Gubernur Bali, Wayan Koster menerima kunjungan resmi perdana Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Konstantin Obolensky, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Rabu (21/10). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster memperkuat penjajakan kerja sama dengan Swiss di bidang investasi industri inovatif, pengolahan sampah, dan pengolahan air limbah. Peluang kolaborasi tersebut dibahas saat Gubernur Koster menerima kunjungan resmi perdana Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Konstantin Obolensky, di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Rabu (21/10).

Dalam kunjungan tersebut, Obolensky didampingi Konsul Kehormatan Swiss untuk Bali, Gerhard L. Nutz. Pertemuan ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan Bali dan Swiss, sekaligus menjajaki peluang kerja sama konkret yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Bali.

Pertemuan itu juga berlangsung di tengah peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss. Momentum tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya dalam bidang pariwisata, tetapi juga investasi, pengembangan industri, dan pengelolaan lingkungan.

Gubernur Koster menyambut baik kunjungan tersebut dan mengapresiasi ketertarikan Swiss untuk menjajaki peluang investasi serta kerja sama di Bali. Menurutnya, hubungan yang telah terjalin baik perlu terus diperkuat melalui komunikasi dan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca juga:  Ribuan Pecalang Amankan Nyepi Caka 1948, Gubernur Koster Tekankan Peran Strategis Keamanan Berbasis Desa Adat

Salah satu bidang yang menjadi perhatian dalam pertemuan itu adalah pengelolaan lingkungan, khususnya persampahan dan air limbah. Ketertarikan Swiss pada sektor tersebut membuka peluang bagi Bali untuk menjajaki penerapan inovasi dan pengembangan teknologi dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Isu ini relevan dengan kebutuhan Bali untuk memperkuat tata kelola sampah, menjaga kualitas lingkungan, dan mempertahankan daya tarik pariwisata. Namun, peluang tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan memerlukan tindak lanjut untuk menentukan bentuk kerja sama maupun realisasi investasinya.

Selain sektor lingkungan dan industri inovatif, pariwisata turut menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut. Hubungan masyarakat Bali dan Swiss selama ini terjalin melalui kunjungan wisatawan, pertukaran budaya, serta aktivitas warga Swiss yang tinggal dan bekerja di Pulau Dewata.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam pertemuan, hingga 21 Oktober 2026 tercatat sekitar 29.000 wisatawan asal Swiss telah berkunjung ke Indonesia, dengan rata-rata kunjungan sekitar 3.065 orang per bulan. Angka tersebut menunjukkan adanya hubungan antarmasyarakat yang turut mendukung kedekatan kedua pihak.

Baca juga:  Tersangka Korupsi Kembalikan Uang

Obolensky menyampaikan bahwa agenda kunjungan perdananya ke Bali cukup padat. Selain bertemu Gubernur Bali, ia mengunjungi sejumlah lokasi usaha milik warga negara maupun badan usaha asal Swiss, menghadiri agenda Global Etik IADEMA sehari sebelumnya, serta bersilaturahmi dengan komunitas diaspora Swiss di Bali.

Saat ini, sekitar 700 warga negara Swiss tercatat menetap dan bekerja di Bali. Keberadaan komunitas tersebut menjadi salah satu penghubung hubungan kedua pihak, sekaligus membuka kesempatan untuk memperkuat pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan jejaring usaha.

Dalam pertemuan itu, Duta Besar Obolensky juga menyampaikan dukungan Swiss terhadap pengembangan investasi dan pembangunan di Bali. Ketertarikan terhadap industri inovatif, pengolahan sampah, dan pengolahan air limbah menjadi sejumlah bidang yang berpotensi ditindaklanjuti melalui komunikasi antarpihak.

Bagi Bali, penjajakan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan daerah dengan pengalaman dan kemampuan mitra internasional. Meski demikian, realisasi kerja sama tetap membutuhkan pembahasan lebih lanjut mengenai kebutuhan teknologi, skema investasi, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Baca juga:  Denpasar Tetap Operasionalkan Tempat Isolasi Terpusat

Sebagai penutup pertemuan, Gubernur Koster menyerahkan cendera mata berupa kain tenun endek khas Bali kepada Obolensky. Pemberian tersebut menjadi simbol persahabatan sekaligus bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Bali kepada masyarakat internasional.

Kain endek merupakan salah satu produk tekstil tradisional Bali yang merepresentasikan identitas budaya dan kreativitas perajin lokal. Melalui diplomasi budaya, produk daerah diharapkan semakin dikenal di pasar internasional dan membuka peluang promosi yang lebih luas.

Pertemuan di Jayasabha tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas penjajakan kemitraan Bali–Swiss. Selain mempererat hubungan persahabatan, peluang kerja sama di sektor industri inovatif, investasi, dan pengelolaan lingkungan diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi program konkret yang mendukung pembangunan Bali secara berkelanjutan. (kmb/balipost)

BAGIKAN