Ilustrasi. (BP/dok)

Jangan pernah menaruh telur dalam satu keranjang. Jika keranjang itu jatuh, maka pecahlah semua. Begitulah pepatah yang selalu mengingatkan kita agar tidak selalu bergantung pada satu sektor. Begitulah semestinya Bali. Hal ini senantiasa diingatkan. Bali tidak mesti bergantung pada satu sektor yang selama ini memang berhasil yakni pariwisata. Mesti ada sektor-sektor lain yang dikembangkan secara serius.

Pertanian jangan dilupakan. Memang ada kesan kuat ketika Bali memilih jalan pariwisata maka pertanian dikesampingkan. Ini bukan lagi kesan tetapi fakta yang tak bisa diganggu gugat. Banyak indikator yang mendukung simpulan ini. Alih fungsi lahan, banyaknya subak yang terbengkalai, animo anak muda yang tidak lagi melirik pertanian dan sebagainya.

Fenomena ini mesti segera disikapi secara serius oleh pemerintah. Tidak bisa tidak, sinergisitas antara banyak sektor harus dilakukan. Kalau tidak maka akan jalan sendiri-sendiri yang hasilnya tidak optimal.

Sektor pertanian saat ini bukan masa lalu yang hanya dikenang. Sektor agraris bukan pula hanya tempelan pariwisata. Ini harus dikerjakan lagi secara sungguh-sungguh. Swasembada pangan bukan lagi impian.

Pertanian bukan hanya beras, tetapi dalam arti luas, perkebunan serta perikanan. Mari kita berikan ruang dan waktu serta dana yang cukup untuk mengembangkan hal ini. Libatkan semua pihak yang berkompeten. Rapatkan langkah agar tujuan ini benar-benar berhasil.

Tidak selamanya pariwisata menjanjikan walau faktanya sampai saat ini memang sektor ini sebagai soko gurunya. Harus ada alternatif lain. Sektor ini sangat rentan dengan isu keamanan. Walau ingin diversifikasi, di sisi lain kita juga mesti membangun pariwisata dengan lebih baik lagi.

Baca juga:  Sukseskan Swasembada Bawang Putih 2019, Tabanan Terima Program Hortikultura 

Mengedepankan budaya serta lingkungan merupakan isu utama dunia yang mesti dicermati. Promosi secara besar-besaran tanpa arah yang pasti akan memboroskan anggaran. Pilih pasar potensial dan kembangkan dengan baik.

Kita tidak bisa mengambil semua porsi karena semua negara juga berlaku sama. Pariwisata adalah masa depan, tetapi bukan berarti juga sektor lain sebagai masa lalu. Membangun pariwisata tanpa merusak lingkungan dan budaya merupakan sebuah amanat.

Yang jelas, ke depan harus ada sinergi dalam pengembangan sektor pariwisata dan pertanian. Bagi Bali, hal ini tentu belum terlambat asal ada niat dan rencana aksi yang jelas. Bali hendaknya segera melakukan pemetaan potensi pariwisata dan daya dukungnya.

Di sisi lain, Bali juga harus memastikan ada kawasan pertanian yang tetap terjaga. Ketika laju penduduk makin pesat di Bali, maka satu hal penting yang harus dipastikan adalah tersedianya cadangan pangan yang memadai. Bali tentu tak boleh abai dalam hal ini terlebih pertaian merupakan akar budaya krama Bali. Bali harus dijaga. Bali juga tetap harus melakukan diversifikasi dalam pengembangan potensi untuk menjaga ketahanan ekonomi krama Bali.

Membangun kesetaraan dalam pengembangan potensi pariwisata dan pertanian tentu membutuhkan komitmen dan langkah nyata. Pada era baru Bali ini –- di bawah kepemimpinan Wayan Koster dan Cok Ace — harapan itu bisa dijalankan. Setidaknya program strategis pembangunan Bali untuk menuju kesinambungan adat, budaya, dan alam Bali bisa terjamin. Mari membangun ketahanan ekonomi Bali tanpa harus mengorbankan sektor pertanian di Bali.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.