Suasana workshop "Pangenter Mabasa Bali." (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ajang “Bulan Bahasa Bali 2020” yang berlangsung di Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, memberikan kesempatan kepada para siswa-siswi SMA/SMK dan mahasiswa di Pulau Dewata untuk belajar dan berlatih menjadi pembawa acara (master of ceremony/MC) berbahasa Bali yang baik dan benar. Tujuannnya untuk menumbuhkan minat generasi muda Bali agar mau belajar bahasa Bali dan juga tidak segan menjadi pembawa acara berbahasa Bali.

Sebab, sejauh ini jumlah pembawa acara di Pulau Dewata yang mampu memandu acara menggunakan bahasa Bali tergolong minim karena dianggap masih cukup sulit. “Untuk kegiatan di instansi pemerintahan yang mengharuskan berbahasa Bali, kami juga cukup sulit mencari MC,” sebutnya Kepala Seksi Inventaris dan Pemeliharaan Dokumentasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Mahesa Yuma Putra dalam acara workshop di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Minggu (16/2).

Baca juga:  Kesadaran Mengawal Bahasa Bali

Padahal melalui Pergub Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Satra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali itu, Gubernur menginginkan penggunaan bahasa Bali bisa lebih meluas.

Melalui kegiatan “Krialoka (workshop) Pangenter Mabasa Bali,” diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman bagi para pelajar untuk diterapkan nanti di lingkungan masing-masing. “Jadi bisa memberikan ilmu bagaimana membawakan acara yang benar dari sisi sikap maupun dalam penggunaan bahasa,” ujarnya.

Krialoka pembawa acara berbahasa Bali disambut antusias oleh para pelajar dan mahasiswa dari sejumlah kabupaten/kota di Bali. Hadir dua narasumber, yakni Ida Ayu Frischa Mahayani (reporter sekaligus redaktur berita berbahasa Bali di LPP RRI Denpasar) dan Tjokorda Istri Priti Mahendradevi (reporter dan presenter LPP TVRI Denpasar). (Winatha/balipost)

BAGIKAN