SINGARAJA, BALIPOST.com – Sebanyak 1.349 jiwa pengungsi Gunung Agung yang sebelumnya mengungsi di Buleleng telah meninggalkan lokasi penampungan pengungsi. Pengungsi yang kembali ke Karangasem itu kebanyakan warga yang tinggal di luar Kawasan Rawan Bencana (KRB).

Sebagian kecil lagi pengungsi yang tempat tinggalnya masuk KRB belakangan juga nekat pulang ke kampung asalnya. Pulangnya ribuan pengungsi ini karena mendekati hari Galungan dan Kuningan awal November 2017 ini.

Selain itu, juga karena kondisi Gunung Agung dianggap biasa-biasa saja saja dan belum menunjukkan aktivitas yang mengarah pada erupsi.

Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Penanganan Pengungsi Gunung Agung Made Arya Sukerta mengatakan, data pengungsi yang telah meninggalkan tempat penampungan pengungsi diketahui dari hasil pemutahiran data pengungsi. Semula data pengungsi terhitung tanggal 10 Oktober 2017 tercatat sebanyak 22.235 jiwa. Data ini kemudian berkurang sebanyak 1.349 jiwa, sehingga sekarang jumlahnya tercatat 20.886 jiwa.

Pengungsi ini tersebar di sembilan kecamatan dan terpadat berada di Kecamatan Tejakula. “Dari pemutahiran data sebagian besar pengungsi yang balik (pulang ke desanya-red) karena desa asalnya di luar KRB. Dan kalau yang di zona KRB prediksi yang pulang tidak sebanyak yang di zona aman,” katanya.

Baca juga:  Puluhan Warga Karangasem Ngungsi di Pekutatan

Peria yang juga menjabat Asisten Bidang Tata Pemerintahan (Tapem) Setda Buleleng ini menambahkan, penurunan pengungsi tersebut sebagian besar karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang menginstruksikan agar pengungsi dari zona aman atau di luar KRB satu, dua, dan KRB tiga kembali ke desanya.

Sedangkan, pengungsi yang memang daerah asalnya berada pada zona KRB sebagian kecil nekat kembali ke desa asalnya. Satgas sejauh ini belum memastikan, alasan pengungsi di zona KRB meninggalkan tempat pengungsian.

Akan tetapi pulanggnya pengungsi diperkirakan karena mereka mengetahui situasi Gunung Agung yang aman-aman saja dan belum menunjukkan tanda-tanda akan terjadi erupsi. Selain itu, satgas memperkirakan pengungsi ini pulang karena semakin dekatnya hari Galungan dan Kuningan.

Apalagi, mereka harus menyiapkan perlengkapan dalam waktu yang cukup dan juga “bekal” yang memadai, sehingga kondisi itu memaksa pengungsi kembali ke desa kelahiran mereka. “Kita belum dapatkan apa alasannya, namun bisa saja karena hari raya semakin dekat, dan situasi bia-bias saja, sehingg pengungsi dari zona KRB nekat pulang ke desanya,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.