Ilustrasi agen penjual LPG subsidi dan nonsubsidi. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi ukuran 12 kilogram mulai 18 April 2026 mulai dirasakan pengusaha kuliner di Denpasar. Kebijakan untuk menaikkan harga sekitar 18 persen itu menambah beban operasional di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah.

Berdasarkan penyesuaian harga terbaru, LPG 12 kg di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat kini dibanderol Rp228.000 per tabung, atau naik Rp36.000 dari harga sebelumnya. Sementara LPG 5,5 kg naik Rp17.000 menjadi Rp107.000 per tabung.

Kenaikan ini langsung berdampak pada pelaku usaha kecil, khususnya sektor kuliner yang sangat bergantung pada gas untuk operasional harian.

Baca juga:  Porprov Bali 2025, Cek Jadwal 9 Cabor Tanding pada 16 September

Kris, pemilik warung makan di kawasan Gatot Subroto Barat, Denpasar mengaku, kenaikan harga tersebut semakin memberatkan usahanya. Menurutnya, kondisi ini terjadi di saat daya beli masyarakat sudah lebih dulu melemah.

“Memberatkan, karena daya beli masyarakat sudah rendah, ditambah beban operasional naik. Kalau dibebankan ke pembeli, justru makin menekan daya beli,” ujarnya Senin (20/4).

Ia mengaku sulit melakukan strategi untuk menekan biaya. Mengurangi porsi atau kualitas produk berisiko membuat pelanggan beralih ke tempat lain.

Baca juga:  Hasil Lidik Komentar Pengusaha Kuliner di Medsos, Nihil Ditemukan Pengoplosan Elpiji

“Kalau disiasati dengan mengurangi produk, pembeli bisa lari. Jadi sekarang kami cuma bisa bertahan saja, walaupun keuntungan menipis. Yang penting usaha tetap jalan, bisa bayar gaji karyawan dan sewa tempat,” katanya.

Kris juga berharap adanya kebijakan khusus bagi pelaku usaha kecil yang sudah tidak menggunakan LPG subsidi 3 kg.

“Harusnya ada screening dari Pertamina. UMKM yang sudah pakai LPG 12 kg bisa diberi keringanan, karena kami sudah tidak pakai yang subsidi,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan Wiwid, pengelola usaha ayam bakar di Denpasar. Ia mengaku masih menahan diri untuk tidak langsung menaikkan harga jual meski biaya operasional meningkat.

Baca juga:  Gabung ke Rumah BUMN BRI, Kriti by Lusy Jajaki Potensi Wastra Nusantara di Pasar Mancanegara

Khususnya di tengah kenaikan harga plastik dan beberapa bahan baku makanan. “Pastinya akan menyesuaikan harga, tapi untuk saat ini masih belum,” ujarnya.

Pelaku usaha kini dihadapkan pada dilema antara menjaga harga jual agar tetap terjangkau atau menaikkan harga demi menutup biaya produksi. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan sekaligus menguji daya tahan usaha kecil di tengah tekanan biaya energi. (Suardika/balipost)

BAGIKAN