petani
Ilustrasi

Oleh Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, Sp.KJ.

Bunuh diri menempati urutan ke-10 sebagai penyebab kematian di Amerika Serikat dan penyebab kedua kematian pada anak dan remaja usia 15-24 tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia.

Diperkirakan terdapat 700.000 orang yang bunuh diri tiap tahunnya. Berdasarkan CDC, terdapat 44.965 bunuh diri di Amerika Serikat pada tahun 2016. Meskipun 79 persen kasus kematian akibat bunuh diri terjadi di negara menengah dan miskin, prevalensi kematian terbesar datang dari negara maju.

Bunuh diri dapat terjadi pada semua umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status sosial ekonomi. Laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan wanita. Laki-laki lebih sering menggunakan pistol, menggantung diri, atau lompat dari tempat yang tinggi. Pada laki-laki, puncak bunuh diri setelah usia 45 tahun; pada wanita jumlah terbesar bunuh diri yang berhasil adalah di atas usia 55 tahun. Angka sebesar 40 per 100.000 populasi ditemukan pada laki-laki yang berusia 65 tahun dan lebih. Orang yang hidup sendirian dan tidak pernah menikah memiliki risiko dua kali lipat unutk bunuh diri. Gangguan pada kesehatan fisik juga meningkatkan risiko bunuh diri.

Bunuh diri adalah masalah kesehatan mental masyarakat global. Berbagai model pemberitaan di berbagai media seperti cetak, elektronik, online, berita-berita tentang bunuh diri berdampak negatif dan dapat menyebabkan dorongan bagi seseorang yang sedang dalam masalah kesehatan mental untuk bunuh diri.

Komentar-komentar dari pemberitaan di berbagai media, biasanya menyalahkan lingkungan menjadi penyebab seperti dilarang orangtua pacaran, bertamasya dengan teman, dimarahi orangtua, beban utang, keinginan tidak terpenuhi, gagal dalam ujian, kehamilan yang tidak diharapkan serta masih banyak komentar lainnya. Dampak komentar ini menimbulkan masalah baru pada keluarga penyintas/korban.

Kejadian yang luar biasa bagi keluarga penyintas/korban, akan menimbulkan perasaan bersalah yang akhirnya dapat meningkatkan risiko melakukan bunuh diri. Jika penyintas bunuh diri diwawancara setelah selamat, tidak mengetahui dengan pasti mengapa pikiran dan keinginan bunuh diri bisa timbul dan melakukan tindakan tersebut tanpa memikirkan apakah akan rasa sakit atau nyeri, luka, patah tulang, cacat seumur hidup.

Para penyintas menyatakan tiba-tiba saja semuanya terjadi, baru sadar saat sudah di ruangan gawat darurat. Apakah para penyintas dalam keadaan trance? Hampir semua orang pernah merasakan perasaan putus asa dan ingin mengakhiri hidup, walaupun masalah yang sedang dihadapi masalah kehidupan sehari-hari yang sudah sering dialami.

Keadaan tersebut biasanya hanya muncul sesaat dalam perasaan setiap orang. Biasanya muncul saat masa remaja saat perubahan hormonal yang dialami oleh semua orang, disertai masa-masa mencari aktualisasi diri.

Baca juga:  Depresi, Tahanan Polres Ngamuk

Terdapat beberapa keadaan yang menimbulkan dorongan kuat untuk seseorang melakukan tindakan bunuh diri antara lain gangguan depresif, penyalahgunaan zat narkotika, skizorenia/gangguan psikotik, dan gangguan mental lainnya.

Seseorang yang mengalami gangguan depresi berat, ditandai dengan perasaan lelah, kehilangan minat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, merasa tidak berguna, merasa gagal dalam hidup dan ingin mengakhiri hidup. Gangguan depresi dapat disertai dengan dorongan-dorongan negatif dari dalam suara-suara dalam pikiran, perasaan atau langsung terdengar di telinga walaupun tidak ada sumber suara tersebut.

Berbagai faktor dapat memicu timbulnya gangguan depresi, antara lain dari sekitar kehidupan seseorang, masalah komunikasi dalam keluarga, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, sosial ekonomi, pendidikan. Penyebab secara biologis dari hormon-hormon dalam tubuh antara lain terganggu regulasi zat yodium dari kelenjar tiroid/gondok,  hormon seksual pada perempuan seperti estrogen dan progesteron (saat kehamilan, melahirkan, menopause), teganggunya regulasi neurotransmiter seperti serotonin.

Gangguan  lain yang dapat menimbulkan tidakan bunuh diri adalah gangguan psikotik dan skizoprenia, pada kedua gangguan jiwa yang bertaraf sedang sampai berat ini disertai dengan tanda dan gejala antara lain, sulit tidur, menyendiri, tidak mau keluar rumah/kamar, bicara bicara sendiri, bingung, memiliki keyakinan yang salah bahwa dirinya seorang yang tidak berguna, penuh dosa, kotor, sampah, tidak diharapkan. Mendengar suara-suara di telinga dan atau pikiran yang mengatakan, ‘’mati mati saja kamu tidak berguna’’, penuh dosa, manusia gagal, dunia akan kiamat, runtuh.

Bunuh diri dapat dicegah dengan menggabungkan pendidikan kesehatan  mental keluarga, mulai sejak memulai kehidupan perkawinan yang sehat, anak-anak yang diharapkan kelahirannya, diberi pengasuhan dan pendidikan sesuai umur dengan keseimbangan fisik, mental dan spiritual. Faktor lingkungan memulai hidup kembali ke alam dengan memaksimalkan potensi alam, termasuk mengurangi penggunaan pestisida.

Meregulasi peraturan pemberitaan di media cetak, elektonik dan online agar tidak memberitakan secara terinci serta gambar-gambar foto atau video saat peristiwa beserta korban, apalagi narasi berdasarkan wawancara dari penyintas bunuh diri. Kesadaran kesehatan mental sejak dini sangat penting untuk membantu seseorang ketika mengalami stres. Harapannya orang lebih bisa mengontrol stres, mampu beradaptasi dalam suatu hubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan.

Selain itu, kondisi mental yang sehat juga bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan, sekolah maupun pola pengasuhan. Terdapat beberapa cara meningkatkan kesehatan mental Anda setiap harinya. Mulailah dari hal kecil seperti olahraga, konsumsi makanan sehat yang seimbang, istirahat cukup, dan tidur malam yang baik.

Berkonsultasilah segera ke ahli kedokteran jiwa atau psikiater untuk konsultasi dan penanganan gangguan jika Anda memiliki gejala tersebut dan berkeinginan untuk bunuh diri. Cegah bunuh diri dan gangguan jiwa dengan pengasuhan penuh cinta.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.