kintamani
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di tengah merebaknya COVID-19, gempabumi ternyata cukup intens mengguncang Bali. Selama periode Maret 2020, Bali diguncang gempa ratusan kali.

Berdasarkan data seismisitas yang berhasil dianalisa Pusat Gempa Regional III Wilayah Bali, NTB, dan NTT tercatat 659 kejadian, dan 11 diantaranya dirasakan. Kejadian-kejadian gempabumi tersebut didominasi gempabumi berkekuatan M < 3 dengan kedalaman dangkal h < 60 km, yaitu 381 kejadian.

Gempabumi yang terjadi tersebut, tidak ada menimbulkan kerusakan dan tidak berpotensi tsunami. Sementara itu, secara nasional gempabumi yang terjadi selama periode Maret 2020 sebanyak 965 kali.

Jumlah ini meningkat dari bulan sebelumnya, Februari lalu sebanyak 779 kali gempa. Gempabumi signifikan (M>5,0) terjadi sebanyak 16 kali. Jumlah ini menurun dari bulan sebelumnya, Februari sebanyak 27 kali.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam siaran persnya, mengatakan selama Maret 2020 aktivitas gempa yang terjadi didominasi oleh aktivitas gempa dengan magnitudo kecil (M<5,0) yang terjadi sebanyak 949 kali. Jumlah gempa kecil ini meningkat dari bulan sebelumnya Februari sebanyak 752 kali.

Baca juga:  Menteri Susi Terbitkan Izin Lokasi Reklamasi Teluk Benoa?

Gempabumi dengan guncangan dirasakan oleh masyarakat terjadi sebanyak 60 kali, jumlah ini menurun dari bulan sebelumnya Februari, sebanyak 76 kali.

Sementara itu, gempa merusak terjadi satu kali, yaitu Gempa Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi dengan kekuatan M=5,1 pada 10 Maret 2020 pukul 17.18.04 WIB. Gempabumi destruktif ini menyebabkan lebih dari 700 bangunan rumah rusak di Kecamatan Kalapanunggal dan sekitarnya. “Selama bulan Maret 2020 wilayah di Indonesia aktif terjadi gempabumi adalah  Aceh, Nias, Lampung, Selat Sunda, Jawa Barat, Bali, Lombok, Sumba, Alor, Kupang, Ambon, Seram, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Laut Maluku, dan Mamberamo Papua,” ungkapnya.

Terkait adanya peningkatan aktivitas gempabumi pada Maret 2020 ini, masyarakat dihimbau agar tetap tenang. Fenomena naik turun atau fluktuasi jumlah aktivitas gempa bulanan semacam ini merupakan hal biasa. “Namun demikian sebaiknya kita tetap waspada mengingat wilayah kita memang merupakan kawasan rawan gempa, sehingga gempa kuat dapat terjadi kapan saja,” pungkasnya. (Winatha/balipost)