Sejumlah massa tidak dikenal mendatangi rumah Anggota DPR Surya Utama atau Uya Kuya di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Minggu (31/8/2025). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kritik terhadap kinerja DPR RI dan polemik tunjangan rumah Rp50 Juta per bulan, memantik aksi demo besar-besaran hingga berujung anarkis di sejumlah daerah di Indonesia, memaksa sejumlah anggota DPR menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Mulai dari Eko Patrio, Uya Kuya, Nafa Urbach, hingga Ketua DPR RI Puan Maharani, mengakui kekhilafan dan menyatakan penyesalan atas sikap maupun pernyataan yang menimbulkan kegaduhan.

Fenomena permintaan maaf ini muncul pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Mereka minta maaf karena melakukan sejumlah “dosa”, di antaranya:

1. Arogansi Tunjangan Rumah Rp50 Juta

Usulan tunjangan rumah bagi anggota DPR sebesar Rp50 juta per bulan dianggap melukai nurani rakyat. Di tengah tekanan ekonomi, isu ini menjadi simbol jarak lebar antara elit politik dan rakyat kecil.

2. Joget di Sidang Tahunan

Video sejumlah anggota DPR berjoget di forum resmi negara menimbulkan persepsi bahwa mereka tak menghormati momen kenegaraan. Aksi ini dianggap merendahkan martabat lembaga legislatif.

Ada juga yang menarasikan joget di forum itu setelah adanya pengumuman gaji dan tunjangan DPR mengalami kenaikan, plus adanya tambahan tunjangan Rp50 juta.

3. Ucapan Meremehkan Rakyat

Pernyataan Ahmad Sahroni yang menyebut pihak ingin membubarkan DPR sebagai “tolol” menyulut kemarahan publik. Ucapan kasar dari seorang wakil rakyat mempertebal jurang ketidakpercayaan terhadap DPR.

4. Pembelaan yang Tidak Sensitif

Beberapa anggota DPR, termasuk Nafa Urbach, sempat membela usulan tunjangan dengan alasan “kebutuhan anggota dewan.” Pernyataan ini justru dianggap tidak peka dan memperburuk citra DPR.

5. Lambatnya Respons terhadap Krisis

Gelombang kritik masyarakat diabaikan pada awalnya. DPR baru bersuara setelah amarah rakyat meluas dan demonstrasi pecah. Respons reaktif ini menambah kesan DPR abai terhadap aspirasi.

6. Permintaan Maaf yang Terlambat

Baca juga:  Kampanye Hari Pertama Bertepatan Galungan, Ini Kata KPU Bali

Ramai-ramai politisi meminta maaf setelah situasi sudah terlanjur panas. Publik menilai maaf itu sekadar formalitas untuk meredakan suasana, bukan lahir dari kesadaran sejak awal.

7. Minimnya Empati Konkret

Selain kata-kata maaf, masyarakat tak melihat aksi nyata memperbaiki keadaan. Absennya tindakan konkret memperkuat keyakinan bahwa DPR hanya pandai beretorika tanpa solusi nyata bagi rakyat.

Berikut deretan anggota DPR RI yang menyampaikan permohonan maaf:  

  1. Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio) 

Anggota DPR dari PAN menjadi salah satu yang pertama menyampaikan maaf melalui video di akun media sosial, video Instagram pada Sabtu, 30 Agustus 2025, menanggapi keresahan akibat aksi joget-joget anggota DPR pada Sidang Tahunan MPR, hingga munculnya pernyataan pro terhadap rencana tunjangan rumah sebesar Rp50 Juta. Ia mengaku menyesal dan berjanji memperbaiki diri.

Permintaan maaf dari Eko Patrio agaknya tidak mendapat tempat di hati masyarakat. Rumahnya di Jalan Karang Asem 1, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, dijarah massa pada Sabtu (30/8) malam, pascademonstrasi yang berlangsung di kawasan pusat ibu kota.

Mengutip dari Kantor Berita Antara, sejumlah perabotan rumah tangga, pakaian, hingga barang elektronik tampak berserakan, lantai rumah itu penuh serpihan kaca pintu dan jendela yang pecah dilempar benda keras.

Beberapa orang terlihat membawa kursi, lampu, kursi, koper, speaker studio dan kasur keluar dari rumah yang disebut milik Eko, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI tersebut.

Bahkan, sejumlah kucing peliharaan ikut dibawa oleh massa yang masuk ke dalam rumah. “Kucing mau saya adopsi,” kata salah satu warga sambil menggendong seekor kucing anggora yang diambilnya dari dalam kandang di basement rumah.

Suasana di rumah Eko Patrio yang didatangi dan dijarah massa pada Sabtu (30/8), (BP/Antara)

2. Sigit Purnomo Said

Permintaan maaf ini juga diikuti oleh Sigit Purnomo Said, yang tampil bersama Eko dalam video tersebut.

