Sanggar Mudra Kecamatan Petang menampilkan pementasan drama gong di Kalangan Ayodya, Ardha Chandra, Denpasar. (BP/ist)

Oleh Kadek Suartaya

Lebih dari dua dekade, masyarakat Bali kehilangan raja buduh (gila). Sekitar tahun 1980-an, raja yang senantiasa dinanti kehadirannya ini masih eksis di pelosok Bali. Namun menapak tahun 1990-an, raja yang kesintingannya nan menghibur ini entah kabur ke mana.

Ya, figur raja culas dan konyol itu menguap bersama redupnya popularitas teater dramagong. Raja Buduh adalah stock character (karakter tetap) dalam pakem penokohan seni pertunjukan dramagong yang menguak pada tahun 1967 di Desa Abianbase, Gianyar. Kendati diposisikan sebagai tokoh antagonis — jahat dan licik –akan tetapi justru jadi idola penonton.

Di era kejayaannya, para pemain terkenal dramagong bak selebriti sinetron atau film masa kini. Kegandrungan masyarakat terhadap bintang-bintang teater itu bukan hanya pada pemeran protagonis — tokoh utama yang bajik — tetapi juga kepada pelaku lainnya. Selain tokoh Raja Buduh, peran parekan (punakawan) juga tak kalah menterengnya.

Pada awal perkembangan dramagong tahun 1970-an, termasyhur dua punakawan dengan nama panggung Dabdab dan Kiul. Ketika teater ini lebih profesional pada tahun 1980-an, duo punakawan, Dolar dan Petruk, membubung mengocok perut penonton. Begitu melambungnya nama panggung pemeran parekan itu hingga umumnya masyarakat penonton tak tahu nama sebenarnya para seniman dramagong tersebut.

Tentu yang pada umumnya diidolakan penonton adalah pemeran karakter protagonis. Ada dua tokoh yang disebut penonton pemain manis yakni karakter raja atau pangeran muda dan pemeran utama wanita, putri manis. Anak Agung Raka Payadnya dikagumi penonton sebagai Raja Muda tampan teater dramagong tahun 1970-an.

Pada tahun 1980-an, I Wayan Lodra yang fasih dengan tuturan filsafatnya, merasuk di hati penonton. Untuk tokoh putri  manis, kiranya penggemar dramagong di tahun 1980-an hingga awal 1990, sulit melupakan Dewa Ayu Rai yang dielu-elukan penonton dalam perannya membawakan tokoh Sukerti dalam sebuah lakon yang banyak disimak khalayak, baik lewat menonton langsung maupun melalui penyimakan rekaman kaset komersial.

Karakter utama yang disebut raja buduh juga tak kalah heboh di tengah haru biru keseruan pementasan dramagong. Nama I Gede Yudana adalah pemeran Raja Buduh yang malang-melintang hingga menjelang pudarnya pamor kesenian ini.

Penampilan Raja Buduh selalu disertai sepasang punakawan yang juga mendapat cap Parekan Buduh. Raja atau pangeran ini biasanya dikisahkan sebagai pembuat onar atau menghalangi dharma yang ditegakkan oleh Raja Muda. Pada akhir cerita Raja Buduh sadar, kalah, terbunuh akibat dari perilaku adharma-nya sendiri. Kendati zalim, Raja Buduh disukai penonton karena kegilaannya berpadu bahkan dominan dengan dagelan-dagelan yang disambut gelak tawa penonton.

Raja buduh bukan hanya ada dalam teater dramagong. Sebelumnya, dramatari Arja juga memilikinya. Penokohan tetap dalam opera Bali ini juga berposisi antagonis — lawan dari tokoh protagonis. Dramatari Arja menyebut tokoh ini mantri buduh, bisa tokoh raja bisa pula figur pangeran.

Tokoh protagonisnya disebut mantri manis. Masa kejayaan dramatari Arja yang diayomi RRI Denpasar di tahun 1970-an termasyhur dengan pemeran mantri buduh Ni Ketut Ribuwati. Pagelaran Arja yang saat itu bisa berlangsung hingga fajar menyingsing itu disimak dengan penuh setia penonton yang terpesona dengan penampilan Mantri Buduh yang dibawakan Ribu dengan dua pemeran punakawan Sadru dan Monjong.

Seni pertunjukan yang lebih tua seperti dramatari Gambuh dan topeng juga memiliki karakter tetap raja. Raja atau pangeran dalam Gambuh disebut panji (protagonis), prabu keras (antagonis) dan dalam teater topeng disebut Dalem.

