Jokowi bersama pemimpin negara-negara anggota Asean dan Australia. (BP/ist)

SYDNEY, BALIPOST.com – Presiden Joko Widodo mengapresiasi kerjasama Australia dalam penanggulangan terorisme yang sampai saat ini masih menjadi ancaman kawasan Indo-Pasifik. Dia menjelaskan, pendekatan keras saja tidak cukup untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme.

Perlu diimbangi dengan pendekatan lunak. Jokowi mengatakan bahwa Indonesia memandang kapasitas preventif sebagai upaya yang penting. Menurutnya kegagalan pencegahan tidak saja dapat menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian besar lainnya, namun juga memicu reaksi eksesif yang tidak perlu terjadi. Oleh karena itu, kerja sama pengembangan kapasitas pencegahan terjadinya serangan perlu terus ditingkatkan.

Selain itu, khusus untuk kontra-radikalisasi, Jokowi menyoroti pentingnya pelibatan para anak muda millennial. Menurutnya, para anak muda ini telah menjadi “duta-damai” yang efektif karena mereka menggunakan bahasa yang dipahami oleh generasinya.

Jokowi juga membagi pengalaman mengenai upaya deradikalisasi dan kontra radikalisasi di Indonesia yang disebutnya out of the box. Ia memberikan contoh pelibatan para mantan narapidana terorisme yang sudah insyaf dalam upaya mencegah membesarnya ancaman radikalisme dan terorisme.

Para mantan narapidana teroris tersebut disebutnya berkontribusi kepada pemerintah dalam menyebarluaskan nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Mereka dianggap telah menjadi agen penyebaran toleransi dan nilai perdamaian. Dengan bantuan para mantan narapidana ini keluarga dan lingkungan mereka justru lebih mudah diubah menjadi lingkungan yang toleran dan damai.

Dua organisasi Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah juga disebut bekerjasama dan sangat membantu pemerintah dalam kapasistas preventif, menyebarkan nilai toleransi dan perdamaian. “Saya mengapresiasi Australia atas upaya memajukan kerja sama counter-terrorism dengan ASEAN,” ucapnya pada Sidang Pleno KTT Istimewa ASEAN-Australia, Minggu (18/3).

Baca juga:  Ibunda Jokowi Ziarahi Makam Bung Karno

Kerja sama dibidang penanggulangan terorisme menurutnya menjadi perhatian semua negara. Mengingat sampai saat ini ancaman terorisme tidak berkurang. Jokowi sangat menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman “ASEAN-Australia Memorandum of Understanding (MoU) on Cooperation to Counter International Terrorism”.

Nota kesepahaman ini akan menjadi penguat upaya memerangi ancaman terorisme. “Dari observasi saya, MoU ini menekankan keseimbangan antara pendekatan keras dan lunak,” jelas Jokowi.

Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi dan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop telah menandatangani ASEAN-Australia MoU on Cooperation to Counter International Terrorism disaksikan oleh 10 kepala negara anggota ASEAN dan Perdana Menteri Australia Malcom Turnbull pada Sabtu (17/3).

Nota kesepahaman tersebut meliputi penguatan upaya regional untuk melawan aktivitas teroris, aset dan pendanaan. Langkah-langkah ini akan memperkuat respon regional terhadap ancaman terhadap stabilitas, dan keamanan indo-pasifik. Diantaranya melalui bantuan teknis untuk mengembangkan dan menerapkan undang-undang anti-terorisme yang sesuai dengan standar internasional dan penerapannya.

Serangkaian dialog dan forum regional dengan mitra penegakan hukum ASEAN dan Australia, yang ditujukan untuk memerangi ancaman teroris terarah ISIL; pelatihan dan pendidikan bagi mitra penegakan hukum tentang pemberdayaan teknologi dalam mendeteksi dan mengganggu aktivitas teroris. Lokakarya kontra-terorisme dan asing untuk pejabat keamanan perbatasan ASEAN serta serangkaian kursus dan program untuk analis intelijen keuangan di seluruh Australia dan ASEAN. (Satria Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.