Baca juga:  Delapan Tahun Menanti, Harapan Masyarakat Kediri Kembalikan Patung Wisnu Murti ke Catus Pata Terwujud

“Kepada seluruh rakyat Indonesia, saya Sigit Purnomo atau Pasha, hari ini tanggal 30 Agustus 2025, pukul 19.45 di Jakarta,” kata Pasha dikutip dari @ekopatriosuper.

Pria yang bernama panggung Pasha Ungu lantas mengatakan bahwa dia mendampingi Eko untuk menyampaikan permintaan maaf.

3. Surya Utama (Uya Kuya)

Kemudian Anggota DPR, Uya Kuya (Surya Utama) yang menjadi anggota Komisi IX DPR dari PAN, juga menyatakan penyesalannya atas sikapnya yang menyinggung masyarakat, dan berharap masih diberi kesempatan untuk membuktikan kerja serius di parlemen.

Uya Kuya mengunggah video permintaan maaf di Instagram pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025, dan menyampaikan penyesalan atas kegaduhan yang terjadi serta janji bertindak lebih hati-hati.

Permohonan maaf ini juga agaknya tidak digubris masyarakat. Massa melakukan penjarahan di rumah Uya Kuya. Beredar sebuah video yang menampilkan kediaman artis sekaligus anggota DPR di kawasan Jakarta Timur itu didatangi massa, Sabtu (30/8) malam.

Massa berhasil merobohkan pagar rumah Uya Kuya dan langsung menerobos masuk hingga ke lantai dua untuk menjarah apa pun yang ada di rumah tersebut.

Terdengar suara massa berteriak bersahut-sahutan, “Hancurkan” dan benda-benda rumah yang pecah.

Uya Kuya. (BP/Antara)

Dikutip dari Kantor Berita Antara, polisi menangkap sembilan orang terduga penjarah rumah Anggota Komisi IX DPR RI Surya Utama atau disapa Uya Kuya di kawasan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur pada Sabtu (30/8) malam.

“Betul, untuk saat ini kami sudah menangkap sembilan orang,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Dicky Fertoffan saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (31/8).

Penangkapan dilakukan setelah kepolisian mengantongi bukti rekaman video serta sejumlah barang yang dibawa para pelaku.

Barang bukti yang berhasil diamankan berupa sejumlah perabotan dari rumah Uya Kuya.

Ia menyebut, mereka ditangkap di tempat kejadian perkara pada Sabtu (30/8). Polisi juga menelusuri jejak para pelaku melalui rekaman video, termasuk siaran langsung di media sosial yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Baca juga:  SE Satgas No. 17 2022 Atur Prokes PPLN Terbaru, Ini Aturannya

4. Nafa Indria Urbach (Nafa Urbach)

Senada denga itu, anggota IX DPR RI, Nafa Indria Urbach (Nafa Urbach) juga menyampaikan pernyataan permohonan maaf, sambil menahan tangis.

Ia mengaku menyesal telah mengeluarkan pernyataan yang mendukung tunjangan anggota DPR yang justru menimbulkan kemarahan publik di tengah situasi sulit rakyat.

Permintaan maaf ini tak menyurutkan massa untuk menuntut pembubaran DPR. Buntutnya muncul surat keputusan penonaktifan Nafa Urbach yang diteken Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Sekretaris Jenderal Partai NasDem Hermawi Taslim.

Nafa Urbach sudah tak lagi menjadi anggota DPR RI terhitung mulai Senin, 1 September 2025. “Bahwa sesungguhnya aspirasi masyarakat harus tetap menjadi acuan utama dalam perjuangan Partai NasDem,” kata Hermawi di Jakarta, Minggu (31/8) dikutip dari Kantor Berita Antara.

5. Puan Maharani

Permintaan maaf juga datang dari Ketua DPR RI Puan Maharani. Anggota DPR dari PDIP ini menyampaikan permintaan maaf atas nama anggota DPR dalam kunjungannya ke rumah duka Affan Kurniawan, korban tewas dalam aksi demontrasi yang terlindas mobil rantis polisi.

Puan menegaskan DPR harus berbenah dan memperbaiki kinerjanya agar kepercayaan publik tidak semakin tergerus.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani. (BP/Antara)

Ramai-ramainya permintaan maaf dari para politisi ini sebagai respons atas derasnya tekanan publik, justru tampap berbeda dari yang dilakukan oleh Ahmad Sahroni. Politisi Partai NasDem ini justru menolak menarik ucapannya yang menyebut pihak yang ingin membubarkan DPR sebagai “tolol”.

Penolakannya membuat publik semakin geram. Akibat sikap tersebut, Sahroni dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR dan dipindahkan ke Komisi I sebagai anggota biasa. Rumahnya juga tak luput dari penjarahan. (Agung Dharmada/balipost)

BAGIKAN