Suasana pelaksanaan ritual Napak Pusaka Keris di Pura Prapat Agung, Jembrana. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Kemunculan sebuah benda pusaka berupa keris kecil tanpa pati (pegangan) di sekitar Payogan Pura Dang Kahyangan Prapat Agung di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) tahun 2012, lalu masih mengundang misteri. Keberadaan Pusaka Keris bergambar naga di kedua sisi tersebut, Sabtu (17/2) dikupas dalam Seminar “Munculnya Pusaka (Keris) di Payogan Pura Dang Kahyangan Prapat Agung” di Utama Mandala Pura setempat.

Seminar yang diselenggarakan oleh Pengempon Pura Dang Kahyangan Prapat Agung menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya Marsekal TNI (Purn) IB. Putu Dunia, IB. Sudiksa, IB. Rai Putra dan IB. Susrama dengan moderator IB. Suamba Bhayangkara. Menurut Marsekal TNI (Purn) IB. Putu Dunia, keris merupakan senjata, ada senjata berarti ada ancaman. Jika dihubungkan dengan Ida Dang Hyang Nirartha, berarti ada yang mengancam peninggalan-Nya. “Peninggalan beliau (Ida Dang Hyang Nirartha, red) apa, yaitu Ajaran Hindu Bali,” kata mantan Kepala Staf Angkatan Udara ini.

Lebih jauh Dunia menyebutkan, persepsi ini harus dipertahankan, mengingatkan kita bahwa ada satu ancaman terhadap Hindu di Bali. “Ini bisa sebagai ancaman, tantangan, gangguan atau hambatan,” sebut Dunia.

Untuk itu menurut Dunia, umat Hindu harus berbenah dengan meningkatkan ilmu pengetahuan tentang ajaran-ajaran Ida Dang Hyang Nirartha sehingga mampu mengajegkan Agama Hindu Bali.

Sementara itu Ketua Panitia Seminar yang juga Kelihan Pengempon Pura Dang Kahyangan Prapat Agung IB. Susrama mengatakan, seminar ini digelar juga untuk lebih meningkatkan penyebarluasan keberadaan Pura Dang Kahyangan Prapat Agung kepada umat Hindu se-Bali dan Nusantara yang belum mengetahui keberadaan peninggalan Ida Dang Hyang Dwi Jendra. “kami tidak membatasi jumlah peserta, akan tetapi yang jelas kami mengundang dari kalangan akademisi, spiritual dan Ida Pedanda se-Bali Nusantara untuk memohon tuntunan,” pungkas Susrama.

Seminar diakhiri dengan upacara memohon anugerah dengan ritual Napak Pusaka Keris dan menempatkan kembali pada Palinggih Gedong.

Kemunculan keris berpahatkan naga di kedua sisinya ini merupakan salah satu kejadian aneh yang muncul di Pura Prapat Agung. Mulai dari bergetarnya tanah sekitar Pura (Gunung Prapat Agung), sumur suci di atas batu karang sempat keluar air dan sering dilihatnya sinar berkelebat di areal pura.

Baca juga:  Beras Merah Cendana Segera Miliki Spesies Baru

Kemunculan

Berdasarkan catatan, kemunculan keris di petilasan Dhanghyang Dwijendra terjadi pada Tilem, Minggu, 20 Mei 2012. Sebilah keris ditemukan di Utara Pelingih Payogan, Prapat Agung oleh Dewa Kade Suama.

Pria asal Banjar Anyar, Desa Batuagung ini sekitar pukul 09.00 Wita, mendapatkan keris saat melakukan rutinitas membersihkan sampah sisa pemedek yang tangkil sembahyang. Tepatnya, di halaman belakang pelingih payogan. Ujung cangkul yang dipakai membersihkan halaman, mengenai sebuah benda.

Setelah diamati ternyata benda itu sebilah keris tanpa gagang. Keris yang tadinya posisinya rebah, tiba-tiba berdiri. Dan saat itu, keris langsung diambil dan diletakkan di kepalanya.

Sebelum kemunculan keris tersebut, di seputaran pura sempat terasa hal yang aneh. Mulai dari tanah bergetar serta bau harum semerbak berturut-turut selama tiga hari.

Menurut pemangku Pura Prapat Agung, Ida Bagus Suanda, saat itu dirinya diberitahu oleh sejumlah pekerja bangunan bale pesandekan Pedanda, bahwa tukang sapu (Dewa Suama) kerauhan. Saat dilihat, tukang sapu berguling-guling di tanah, sambil menari-nari seperti harimau dan ular.

Usai disuguhi sesajen, keris berukuran sekitar satu jengkal yang bercahaya keemasan diambil dari atas kepala orang yang kerauhan itu. Setelah itu, keris distanakan di pelingih Payogan dan yang kerahuan berangsur-angsur sadar.

Suanda juga menjelaskan, sebelum keris ditemukan, sebelumnya sempat ada rombongan pemedek, sebanyak 10 bus dari Gianyar yang ngaturang bakti. Mereka juga mengaku mencium bau harum semerbak.

Munculnya keris di payogan Parapat Agung disikapi dengan digelarnya upacara pemendak (penyambutan), penyucian bersama krama pengurus yayasan dan pengempon. Serta berlanjut dengan ritual pakemitan selama satu bulan tujuh hari. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.