SD AMI rutin disemprot disinfektan guna mencegah penyebaran COVID-19. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Meninggalnya Yuri Mauritz Laihad (57) karena sesak nafas sempat membuat geger masyarakat. Pasalnya, sejumlah tim Medis COVID-19 berpakaian APD mendatangi rumahnya di Jalan Raya Sesetan Gang Camar, Denpasar Selatan, Jumat (17/4).

Namun, dari hasil laboratorium RSUP Sanglah menyatakan bahwa Yuri M. Laihad (Alm) negatif COVID-19. Kendati demikian, sejumlah media menyebutkan bahwa almarhum merupakan guru SD Adhi Mekar Indonesia (AMI).

Padahal yang bersangkutan adalah staf Koperasi dan Maintenance AMI. Hal ini sempat membuat khawatir para siswa dan orangtuanya. “Yuri Mauritz Laihad itu bukan guru SD AMI, yang bersangkutan adalah staf koperasi dan maintenance AMI,” ujar Kepala SD AMI, M. Tiwuk Rusmiyati, S.Pd.,M.Pd., Minggu (19/4).

Sebagai Ketua Yayasan Adhi Mekar Indonesia, Budi Pangalela dan Andrew Setya Putra Pangalela selaku Koordinator Pelaksana, mengatakan bahwa pihak yayasan juga peduli terhadap situasi di tengah pandemi COVID-19. Sehingga, pada saat proses kremasi almarhum, seluruh keluarga besar AMI ikut membantu keluarga korban.

Hal ini sebagai bentuk empati AMI kepada karyawannya. Apalagi di tengah pandemi COVID-19.

Sementara itu, dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19 di sekolah AMI, pihaknya telah menerapkan sistem belajar di rumah berbasis daring (online). Sistem ini sudah dijalankan sejak himbauan dari pemerintah agar siswa belajar dari rumah.

Selain itu, setiap hari pihaknya juga melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan sekolah dan kelas. Di samping juga mewajibkan pegawai yang bertugas agar selalu menggunakan masker dan rajin cuci tangan. (Adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.