tawan
Wayan Sumardana alias Tawan saat ditemui di lokasi bengkelnya di Banjar Dinas Tauman, Desa Nyuh Tebel, Kecamatan Manggis. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Masih ingat dengan Tawan si tangan robot? Setelah sempat jadi kontroversi dengan hasil karya tangan robotiknya, banyak kalangan menilai Tawan akan mampu berkembang dengan karya-karya lainnya. Tetapi, setelah dua tahun berlalu sejak sosoknya jadi sorotan, nasibnya kini justru memprihatinkan. Usaha bengkelnya tempat mencari nafkah sehari-hari, kini justru bangkrut. Bahkan kini, dia pun bingung harus tinggal dimana, setelah masa kontrak tempat usaha bengkelnya juga sudah berakhir.

Papan kecil bertuliskan “Kontrak Habis+Bangkrut” di depan gerbang bengkelnya banyak mengagetkan warga sekitar. Sebab, setelah dikenal dengan hasil karya tangan robotnya, tempat usahanya waktu itu banjir pesanan. Pelanggannya pun makin banyak dan beragam, hingga ke kalangan pengusaha pariwisata baik hotel dan restoran di sekitar Candidasa, ikut memanfaatkan jasanya.

“Saat itu, sudah bisa lancar bayar cicilan hutang di bank. Penghasilan bersih setiap bulan rata-rata mencapai Rp 1 juta,” kata Tawan, saat ditemui di tempat usahanya di Banjar Dinas Tauman, Desa Nyuh Tebel, Kecamatan Manggis, Selasa (6/2).

Tawan bercerita, seluruh usahanya mulai macet setelah adanya erupsi Gunung Agung, 22 September tahun lalu. Saat itu, pesanan dari para pelanggannya jauh menurun. Sebab, pertama yang paling terdampak adalah sektor pariwisata. Banyak hotel dan restoran tutup. Tidak ada lagi, pesanan pintu gerbang, kanopi, jasa las dan berbagai kebutuhan lain sesuai keahliannya yang datang ke bengkelnya lagi.

“Ada juga pesanan sudah jadi, sudah dipasang di tempat pemesannya, ternyata yang pesan juga tak bisa bayar, karena kehilangan pekerjaan. Saya juga jadinya bingung,” kata Tawan.

Kini, masa kontrak lahan di tempat usahanya itu sudah berakhir. Gara-gara dampak erupsi ini, dia tak bisa lagi memperpanjang kontraknya, gara-gara usahanya sudah bangkrut. Tempat usahanya itu ngontrak selama lima tahun dengan nilai kontrak Rp 25 juta. Masa kontraknya sudah habis per Pebruari ini. Kini, pemilik lahan masih memberikan waktu selama sebulan, untuk membereskan seluruh barang-barangnya, apabila kontrak lahan tempat bengkelnya tidak diperpanjang lagi.

Baca juga:  3 Bulan Tak Bayar Gaji Karyawan, PDNKK di Ambang Kebangkrutan?

Setelah usahanya bangkrut, kini Tawan mengaku hanya bisa pasrah dan bingung. Pekerjaan apa yang bisa dilakukan dengan kondisi fisik yang tidak normal seperti dirinya. Agar bisa tetap membayar cicilan hutangnya di beberapa bank dan LPD. Dia mengungkapkan, hutangnya di BRI saja masih sebesar Rp 20 juta. Demikian juga di LPD Nyuh Tebel sebesar Rp 20 juta. Belum lagi hutang di bank lainnya. Lantaran usahanya macet hingga bangkrut, dia sudah tak bisa membayar cicilan selama beberapa bulan terakhir ini. “Saya sudah siap-siap mau jadi petani saja. Tidak ada pilihan lain. Saya sudah lapor ke klian subak di rumah,” ujarnya.

Banyak yang menawarkan bantuan kepadanya agar bisa melanjutkan usaha bengkelnya itu. Tetapi, dia enggan menerima bantuan lagi. Dia mengaku malu, bila tidak bisa mengembalikan lagi, melihat situasi ekonomi yang sepenuhnya belum pulih seperti sekarang. Dia juga malu kalau menerima bantuan lagi dari pemerintah daerah. Setelah dulu sempat dibantu permodalan oleh Pemprov Bali, dia enggan mau menerima bantuan lagi, melihat situasi seperti sekarang.

Dulu, I Wayan Sumardana alias Tawan seorang tukang las sempat membuat heboh dengan membuat tangan robot sendiri. Hal ini bermula dari tangan kirinya mengalami kelumpuhan. Untuk membantu pekerjaannya inilah, dia membuat tangan robot dari barang bekas. Tawan merancang sendiri tangan robotnya dari barang bekas, seperti komputer, dinamo dan bagian-bagian dari sepeda motor. Robot tangan buatannya digerakan dengan sinyal dari kepalanya yang dihubungkan dengan kabel dan rangkaian elektronik. Bagian siku dari tangan kiri Tawan digerakkan dengan gear yang saling terhubung untuk membantunya bergerak saat bekerja.

Selain mengelas, keahlian Tawan saat itu mulai dari memperbaiki perabot rumah tangga, barang elektronik hingga sepeda motor. Pria lulusan Sekolah Teknologi Menengah (STM) yang ahli elektronika ini bekerja sendiri dengan bantuan tangan robotnya untuk memenuhi kebutuhan hidup istri dan ketiga anaknya dengan mengelas dan mengumpulkan barang bekas. (bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.