ZHOUSHAN, BALIPOST.com – Tanah suci umat Buddha di Tiongkok ini disebut Gunung Putuo (Putuoshan). Pasalnya, disini terdapat 43 kuil Buddha. Setiap harinya, ada ribuan orang yang datang ke pulau ini untuk bersembahyang.

Kuil pertama yang dibuat di Putuo adalah kuil untuk memuja Dewi Guanyin (Dewi Kwan Im) bernama “Bukenqu”. Artinya, Dewi Kwan Im tidak mau pergi. Ini tidak lepas dari sejarah Pulau Putuo disebut tanah sucinya Umat Buddha.

Menurut pemandu setempat, pada jaman dahulu kala, ada seorang biksu dari Jepang datang ke Ningbo untuk memperdalam pengetahuan agama Buddha. Saat akan kembali ke Fujiyama (Jepang) menaiki perahu, sang biksu juga membawa patung Dewi Kwan Im dari Ningbo.

Namun, gelombang besar terjadi saat dirinya sampai di Pulau Putuo. Patung Dewi Kwan Im lantas diletakkan di sebuah goa, yang merupakan rumah seorang nelayan.

Rumah nelayan inilah yang kemudian menjadi Bukenqu. Kuil pertama sudah rusak dan dibangun kembali tahun 2001 dengan kucuran dana dari Jepang.

Sedikitnya, ada 37 kuil di Jepang juga menyumbangkan masing-masing sebuah patung untuk ditempatkan disana. Negeri Sakura turut membantu dalam pembangunan kuil lantaran merasa memiliki ikatan dengan tempat suci itu. Sementara patung Dewi Kwan Im yang hendak dibawa biksu ke Jepang itu kini ditempatkan di Kuil Puji, kuil terbesar di Pulau Putuo.

Cerita lain yang tersimpan di pulau ini, adalah tentang seorang biksu dari India yang ingin bertemu Dewi Kwan Im. Lantaran Dewi Kwan Im tak kunjung menampakkan diri setelah 3 hari bersembahyang, biksu tersebut lantas mengorbankan diri. Yakni dengan membakar jarinya supaya bisa bertemu Dewi Kwan Im.

Baca juga:  Drama Tari Kupu-kupu Carum, Kisahkan Abimanyu yang Digoda Saat Bertapa

Biksu tersebut pingsan setelah jarinya terbakar. Dalam kondisi tidak sadar itulah, justru dirinya bertemu Dewi Kwan Im yang kemudian memberi ajaran untuk tidak mengorbankan diri seperti itu.

Bunuh diri ataupun hanya membakar jari merupakan sebuah tindakan yang salah. Dewi Kwan Im hanya menampakkan diri pada orang yang memiliki hati tulus dan menaati semua ajarannya. Ketika sang biksu sadar, jarinya yang terbakar tampak utuh kembali.

Kendati sudah diberikan ajaran seperti itu, namun masih banyak masyarakat yang mengorbankan diri untuk bertemu Dewi Kwan Im. Sampai-sampai pejabat tinggi setempat membuat larangan berupa peraturan agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang sebetulnya dilarang itu.

Di Pulau Putuo, Dewi Kwan Im juga dipuja melalui sebuah patung raksasa setinggi 33 meter. Patung yang menggunakan 70 ton perunggu ini mulai dibangun 1995 dan selesai pada 29 November 1997.

Di bawah patung, ada sebuah kuil dengan 500an patung Dewi Kwan Im. Sejak ada patung raksasa Dewi Kwan Im, Pulau Putuo khususnya, tidak pernah lagi diserang bencana angin topan. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.