
DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menekankan perlunya menciptakan sumber daya manusia (SDM) pariwisata berkualitas dan berkarakter budaya Bali. Ia pun mengapresiasi adanya sekolah pariwisata, seperti SMK Prada, yang mengembangkan SDM dengan menitikberatkan pada budaya Bali.
Menurut Cok Ace, sebagai krama Bali yang dilahirkan di Pulau Dewata memiliki kewajiban untuk menjaga kebudayaan Bali melalui kegiatan pasraman budaya. Tak hanya menikmati rahmat yang telah diberikan alam semesta Bali.
“Kita punya kewajiban untuk menjaga dan membangun Bali. Oleh sebab itu saya berharap kewajiban-kewajiban seperti itu kita sama-sama pikul menjaga Bali,” kata mantan Wakil Gubernur Bali 2018-2023.
Penglingsir Puri Agung Ubud yang akrab disapa Cok Ace menilai pasraman budaya dilakukan SMK Prada sangat positif dan perlu ditiru sekolah lain. “Saya pikir itu hal (pasraman budaya SMK Prada) sangat positif sekali,” kata Cok Ace, Sabtu (21/2) di auditorium kampus Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar.
Cok Ace mengakui mulai jarang menemukan sekolah-sekolah pariwisata yang masih aktif menjalankan kegiatan seperti ini. Pergeseran budaya bisa saja terjadi jika tak menjadi perhatian semua pihak sejak dini.
Menurut mantan Bupati Gianyar ini, dunia membutuhkan SDM Bali karena memiliki keunggulan karakter dan berbudaya. “Saya melihat langsung di beberapa tempat (negara), justru itulah kelebihan tenaga kerja yang berasal dari Bali. Penanaman budi pekerti, penanaman etika, penanaman moral, Ini menjadi bekal dan nilai tambah mereka ketika merantau,” jelas Cok Ace.
Cok Ace menyampaikan warga dunia menyukai tenaga kerja Bali karena background budaya yang membalut skill dan kompetensinya. Sehingga semakin banyak juga permintaan tenaga kerja Bali dari negara luar.
Untuk diketahui, SMK Swasta Pariwisata Dalung (SMK Prada) memiliki aktivitas budaya Bali setiap bulan purnama tiba. Kegiatan belajar mengajar berganti dengan kegiatan budaya, adat istiadat, tradisi dan kearifan lokal. Kegiatan ini sering disebut pasraman budaya Bali.
Sejumlah kegiatan pasraman budaya di sekolah ini seperti dharma kriya/mejejaitan yakni membuat perlengkapan upacara, Dharma Gita/mekidung (Seni bernyanyi kidung suci), Seni Tari dan Tabuh ( Latihan menari dan gamelan Bali), Aksara Bali (Belajar menulis/nyurat lontar), dan Tata Busana Etika (berbusana adat ke pura). (Ketut Winata/balipost)










