Penumpang berjalan sambil membawa barang bawaan menuju angkutan umum bus Trans Metro Dewata di Terminal Ubung, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Bali berdampak pada operasional angkutan umum Trans Metro Dewata (TMD). Selain perjalanan bus yang berkurang akibat kemacetan di sejumlah lintasan, data operasional menunjukkan sebanyak 18 jadwal layanan tidak terlayani selama dua hari terakhir, Minggu dan Senin (11–12/10).

Manager Operasional PT Satria Trans Jaya, Ida Bagus Eka Budi P., Selasa (13/10), menyampaikan berdasarkan data operasional, jumlah penumpang atau passenger (PNP) pada Minggu mencapai 5.865 orang dengan 255 ritase. Pada hari tersebut, terdapat satu jadwal yang tidak terlayani.

Sementara itu, pada Senin, jumlah penumpang tercatat sebanyak 5.710 orang dengan 239 ritase. Jumlah jadwal yang tidak terlayani meningkat menjadi 17.

Data tersebut menunjukkan jumlah penumpang pada Senin turun 155 orang dibandingkan Minggu. Penurunan juga terjadi pada jumlah perjalanan yang terealisasi, dari 255 ritase menjadi 239 ritase. Dengan demikian, terdapat pengurangan 16 ritase dalam sehari, sedangkan jumlah jadwal yang tidak terlayani bertambah dari satu menjadi 17.

Baca juga:  Bayi Kembar Tiga Lahir di RSU Bangli

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bali, I Made Mudarta, mengatakan gangguan operasional TMD di tengah antrean BBM bukan berupa pengurangan armada secara keseluruhan. Kendala yang terjadi antara lain hilangnya sejumlah perjalanan akibat kemacetan pada lintasan layanan.

“Dampak dari kondisi ketersediaan BBM antara lain hilangnya trip layanan akibat kemacetan pada lintasan layanan. Meskipun demikian, dari sisi jumlah penumpang masih relatif stabil,” kata Mudarta saat dikonfirmasi terpisan, Selasa (13/10).

Berdasarkan data Dishub Bali, pengurangan perjalanan terjadi pada empat koridor TMD. Koridor 1 dengan rute Sentral Parkir Kuta–Terminal Pesiapan, Tabanan, mengalami pengurangan tujuh ritase. Koridor 2 dengan rute GOR Ngurah Rai–Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Koridor 3 yang melayani kawasan Terminal Ubung–Sanur masing-masing berkurang empat ritase. Sementara itu, Koridor 5 dengan rute Sentral Parkir Kuta–Terminal Ubung mengalami pengurangan dua ritase.

Baca juga:  GIPI Bali dan Pemkab Badung Sediakan Akomodasi Bagi Wisman di Bandara Ngurah Rai

Dari sisi jumlah penumpang, rata-rata pengguna TMD pada 1–11 Oktober 2026 tercatat sebanyak 5.591 orang per hari. Pada Senin (12/10), jumlahnya mencapai 5.710 orang, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata tersebut.

Angka itu menunjukkan jumlah penumpang masih relatif stabil di tengah gangguan operasional. Namun, kenaikan jumlah pengguna tersebut belum dapat disimpulkan sebagai dampak langsung dari antrean BBM yang terjadi di sejumlah wilayah Bali.

Sebelumnya, beredar narasi di media sosial yang menyebutkan bus TMD semakin ramai karena masyarakat di kawasan Sarbagita, meliputi Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, beralih menggunakan angkutan umum untuk menghindari kesulitan mendapatkan BBM.

Meski data menunjukkan jumlah penumpang pada 12 Oktober berada di atas rata-rata harian periode 1–11 Oktober, diperlukan data lebih lanjut untuk memastikan hubungan antara antrean BBM dan perubahan jumlah pengguna angkutan umum.

Baca juga:  Sempat Sebut Meninggalnya Mahasiswa Tak Ada Kaitan dengan Perundungan, Unud Ralat Pernyataan

Mudarta juga mengungkapkan konsumsi BBM harian di Bali mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli, Agustus, dan September 2026, konsumsi BBM konsisten berada di atas 5.000 kiloliter (kl) per hari. Bahkan, angka terbaru yang disampaikannya mencapai sekitar 5.700 kl per hari, sedangkan rata-rata konsumsi harian sepanjang 2025 tercatat sebesar 4.766 kl.

“Mulai Juli, Agustus, dan September memang konsisten di atas 5.000. Sebelumnya, dari Januari sampai Juni, angkanya masih di bawah 5.000 kl,” jelasnya.

Kendati demikian, Mudarta belum dapat memastikan perkembangan konsumsi BBM dalam dua hari terakhir karena data tersebut masih perlu diperiksa lebih lanjut. Kepastian mengenai kapan seluruh perjalanan TMD kembali normal juga belum dapat ditentukan, karena masih menunggu kondisi di lapangan kembali kondusif. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN