Dengan gotong royong, sekaa teruna dan masyarakat kembali merakit ogoh-ogoh yang terbakar di Banjar Pasekan Baleran, Desa Dajan Peken, Tabanan, Rabu (18/3). (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Musibah kebakaran yang melalap ogoh-ogoh milik STT Ananta Genta Laksana, Banjar Pasekan Baleran, Desa Dajan Peken, Tabanan, Rabu (18/3) dini hari, tidak menyurutkan semangat para pemuda setempat. Mereka tetap berpacu dengan waktu untuk bisa mengikuti tradisi Mebubu pada sore harinya.

Usai api berhasil dipadamkan, sekaa teruna bersama warga banjar langsung bergerak cepat. Sisa material yang masih bisa digunakan dimanfaatkan kembali. Dengan gotong royong, mereka merakit ogoh-ogoh dari awal agar tetap bisa diarak bersama 23 banjar adat lainnya di Kota Tabanan.

Ketua STT Ananta Genta Laksana, Ida Bagus Satyatama Wira Dharma, mengatakan ogoh-ogoh sebelumnya telah dikerjakan selama kurang lebih 1,5 bulan dengan anggaran mencapai Rp15–20 juta. Kebakaran terjadi saat sebagian anggota beristirahat setelah bekerja sejak Selasa (17/3) siang hingga Rabu dini hari.

Baca juga:  Tiga Warga Selemadeg Digigit Anjing Rabies

Sekitar pukul 01.30 WITA, terlihat cahaya api dari arah ogoh-ogoh yang sudah diposisikan di pinggir jalan. Saat dicek, api sudah membesar dan membakar seluruh bagian ogoh-ogoh. Salah satu anggota kemudian menghubungi petugas pemadam kebakaran.

Sekitar pukul 03.00 WITA, satu unit mobil damkar tiba di lokasi dan api berhasil dipadamkan dalam waktu kurang lebih 30 menit. “Seberapapun hasilnya, ini sudah maksimal. Yang terpenting kami tetap bisa ikut tradisi Mebubu dengan nomor urut 20,” ujarnya.

Baca juga:  IPSI Cup 2017, Diikuti 390 Atlet Pelajar

Dari kejadian tersebut, sejumlah material masih tersisa seperti rangka besi dan bambu. Selanjutnya dilakukan rapat dadakan dan diputuskan ogoh-ogoh dibuat kembali dari awal. “Sekitar pukul 04.30 WITA, kami mulai mengerjakan lagi dari awal dengan memanfaatkan bahan yang tersisa. Syukurnya mendapat bantuan dari pemuda banjar lain di Desa Adat Kota Tabanan,” jelasnya.

Bantuan tidak hanya berupa tenaga, tetapi juga material dan dukungan moril dari berbagai banjar. Bahkan, Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, turut memberikan dukungan anggaran untuk mempercepat proses pembuatan ogoh-ogoh.

Wakil Adat Banjar Pasekan Baleran, I Kade Suardika, menilai semangat para pemuda patut diapresiasi. Menurutnya, musibah tidak menyurutkan kebersamaan warga. “Semua unsur masyarakat ikut membantu, baik tua maupun muda, agar mereka tetap bisa ikut Mebubu,” katanya.

Baca juga:  PPDB di Tabanan, Jalur Prestasi Banyak Peminat

Proses pembuatan ulang ogoh-ogoh juga menjadi ajang kolaborasi lintas generasi. Para sesepuh yang sebelumnya hanya memberi masukan, kini turun langsung membantu, terutama dalam pembuatan tapel. Sejumlah seniman senior bahkan ikut terlibat meski sudah berusia lanjut.

Selain itu, terlihat kolaborasi antara orang tua dan anak dalam pengerjaan ogoh-ogoh. Para pemuda dari banjar lain membantu pembuatan rangka dan badan, bahkan menyumbangkan hiasan secara sukarela.

“Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak. Ini murni kebersamaan,” tutup Suardika.(Puspawati/balipost)

BAGIKAN