Suasana penutupan Hipmi Fashion Week, Minggu (16/7). (BP/may)
MANGUPURA, BALIPOST.com – Setelah 11 hari pelaksanaan, Hipmi Fashion Week ditutup pada Minggu (16/7). Ketua Umum BPC Hipmi Gianyar, I Wayan Gede Ari Danangga mengatakan dari sisi transaksi, peserta exhibiton menikmati hasil yang cukup lumayan. Jumlah transaksi selama pelaksanaan fashion week ini sekitar Rp 4,7 miliar ditambah dengan transaksi di luar acara Rp 6,3 miliar.

Dalam penutupan, dilakukan juga pengumuman pemenang lomba perancang busana. Lomba perancang busana dimenangkan oleh I Made Dode Moneko, juara kedua Abizar Komari dan juara ketiga Desi Astriani. Pemenang lomba akan mengikuti fashion week di New York dengan disponsori oleh Hipmi.

Acara penutupan juga diisi dengan fashion show dari beberapa desainer. Total terdapat 32 desainer dari seluruh Indonesia yang dilibatkan dalam ajang yang sudah kedua kalinya digelar ini.

Menurut Ari, peserta lomba perancang busana merupakan anak-anak muda berbakat yang masih berusia belia. Pemenang lomba perancang busana Hipmi Fashion Week 2017 masih berusia 21 tahun. “Mulai dari sekarang, pemenang sudah mempersiapkan produknya, sedang memantapkan diri dalam bidang manajemen industri fashion karena nantinya akan bekerjasama dengan fashion industri sebagai exhibitor di New York Fashion Show,” bebernya.

Baca juga:  Nita Mauladi, Mengubah Kain Tradisional Menjadi Busana Internasional

Founder HIPMI Fashion Week, Inda Trimafo Yudha mengatakan, dalam Hipmi Fashion Week 2017 banyak keterlibatan desainer, tak hanya lokal Bali tapi juga selurh Indonesia. Selain berpartner dengan Fashion TV, acara kali ini juga bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM, Perindustrian dan Perdagangan dan Pemerintah Bondowoso, Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Gianyar.

Ia berharap Hipmi Fashion Week menjadi program yang sustainable karena dari kegiatan ini dapat memberikan motivasi bagi pelaku usaha baru untuk membuka usaha, terutama di bidang fashion.

Deputi Pemasaran Bekraf, Josua Puji Mulia Simanjuntak mengatakan, industri kreatif merupakan sumber daya yang tidak pernah habis. “Semasih bisa mengeluarkan ide, tidak akan pernah habis, jad industri ini tidak pernah habis,” katanya.

Ekonomi kreatif dikatakan ekonomi masa depan yang akan menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Karena penyumbang PDB dari sektor industri kreatif adalah Rp 852 triliun, 7,38 persen dari total PDB nasional. “Kami sangat berharap para pelaku ekonomi kreatif terutama di bidang fashion tidak hanya berhenti disini tapi terus berkontribusi untuk industri kreatif,” ujarnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.