Menjelang pameran Indobuildtech Expo ke-9 digelar diskusi dihadiri Kadin Bali, REI Bali, IAI dan asosiasi lainnya. (BP/rah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Warga Denpasar maupun Badung khususnya yang tinggal di perkotaan sulit memiliki rumah karena terbentur harga. Akibatnya mereka justu tinggal di luar Denpasar dan Badung, meskipun jauh dari tempat kerja. Oleh karena itu lima asosiasi yaitu REI Bali, IAI, Kadin Bali, Gapensi dan Ikindo akan merancang perumahan ideal dan terjangkau di perkotaan yang selama ini menjadi impian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Pasalnya sejak 2015 properti di Bali tidur (menurun). Untuk merancang hunian tersebut, kelima asosiasi ini memanfaatkan Bali Indobuildtech Expo ke-9 di Hotel Sanur Paradise Plaza, 28 Februari sampai 4 Maret 2018.

Ketua Kadin Bali Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra, Selasa (23/1) kemarin mengatakan, saat ini pertumbuhan perekonomian di bawah 6 persen, padahal biasanya 7 persen. Ternyata penyumbang atau pendukung pertumbuhan ekonomi Bali hingga 7 persen adalah sektor konstruksi dan real estate. “Tahun 2009 ampai 2012 (konstruksi dan real estate) sangat luar biasa besarnya. Sejak tahun 2015 mulai turun sampai sekarang. Bahkan properti di Bali Tidur. Mudah-mudahan dengan pameran ini bisa bangkit,” tegasnya.

Alit Wiraputra berharap PT Debindo Mitra Tama melalui Organization & Business Development Sector Chief Ir. Boediono mengundang investor dari Jawa ke Bali. Selain pameran ini sukses, investasi properti bisa meningkat. “Sektor pariwisata bersinergi dengan properti. Properti disewakan untuk pariwisata,” ungkapnya.

Sekretaris DPD REI Bali Tino Wijaya dan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Bali I Kadek Pranajaya mengungkapkan pihaknya mengapresiasi pameran tersebut. Pihaknya memanfaatkan seminar ini untuk mengadakan seminar, jajak pendapat dan dialog pada tanggal 28 Februari 2018. “Kami mengadakan dialog tentang tantangan kebutuhan perumahan di perkotaan yang ideal dan terjangkau oleh masyrakat. Dimana kelima asosiasi ini betul-betul konsen bagaimana dapat menyediakan hunian yang terjangkau dan tentunya ideal untuk MBR,” tegas Tino.

Baca juga:  Banjir Lumpur, Dikira Banjir Lahar Dingin di Selat

Sedangkan Pranajaya mengungkapkan terjangkau artinya bagaimana masyarakat perkotaan bisa kredit rumah layak sesuai kemampuannya. “Kalau rumah di atas Rp 500 juta sepertinya tidak bisa dijangkau MBR,” tegasnya.

Kalau solusinya, lanjut Pranajaya, pemerintah mengizinkan dibuat rumah susun seperti apartemen, pihaknya akan menyesuaikan desainnya dengan norma-norma yang ada di Bali seperti dari sisi budaya, masalah ketinggian dan ornamen Balinya.

Sementara Organization & Business Development Sector Chief Ir. Boediono mengungkapan pameran ini tiap tahun dilaksanakan di Bali, sebelum ke provinsi lain yaitu Surabaya, Badung dan Jakarta. Pameran ini juga mendukung sektor pariwisata Bali karena kalangan pabrikan, toko material bangunan, arsitek lokal dan internasional, design interior, kontaktor dan real estate akan menyumbangkan pikiran serta saran untuk memajukan pariwisata di Pulau Bali ini.

“Pameran ini bertujuan memberikan informasi komprehensif perkembanhan industri dan teknologi bahan bangunan terkini. Peserta 55 perusahaan. Untuk menambah cakrawala pemain industri konstruksi,” tegasnya. (Kerta Negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.