GIANYAR, BALIPOST.com – Kabupaten Gianyar memiliki sejumlah sumber mata air yang tidak hanya difungsikan untuk melukat, tetapi juga ramai dikunjungi wisatawan. Ada tiga mata air yang kini ramai dikunjungi, yakni pemandian Pura Dalem Pingit (Desa Sebatu, Tegalalang), air terjun Goa Rang Reng (Desa Bakbakan, Gianyar) dan paling terkenal Pura Tirta Empul (Tampaksiring).

Penyarikan Desa Pakraman Sebatu, I Wayan Kerta menjelaskan pemandian Pura Dalem Pingit yang ada di Desa Sebatu selama ini ramai dikunjungi masyarakat Bali untuk melukat. Belakangan juga mulai ramai pengunjung wisatawan domestik dan mancanegara. “Mereka yang datang bukan saja pagi hingga sore, namun juga ada yang datang malam hari,” katanya.

Menurut Kerta, petirtaan ini belakangan semakin ramai dikunjungi warga, khususnya pada hari libur sekolah dan saat rerainan seperti purnama, tilem, kajeng kliwon dan hari penting lainnya. Bahkan saat pengunjung membludak, pengunjung hingga kekurangan tempat parkir. Sehingga parkir menggunakan badan jalan.

Ada pula obyek wisata air terjun Goa Rang Reng yang dikenalkan warga Banjar Gitgit, Desa Bakbakan, Gianyar kepada turis asing dan lokal. Objek yang juga kerap dipakai melukat ini ramai dikunjungi bagi mereka yang ingin sekedar melepas penat.

Menurut warga setempat, I Made Sutama (43), di Goa Rang Reng ini mengucur sumber air yang dimanfaatkan warga untuk air minum dan beji atau tempat penyucian sebelum melaksanakan upacara agama. “Hulu dari aliran ini yang menjadi obyek wisata di sini,” ujar Sutama.

Baca juga:  Tindaklanjuti Permendagri, Pemkot Rancang Perwali Kependudukan

Di dalam goa tersebut terdapat mata air yang sangat besar bernama Telaga Embeng. Dari telaga ini lah mengalir ke air terjun yang kemiringannya bisa didaki oleh pengunjung. Air terjun itu pula yang menjadi magnet pengunjung, baik yang sekadar mandi, melepas penat hingga foto-foto.

Sutama yang juga seorang guide menuturkan objek ini masih dikelola secara swadaya, tanpa ada tindak lanjut dari pemerintah. Pihak desa pun mengusahakan untuk mengembangkan wisata ini secara mandiri. “Tapi kalau pemerintah bisa membantu kan lebih baik lagi,” tegasnya.

Di Goa Rang Reng itu juga terdapat Pura Taman Manik Mas. Tepat di depan pura ada aliran air dari goa yang membentuk percabangan sungai. Dua cabang sungai itu disebut sungai Cangkir Lanang (Laki-laki) dan sungai Cangkir Wadon (Perempuan).

Pertemuan air ini disebut campuhan dan masyarakat yang akan menikah biasanya melakukan pembersihan terlebih dulu di campuhan. Karena air sungai itu dipercaya menjadi lambang penyatuan antara laki-laki dan perempuan. “Aliran kiri simbol perempuan, kanan adalah laki-laki,” tutur Sutama. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.