Kredivo dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) melakukan studi dampak sosial. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Di tengah semakin luas dan mudahnya akses terhadap kredit digital, pengunaannya ternyata masih tergolong sehat dan bertanggung jawab. Hal ini terungkap dalam laporan dampak sosial yang dilakukan Kredivo dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI).

Dalam studi terungkap rata-rata Debt-to-Income Ratio atau rasio utang terhadap pendapatan pengguna berada di kisaran 10–19 persen dari total pendapatan, atau tergolong sangat aman.

Studi tersebut juga mencatat 58,7 persen pengguna yang teraktivasi dan bertransaksi pada 2023 memperoleh kenaikan limit berkat rekam jejak pembayaran yang disiplin, sementara 65,7 persen pengguna tergolong well-literate secara finansial.

Menurut Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw, temuan tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses kredit digital dapat berjalan beriringan dengan penggunaan kredit yang sehat dan bertanggung jawab.

Baca juga:  Hadapi Era AI dan Ekonomi Digital, 6.125 Pelajar Diberikan Keterampilan Wirausaha Masa Depan

Ia mengatakan kredit digital kini menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang membantu masyarakat membangun riwayat kredit, memenuhi kebutuhan produktif, dan mengembangkan usaha. Perempuan, generasi muda, dan pelaku UMKM merupakan kelompok yang paling sulit dijangkau sistem keuangan formal, namun justru menjadi bagian signifikan dari penerima akses kredit digital pertama.

“Yang terpenting bukan sekadar terbukanya akses, tetapi bagaimana akses tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha. Di situlah dampak sosial dan ekonomi mulai terbentuk,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Sementara itu, Co-Founder & Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi mengatakan bahwa studi bersama LD FEB UI menunjukkan kontribusi industri kredit digital kini tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran kredit, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan selama 10 tahun beroperasi.

Baca juga:  Menteri LH Apresiasi Sampah Plastik Diolah Jadi Kaki Palsu di Bali

Kredit yang dihadirkan melalui layanan paylater dan pinjaman tunai tidak hanya memperluas akses terhadap kredit formal, tetapi juga turut mendorong pemanfaatan kredit untuk kebutuhan yang lebih produktif, perilaku peminjaman yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan UMKM.

Studi menunjukkan pihaknya membantu menjembatani kesenjangan akses kredit formal. Pada 2025, jumlah pengguna yang memperoleh akses kredit pertama meningkat 10 kali lipat dibandingkan 2019.

Dari temuan tersebut, 48 persen di antaranya perempuan dan 57 persen berusia di bawah 30 tahun. Di segmen UMKM, 40,6 persen peminjam modal usaha memperoleh akses kredit usaha pertamanya.

Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, mengatakan ketika akses diikuti perilaku finansial yang sehat, manfaatnya dapat dirasakan dalam peluang ekonomi yang semakin luas bagi pengguna. Studi juga menunjukkan meningkatnya pemanfaatan kredit untuk kebutuhan produktif.

Baca juga:  Wright Partners and Fairatmos to Create Innovative Businesses Tackling Climate Change

Porsi kredit produktif yang disalurkan meningkat dari 52,3 persen pada 2019 menjadi 54,3 persen pada 2025, mencakup kebutuhan kesehatan, pendidikan, renovasi rumah, dan modal usaha. Dalam periode yang sama, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha meningkat 15 kali lipat.

Temuan ini menandakan kredit digital semakin dipercaya sebagai alat pengelolaan keuangan jangka panjang sekaligus sumber pembiayaan masyarakat. “Ini menunjukkan bahwa kredit digital berkembang dari alat pemenuhan kebutuhan jangka pendek menjadi instrumen pembentukan kapasitas ekonomi jangka panjang. Hal ini didukung oleh meningkatnya literasi keuangan dan praktik manajemen risiko yang prudent. Dengan pondasi tersebut, kontribusi kredit digital terhadap perekonomian nasional memiliki ruang tumbuh lebih luas, terutama bagi kelompok masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal,” papar Paksi. (kmb/balipost)

BAGIKAN