DENPASAR, BALIPOST.com – Ritual Homa Yadnya Bali Kuno digelar di Lapangan Niti Mandala, Bajra Sandhi, Sabtu (12/1). Kegiatan ini menjadi salah satu upacara dalam Nangluk Bhaya (Marbu Bhumi) Mahayu Ayuning Bhuwana untuk ngrastitiang Jagat Kertih, Jana Kertih, dan Niti Praja Santi.

Ritual Homa Yadnya Bali Kuno ini dibangkitkan oleh Sangga Budhaireng. Sangga Budhaireng merupakan perkumpulan para yogi. Namun, keberadaan dan ajaran Sangga Budhaireng yang dipimpin Guru Kresna Dwaja ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Padahal, ajarannya sangat sarat dengan peradaban dan budaya Leluhur Kuno Nusantara. Ajarannya sangat penting dalam proses upacara yadnya di Bali.

Pengarah Homa Yadnya Bali Mula, Guru Kresna Dwaja saat ditemui di lokasi upacara, mengatakan Homa Yadnya Bali Kuno merupakan awal dari segala-galanya, baik penciptaan alam semesta. Sehingga, simbol-simbol yang dimunculkan dalam ritual Homa Yadnya Bali Kuno merupakan simbol alam semesta, baik dari bawah, yaitu Asta Dala yang merupakan 8 penjuru mata angin maupun atas, yaitu Catur sebagai penguat manusia dan kehidupan.

Sedangkan paling atas menggunakan Mahkota dari Pohon Pudak. Merupakan lambang yang mampu masuk ke wilayah Siwa, Budha Ksetra ketika menerima letupan energi dari bawah.

“Ritual Homa ini bersumber dari ajaran Waishnawa yang menjadi induk dari Kareshian Budha, Bujangga dan Siwa. Air yang dipetik dari inti api Homa Bali Kuno itu, yang akan dipakai penyucian pada caru yang merupakan pembangkitan diva rupa, oleh para Manggala, para Brahma Rsi dan para peserta yang berlandaskan Yoga Sapta Samadhi. Sehingga Homa atau pembangkitan energi ini digunakan untuk formulasi dari Bhuta menuju Dewa,” ujar Guru Kresna Dwaja, Sabtu (12/1).

Dijelaskan, dari seluruh energi Homa yang bangkit dalam caru melahirkan 3 hal. Yaitu, Whyaaka yang merupakan segala bentuk spiritualitas dan wujud segala agama, Nirakara yang memunculkan seluruh energi apapun yang ada di alam semesta ini, dan Sakara, yaitu lahir seluruh puja mantra dan aksara-aksara suci. “Oleh karena itu, boleh dikatakan seluruh panca yadnya kita berasal dari proses ini (Homa Yadnya, red),” tandasnya.

Baca juga:  TNBB Terbaik se-Asia Pasifik

Oleh karena itu, dikatakan bahwa tirta (air suci) yang lahir dari proses ritual Homa Yadnya Bali Kuno ini diberikan kepada para Sulinggih yang memuput upacara Yadnya. Sebab, tirta “Pawitra” ini bangkit dari ritual Homa, dimana tirta ini lahir dari api yang tidak tercemar oleh polusi. “Air dari apilah yang tidak terkena polusi, maka dari itu Homa Yadnya ini melahirkan tirta yang tidak terkena polusi, sehingga air (tirta-red) inilah yang digunakan untuk penyucian seluruh yadnya,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, dasar seluruh aspek yang digunakan oleh para praktisi dan para umat adalah Tantra. Sebab, Tantra merupakan energi jenius atau energi murni dari alam semesta.

Keberadaannya sangat jauh dalam maha kesadaran bathin umat peserta. Di Bali ada 3 jenis Tantra. Untuk di perkotaan disebut dengan Tantra Kala Cakra, di Gunung disebut Tantra Yamantaka, dan di perairan disebut Tantra Heruka. Sementara aplikasi Tantra ada 3, yaitu Sakti, Suci dan Diatmika (Wisesa).

Selain itu, dikatakan bahwa para praktisinya yang tergabung dalam Sangga Budhaireng tidak terjebak oleh aturan kepanditaan saat ini. Sebab, mereka adalah pandita jnana (Vajradhaka).

Sehingga ajarannnya kembali kepada ajaran kuno. “Kereshian Bali Kuno ada 3, yaitu Kabujanggaan yang memimpin upacara bhuta yadnya, Kabudhaan yang mengajarkan ahlak dan budi pekerti, serta Kasiwaan yang mengerti betul tentang planet dan rahasia hidup di dalamnya. Melalui ajaran dasar Homa ini kami ingin membangkitkan kembali ajaran kuno Nusantara,” tandasnya.

Ketua Harian Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, tidak mempermasalahkan adanya berbagai aliran atau ajaran di Bali. Asalkan dalam pelaksanaannya sesuai dengan ajaran agama dan dilakukan dengan tulus ikhlas.

Menurutnya, meskipun keberadaan Sangga Budhaireng tidak terikat oleh pakem PHDI, namun keberadaan menjadikan keberagaman ajaran yang ada di Bali. Apalagi, keberadaan Sangga Budhaireng sangat mulia yaitu membangkitkan kembali ajaran-ajaran Bali Mula yang merupakan ajaran leluhur di era modernisasi seperti saat ini. (Winatha/balipost)

2 KOMENTAR

  1. Ritual Homa atau Agni Hotra itu bukan dari tradisi Waisnawa. Jauh sebelum Waisnawa, Buddha, dan Siwa Sidhanta muncul ritual ini sudah ada pd jaman Rig.Weda. lalu soal Sangga ini perlu kajian lagi. Sangga yg dimaksud ini Sangga sebagai apa? Apa kah sebagai Sangh4a ? Karena Sangha adalah persaudaraan suci para bhiku. Dan ada 3 Sangha saat ini. Yaitu Sangha Therawada/Hinayana ( tradisi sesepuh) atau Sangha Mahayana ( Kendaraan besar ) yang tergabung dalam Federasi Sangha sedunia /World Federation Buddhist Sangha Council ( WFBSC ) dan di Indonesia, dewan sangha ini disebut Konfrensi Sangha Agung Indonesia ( KASI ) yg juga anggota WFBSC. Sangga Budha ireng ini masuk ke Sangha mana ? Apa Sangha Therawada? Sangha Mahayana? Atau Sangha Tantrayana ?
    Tiga jenis Tantra yang dimaksud oleh Kresna Dwaja Kalacakra dikota, Yamantaka di gunung, Heruka diperairan ini dasarnya dari mana?
    Lalu istilah Pandita Vajradhaka itu bagaimana? Karena menurut kitab lontar Sang Hyang Kamahayanikan itu disebut klo Vajradhaka itu adalah air nektar ambrosia.
    Lalu silsilah aguron guron Tantra dari Kresna Dwaja ini dari mana ?
    Saya sebagai anggota WALUBI ( Perwalian Umat Buddha Indonesia ) meminta klarifikasi dari berita ini. Agar tidak terjadi kesalah pengertian bagi umat buddha di Indonesia. Terima kasih

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.