Klinik Metadon Puskesmas III Tabanan kesulitan memperoleh pasien baru karena tidak adanya PL. (BP/san)
TABANAN, BALIPOST.com – Klinik Metadon yang ada di Puskesmas Tabanan III dibentuk pada 2010. Klinik ini berfungsi untuk menekan harm reduction atau pemakaian jarum suntik bagi pencandu heroin. Seperti diketahui pemakaian jarum suntik pada narkoba berpotensi menularkan HIV dan penyakit infeksi lainnya seperti hepatitis.

Sayangnya, sejak tahun 2016, Klinik Metadon kesulitan mendapatkan pasien baru untuk menjalani terapi. Hal ini disebabkan tidak adanya petugas lapangan (PL). Kini sifat layanan di Klinik adalah pasif dimana menunggu pasien datang dengan kesadaran sendiri.

Dokter di Klinik Metadon, dr. Ni Wayan Sri Ratni, Rabu (7/6) mengatakan saat ini pasien yang menjalani terapi metadon sebanyak 10 orang. Untuk tahun 2017 ini hanya ada penambahan satu pasien baru.

Diakuinya semenjak tidak ada petugas lapangan, pihaknya hanya menunggu kesadaran pasien untuk menjalani terapi. “Dulu kita punya petugas lapangan yang berasal dari komunitas dan mudah masuk kedalamnya untuk melakukan sosialiasi. Komunitas ini susah didekati. Karena mereka takut dilaporkan,” jelas Sri Ratni.

Baca juga:  Setahun, 9 Orang Jembrana Mati Akibat TBC

Ia melanjutkan, pecandu heroin yang ingin menjalani terapi sebenarnya tidak usah takut datang ke Klinik Metadon karena kerahasiaan mereka dijamin. Terlebih untuk obatnya gratis dari pemerintah. Pasien hanya membayar biaya administrasi yang tidak seberapa.

Dalam menjalani terapi, pasien meminum obat heroin sintetis yang dicampur dengan sirup dan air. Cara mengkonsumsinya dengan cara diminum. Dosisnya disesuaikan dengan ketahanan pasien mengatasi rasa kecanduannya. “Semakin kuat ketahanan pasiennya maka semakin rendah dosisnya,” jelas Sri Ratni.

Kepala Puskesmas Tabanan III, dr. Wisnu Wardana menambahkan ketiadaan petugas lapangan karena pendanaan Global Fund yang diputus. Pihaknya berupaya dan sudah mengusulkan untuk merekrut tenaga kontrak petugas lapangan ini. “Kalau tenaga kesehatan yang terjun ke lapangan, kebanyakan mereka menghindar karena takut. Karenanya dibutuhkan tenaga lapangan yang mengenal betul komunitas mereka dan bisa masuk melakukan sosialiasi,” jelasnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.