Siswa SMAN 16 Surabaya memperkenalkan produk usaha yang mereka kembangkan. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Sebanyak 6.125 siswa SMA dan SMK di sepuluh kota diberikan pembelajaran tentang wirausaha masa depan. Upaya ini merupakan salah satu strategi mempersiapkan generasi muda seiring meningkatnya kebutuhan akan keterampilan kewirausahaan hingga pemanfaatan teknologi digital.

Menurut pelaku industri, Edhi Tjahja Negara, relevansi pembelajaran kewirausahaan dengan dinamika dunia usaha, mulai dari pemanfaatan potensi ekonomi lokal, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga keterampilan finansial di era digital, sangat penting.

Ia pun mengungkapkan Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) pada tahun pertama fase kedua menjangkau lebih dari 10.000 siswa dan mendorong lahirnya 35 bisnis pelajar dengan omzet kolektif mencapai Rp339 juta. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman, para siswa memperoleh kesempatan mengembangkan ide, membangun, dan menjalankan usaha secara langsung di sekolah.

Baca juga:  Inisiasi Puluhan Bisnis Baru, Edukasi Kewirausahaan Sasar Pelajar akan Dilanjutkan di 2025

“Dunia usaha terus berubah seiring perkembangan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika ekonomi. Kami ingin membekali generasi muda dengan pengalaman nyata untuk membaca peluang, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan finansial yang tepat, sehingga mereka tumbuh lebih percaya diri, adaptif, dan siap menghadapi masa depan,” kata Country Manager Zurich Indonesia ini.

Program yang menggandeng Prestasi Junior Indonesia (PJI) ini, dipaparkannya akan mengembangkan Student Company, yang memungkinkan siswa mempelajari seluruh proses membangun dan mengelola usaha. Mulai dari mengidentifikasi kebutuhan pasar, mengembangkan produk dan merek, hingga mengelola operasional dan keuangan usaha.

Tahun ini, tema kearifan lokal mendorong siswa menggali budaya, sumber daya, dan potensi ekonomi di sekitar mereka sebagai inspirasi bisnis yang memiliki identitas dan nilai tambah. Perkembangan teknologi juga semakin diintegrasikan dalam pembelajaran kewirausahaan melalui pemanfaatan AI untuk mendukung pengembangan ide bisnis, riset pasar sederhana, penyusunan materi promosi, hingga eksplorasi peluang usaha baru.

Baca juga:  Gali Potensi Wirausaha Muda, "Youth Sociopreneur Initiative" Digelar

Pada saat yang sama, siswa dibekali pemahaman untuk menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab sehingga mampu memaksimalkan manfaat teknologi tanpa mengabaikan aspek integritas dan kreativitas manusia.

Adriana Poglia, Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, menambahkan transformasi teknologi dan perkembangan lanskap ekonomi membuka banyak peluang baru bagi generasi muda. “Kami berupaya memberikan mereka akses yang setara terhadap pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang dapat membantu mereka memanfaatkan peluang tersebut serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri mereka dan masyarakat,” ungkapnya.

Baca juga:  Experience Senggigi, the Oldest and Most Famous Tourism Destination in Lombok

Sementara itu, Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif PJI mengatakan pengalaman membangun usaha secara langsung membantu siswa mengubah kreativitas dan potensi di sekitar mereka menjadi peluang yang bernilai. Proses ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan masa depan dan pola pikir kewirausahaan yang dibutuhkan untuk mampu beradaptasi dan menciptakan peluang di tengah berbagai perubahan.

Ia menyebut fase kedua ditargetkan menjangkau 16.975 siswa pada 2028. Sehingga, memperluas akses generasi muda terhadap pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman yang relevan dengan kebutuhan masa depan. (kmb/balipost)

BAGIKAN