Pekerja saat mewarnai kerajian dari kayu. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Persaingan yang semakin ketat membuat para perajin semakin sulit untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan yang dibuatnya. Tak pelak membuat orderan atau pesanan yang diperoleh pun semakin menurun. Hal itu dirasakan salah seorang perajin souvenir di Banjar Serokadan, Desa Abuan, Susut, Bangli I Dewa Made Alit.

Menurut Dewa Alit, dirinya sudah menggeluti kerajian souvenir seperti gantungan kunci, ikan-ikanan, pensil, magnet, tempat buah dan yang lainnya sejak tahun 1995 silam. Untuk memasarkan hasil kerajinan yang dibuatnya ini selain di Bali dirinya juga menjual kerajinannya ke negara luar seperti Maladewa, Mesir, Amerika dan negar lainnya. Hanya saja, sejak tahun 2014 orderan yang datang terus mengalami menurun yang cukup signifikan. Hal itu dipicu lantaran minat masyarakat dengan kerajian sangat rendah, dan yang paling mempengaruhi adalah persaingan yang semakin ketat.

“Punurunan orderan hingga 50 persen. Disamping minat masyarakat terhadap kerajinan kian rendah, ketatnya persaingan yang datang dari negara luar seperti Thailand, Cina dan negara yang lainnya juga menjadi pemicunya,” katanya Senin (18/6).

Baca juga:  Orderan Sanggah Lesu Ditengah Persaingan Yang Ketat

Harga kerajinan dari negara tersebut jauh lebih murah ketimbang harga kerajian kita. Disamping itu juga mungkin disebabkan karena upah tenaga kerja lebih murah, pemerintah juga mendukung serta tenaga kerja di negara tersebut mendapatkan subsidi,” ujarnya.

Dikatakannya, dalam pembuatan kerajinan itu dirinya masih memakai cara manual dan memakai kayu lokal yakni albesia. Kata dia, untuk harga kayu albesia sekarang ini sangat mahal. Kayu albesia memiliki dua fungsi yakni untuk bangunan rumah dan kerajinan. Selain harga kayu yang melambung tinggi, harga kebutuhan lainnya seperti cat juga mahal.

Disinggung jumlah tenaga kerja yang membuat kerajinan ini, Dewa Alit menegaskan, jika sebelumnya sampai ratusan pekerja untuk mengerjakan orderan kerajinan ini. Hanya saja, seiring berjalannya waktu kini tinggal puluhan pekerja saja yang amsih bertahan. Itupun semua pekerja merupakan kerabat dekat.

“Kerajinan yang dikerjakan mencapai ribuan. Itu sesuai dengan pesanan. Untuk pengiriman biasanya dilakukan dua bulan sekali sebanyak satu truk kontainer,” tegasnya.(eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.