Tak ada istilah Prabu Buduh atau Dalem Buduh dalam kedua genre seni pertunjukan klasik tersebut. Sejak kapan dalam dramatari Arja yang bertransformasi dari Gambuh, menggunakan tokoh mantri dengan tambahan buduh (gila), belum ada dirujukan.

Demikian pula muasal sebutan Raja Buduh dalam dramagong, seni pentas yang diduga berembrio dari tari janger ini, belum juga diketahui. Hanya sebutan buduh untuk tokoh raja atau pangeran dalam dramagong ini, kiranya berasosiasi dengan penampilan tokoh ini pada umumnya dikarakterisasikan oleh para pemerannya dengan kegila-gilaan, untuk meraup tawa penonton.

Kemungkinan sebutan mantri buduh dalam Arja dan raja buduh dalam dramagong diberikan oleh masyarakat penonton mengacu kepada pementasan atau lakon fenomenal pada suatu masa. Atau bisa jadi begitu kuatnya cara pembawaan ala gila seorang penari atau aktor terhadap figur raja atau pangeran antagonis.

Arja dengan cerita Sampek sangat masyhur sebelum era kemerdekaan RI. Kisah romantik melankolis yang berasal dari Tiongkok itu memunculkan karakter antagonis bernama Macun, saudagar kaya raya yang akan dinikahkan secara paksa dengan Engtay, kekasih Sampek. Begitu akrabnya penonton dengan lakon ini, hingga dengan latah menyebut Macun untuk karakter antagonisnya walau bertutur cerita Panji, sumber lakon utama dramatari Arja. Namun setelah Arja dengan lakon Sampek pudar, sebutan karakter Macun lambat laun menjadi mantri buduh.

Sebutan Mantri Buduh dalam dramagong bisa jadi pula hadir pada awal perkembangannya. Syahdan, 1970-an, dramagong Abianbase, Gianyar, melejit di seantero Bali dengan lakon Jayaprana. Pementasan itu mengaduk-aduk emosi penonton lewat kisah dibunuhnya Jayaprana yang baru saja menikmati madu cinta perkawinan dengan Layonsari.

Raja Kalianget yang memerintahkan pembunuhan itu kepincut dengan kecantikan Layonsari, digambarkan gila karena gagal memperkosa dambaannya. Adegan gila sang raja dalam dramagong disyukuri penonton.

Lebih-lebih ketika raja diburu dan dibunuh beramai-ramai oleh rakyat, membuat penonton bersorak girang. Mungkinkah sebutan Raja Buduh mengkristal dari pementasan dramagong dengan lakon Jayaprana ini?

Dramatari Arja dan teater rakyat dramagong merupakan dua seni pertunjukan Bali yang setengah abad terakhir ini menjadi bagian dinamika masyarakatnya. Kendati tokoh Raja Buduh digandrungi di atas panggung, tentu secara moral bukan untuk dipanuti dalam kehidupan nyata masyarakat.

Kezaliman yang direpresentasikannya tokoh ini tak berterima dengan prinsip atau ideologi kebaikan dan kebenaran insani beragama masyarakat. Masyarakat penyayang seni, termasuk seni pertunjukan Bali, lebih teredukasi dengan saripati dan siraman moral yang dikisahkan dalam wayang kulit, calonarang, gambuh, topeng, arja, dramagong dan seterusnya.

Evolusi mental masyarakat penonton disemai dengan indahnya tontonan dan sejuknya tuntunan yang dikucurkan jagat seni. Tokoh dan polah Raja Buduh adalah cermin introspektif budi pekerti penanda zaman.

Orang sering berucap sekarang ini zaman edan. Keedanan polah manusia tersebut telah diberi prolog oleh raja buduh dalam dramatari Arja dan teater rakyat dramagong. Gambaran karakter raja atau pangeran dalam kedua seni pertunjukan Bali itu, belakangan ‘’dipentaskan’’ secara empirik di tengah masyarakat Indonesia.

Unsur lucu dan menghibur yang dilakoni raja dan kerajaan baru Nusantara itu tak jauh beda dengan Raja Buduh dramagong. Bahkan kekonyolan, kengawuran, dan kegilaannya melampaui karakterisasi Raja Buduh dunia seni panggung kesenian Bali itu.

Betapa tidak. Jika Raja Buduh dalam Arja atau dramagong, paling-paling hanya mengaku-aku penguasa Koripan, Jenggala, atau Kediri — nama-nama kerajaan dalam cerita Panji, sedangkan halusinasi ‘’raja-raja edan’’ yang pongah memproklamirkan diri sekarang ini lebih gila dari Raja Buduh dalam Arja dan dramagong.

Penulis, pemerhati seni pertunjukan/dosen ISI Denpasar