman secara sosial tersebut. Ini tidak salah di zaman sekarang. Sekali lagi, Bali telah memiliki kearifan lokal desa, kala, patra. Tidak intim belum tentu tidak bersahabat. Masyarakat harus belajar banyak dari kasus Covid-19 ini bahwa kehadiran fisik tidak harus dipandang sebagai tanda persahabatan sejati.

Kehadiran fisik dalam sebuah persahabatan juga bisa membikin fatal apabila waktunya tidak tepat. Pasti ada waktu yang akan memungkinkan kita dapat melakukan kehadiran fisik di masa mendatang. Tetapi harus dengan formulasi perbaikan berdasarkan pengalaman yang sangat berharga di zaman Covid-19 ini. Mudah-mudahan wabah ini segera berlalu dan masyarakat Bali dapat belajar banyak dari malapetaka ini.

Penulis, staf pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.