Progres pembangunan Jalan Shortcut Singaraja-Mengwitani Titik 9-10 di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi Bali menyiapkan anggaran tambahan sekitar Rp11,6 miliar untuk pengadaan lahan pembangunan Jalan Shortcut Singaraja-Mengwitani Titik 9-10 di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Tambahan anggaran tersebut dialokasikan dalam pagu APBD Perubahan 2026 karena diperlukan lahan tambahan untuk memperbaiki alignment atau geometrik jalan pada sejumlah bagian trase.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR Perkim) Provinsi Bali, Nusakti Yasa Weda, mengatakan kebutuhan lahan tambahan baru diketahui setelah dilakukan peninjauan teknis terhadap alignment, khususnya pada bagian intersection.

“Untuk bisa memperbaiki alignment di shortcut, itu diperlukan pembebasan lahan tambahan. Kita pindahkan dulu anggarannya ke sana. Itu yang berubah di APBD Perubahan,” ujar Nusakti, Kamis (8/10).

Dalam dokumen anggaran, kegiatan tersebut tercantum sebagai Pengadaan Lahan Pembangunan Ruas Jalan Shortcut Titik 9-10 dengan pagu sebesar Rp11.611.000.000.

Nusakti memperkirakan tambahan lahan yang dibutuhkan sekitar 32-35 are. Proses pembebasan lahan sudah mulai berjalan dan menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan penyesuaian desain jalan yang sedang dikerjakan.

Baca juga:  Ini Tambahan Satu Pola di PPDB 2017

“Kurang lebih sekitar 32-35 are. Dan sedang dalam proses pembebasan lahan, yang terdiri dari 5 bidang lahan tambahan yang akan dibebaskan,”jelasnya.

Tambahan lahan tersebut juga berkaitan dengan penyesuaian trase di beberapa lokasi. Salah satunya karena terdapat area makam yang perlu dihindari dalam penataan trase.

Nusakti menegaskan, penyesuaian tersebut tidak berarti memindahkan makam. Untuk makam Hindu, penanganannya dilakukan melalui penataan tanpa memindahkan lokasi makam. Sementara pada area makam Kristiani, kebutuhan pembebasan juga berada pada lahan milik warga di sekitar kawasan, bukan pada area makamnya.

“Enggak bergeser kuburannya. Tetap di sana, cuma dilakukan penataan,” katanya.

Ia menyebut penyesuaian trase dilakukan agar pembangunan tidak menimbulkan persoalan baru sekaligus memastikan geometrik jalan dapat dibangun sesuai kebutuhan teknis.

Pembangunan Shortcut Singaraja-Mengwitani Titik 9-10 sendiri telah dimulai melalui groundbreaking di Desa Gitgit pada 7 Januari 2026. Proyek tersebut mencakup perbaikan geometrik Titik 9 dan 10 dan dibagi dalam beberapa paket pekerjaan. Pemerintah menargetkan pembangunan selesai pada 2027.

Baca juga:  Ini, Kabupaten Penyumbang Terbanyak Pasien COVID-19 Sembuh

Untuk konstruksinya, proyek Titik 9-10 mendapat pendanaan melalui Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan nilai sekitar Rp667,57 miliar. Pekerjaan keseluruhan memiliki panjang sekitar 3,9 kilometer dan mencakup pembangunan sejumlah jembatan.

Sebelumnya, Pemprov Bali telah membebaskan ratusan bidang tanah untuk mendukung pembangunan shortcut. Data Pemprov Bali yang dipublikasikan pada awal 2026 menyebut sebanyak 316 bidang tanah telah dibebaskan dengan nilai sekitar Rp193 miliar.

Namun, kebutuhan teknis yang berkembang dalam pelaksanaan pekerjaan membuat pemerintah perlu melakukan pembebasan tambahan di Titik 9-10.

Nusakti mengatakan, tambahan anggaran untuk lahan shortcut tersebut dilakukan melalui pergeseran anggaran dalam APBD Perubahan 2026.

Salah satu sumber anggaran yang ditunda sementara berasal dari rencana penataan akses menuju kawasan pelabuhan/parkir di Pelabuhan Segitiga Emas Sanur.

Baca juga:  Dari Supermoon Terjadi Malam Ini hingga Duka Selimuti Keluarga Besar Bharada Komang di Marga

Menurutnya, penataan akses Pelabuhan Segitiga Emas Sanur belum menjadi prioritas untuk direalisasikan saat ini karena masih menunggu kepastian pembangunan kawasan parkir oleh investor.

“Untuk penataan kawasan Sanur (Pelabuhan Segitiga Emas Sanur,red), penataan jalan akses menuju pelabuhan itu kita tunda dulu. Kita tunggu investor, setelah prospek pembangunannya sudah oke, baru kita siapkan jalan aksesnya,” ujarnya.

Nusakti memastikan trase akses Pelabuhan Segitiga Emas Sanur sebenarnya sudah disiapkan dan pembebasan lahan tinggal dilakukan ketika program tersebut dilanjutkan. Ia memperkirakan pelaksanaannya masih memungkinkan direalisasikan pada 2027, tergantung kepastian pembangunan kawasan parkir.

Dengan tambahan lahan di Titik 9-10, Nusakti berharap penyesuaian geometrik dapat dilakukan tanpa menghambat pekerjaan fisik yang sedang berlangsung. Proyek shortcut tersebut menjadi bagian dari pembangunan konektivitas Bali Utara-Bali Selatan, dengan tujuan meningkatkan keselamatan, memperbaiki waktu tempuh, serta mendukung kelancaran distribusi orang dan barang. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN