Salah satu rangkaian karya di Pura Penataran Pande di Banjar Tengah, Desa Blahbatuh. (BP/ist)

GIANYAR, BALIPOST.com – Rangkaian Karya Padudusan Agung, Tawur Balik Sumpah, Numbug Pedagingan, Melaspas, Ngenteg Linggih, Mapeselang lan Pedanan di Pura Penataran Pande di Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, digelar dengan berbagai penyesuaian. Penyesuaian ini dilakukan panitia dan krama setempat demi menjalankan imbauan pemerintah, terutama mengenai physical distancing.

Karya Padudusan Agung yang pertama kali digelar di pura ini diharapkan dapat mengembalikan keharmonisan alam di tengah wabah COVID-19. Manggala karya, Pande Sutawan, Rabu (15/4), mengatakan, karya ini sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. Maka dari itu, krama setempat tetap menyelenggarakan karya meskipun di tengah wabah COVID-19, namun dengan menjalankan berbagai petunjuk yang ada. “Walaupun kini dalam kondisi wabah COVID-19, kita tetap menjalankan anjuran pemerintah berupa pembatasan kerumunan,” katanya.

Rangkaian karya ini dimulai sejak Februari 2020 yakni dengan matur piuning karya dan melaspas alit palinggih. Rangkaian upacara dilanjutkan dengan melasti dan mapakelem di Pantai Saba, yang dilanjutkan dengan upacara mendak siwi pada 29 Maret. “Upacara pakelem menggunakan sarana enam ekor kambing, kerbau dan beberapa binatang berkaki dua seperti angsa bebek dan lainnya,” ujarnya.

Rangkaian dilanjutkan dengan upacara Tawur Balik Sumpah, Melaspas, Numbug Pedagingan lan Pedanan pada 1 April, hingga puncak karya diselenggarakan di Pura Penataran Pande pada 8 April. “Terakhir, kami menyelenggarakan upacara ngeremekin, sida karya, rsi bujana, nuek bagia, nyineb lan mendem bagia pada Senin, 13 April,” katanya.

Krama setempat juga menggelar upacara nyipeng, yakni berupa pelaksanaan nyepi di areal pura. Aktivitas dihentikan seluruhnya selama 24 jam. “Sipeng usai rangkaian upacara ini dilaksanakan dari Selasa pagi 14 April hingga`Rabu pagi 15 April,” jelasnya.

Diakuinya, selama rangkaian karya ini pihaknya cukup terkendala, karena upacara harus dijalankan dengan pembatasan peserta. Meski demikian, dipastikan rangkaian upacara serta sarana yang digunakan tidak ada pengurangan. “Selama rangkaian karya ini jumlah yang bekerja kita batasi, yang hadir juga kita atur,” tegasnya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.