Seorang pedagang duduk di depan kios menunggu datangnya pengunjung di lantai IV Pasar Badung, Denpasar. Banyak kios dilantai tersebut tutup karena minimnya pengunjung. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kondisi pasar tradisional pascapandemi Covid-19 belum benar-benar pulih. Mengingat, sejumlah pedagang yang berjualan di sejumlah pasar tradisional mengeluhkan sepinya pembeli.

Kondisi ini terjadi, terutama bagi pedagang yang memiliki los atau kios di lantai atas. Seperti yang terjadi di Pasar Badung.

Beberapa kios dan los di lantai 3 dan 4 banyak yang kosong ditinggal pedagang. Sepinya pembeli diakui salah seorang pedagang di pasar tersebut. Pedagang yang tidak mau disebutkan namanya tersebut mengaku jarang dapat berjualan.

Karena itu, pihaknya merasa rugi dengan biaya yang harus mereka bayarkan untuk biaya sewa dan BOP atas kios yang mereka sewa. Pedagang tersebut mengakui kondisi sepi pembeli sudah terjadi sejak mereka pindah dari Pasar eks.Tiara Grosir di Jalan Cokroaminoto.

Baca juga:  Sepuluh Unit Damkar dari 3 Kabupaten/kota Dikerahkan

Belum lagi, setelah itu terjadi pandemi Covid-19, keadaan bertambah sepi. Hingga kini, belum juga pulih. “Bukan sehari, tapi sebulan kadang saya ga dapat jualan. Bukan hanya saya saja, yang lain juga begitu,” katanya.

Kondisi ini membuatnya ingin meninggalkan pasar. Hanya saja dia megaku masih belum memiliki pekerjaan lain untuk menyambung hidup. “Saya ga ada pilihan. Tapi sepinya ini saya perkirakan akan berlanjut yang kemungkinan akan ikut tutup kios ini,” ujarnya.

Baca juga:  Wagub Cok Ace Dampingi Mendag ke Pasar Badung

Demikian dia berharap ada kemudahan semisal biaya operasional dan sewa bisa ditekan. Saat ini dia mengaku masih membayar Rp500 ribu per bulan. Dia berharap jika biaya bulanan bisa Rp50 ribu kemungkinan dia masih bisa bertahan.

Dikonfirmasi terkait keluhan pedagang ini, Dirut Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar Ida Bagus Kompyang Wiranata saat ditemui di sela-sela rapat kerja dengan dewan mengatakan, sebenarnya pedagang saat ini sudah diberikan keringanan biaya sewa. Semestinya mereka bayar Rp300 ribu per bulan sesuai dengan kajian yang dilakukan Unud. Namun kini pedagang hanya bayar Rp 175 ribu.

Ditambah biaya operasional pedagang (BOP) Rp7.500 kali 30 hari menjadi total yang harus dibayar pedagang adalah Rp400 ribu per bulan. “Mudah mudahan dengan selesainya renovasi Pasar Kumbasari akan berdampak ke Pasar Badung,” ujarnya.

Baca juga:  Dari Pengusaha Zaenal Tayeb Diperiksa hingga Perenang Pande Lisa Sabet 7 Emas

Sebelumnya ia membenarkan adanya kios dan los kosong di Pasar Badung. Dia mengungkapkan jumlahnya mencapai 50 persen dari jumlah pedagang di lantai 3 dan 4. Sedangkan lantai 2 dan 3 masih penuh terisi.

Dia menuturkan, banyak pedagang yang relokasi ke Pasar Lokitasari pascakebakaran terdahulu belum kembali lagi ke Pasar Badung. “Jika pedagang tersebut kembali suasana akan ramai lagi,” katanya. (Asmara Putera/balipost)

 

 

BAGIKAN