Komang Anik Sugiani. (BP/iah)

Banyak anak di perdesaan yang hanya bersekolah hingga kelas 6 SD. Setelah lulus, mereka langsung bekerja untuk membantu orangtuanya mencari nafkah. Realita ini terjadi di Desa Mengening, Kubutambahan, Buleleng, seperti diungkapkan Komang Anik Sugiani, peraih Satu Indonesia Award 2021 kategori Agen Of Change Pembelajaran Gratis untuk Anak Perdesaan.

Perempuan yang akrab disapa Anik ini menuturkan fakta yang terjadi di desanya itu yang menggugah dirinya merintis taman pintar untuk membantu anak-anak kurang mampu memperoleh pendidikan sehingga bisa memiliki masa depan yang lebih baik. Anik yang lulusan S3 Universitas Negeri Malang ini menginsiasi pembelajaran anak sejak 2016 bersama sejumlah koleganya yang juga memiliki concern yang sama.

“Rata-rata anak tamat SD sudah bekerja menjadi asisten rumah tangga. Sangat jomplang dengan saya, yang dari desa yang sama, berpendidikan S3. Karena melihat hal seperti itu, saya tergugah membuat sebuah wadah untuk belajar. Tempat belajar ini saya namakan Taman Pintar,” ungkapnya saat sesi wawancara lewat zoom, Selasa (12/9).

Mulanya, lanjut Anik, taman pintar yang diinisiasi ini tak berbentuk yayasan, melainkan komunitas Social Project Jyoti (SPJ). Namun, seiring makin tingginya minat anak-anak untuk ikut belajar di taman pintar yang tak berbayar ini, ia pun membuka diri untuk menerima donasi. Karena menerima donasi dari berbagai pihak, ia membutuhkan legalitas sehingga dibuatlah Yayasan Project Jyoti Bali (YPJB) pada 2020.

Baca juga:  Sekolah Sulit Diakses, DAPD Usulkan Motor Perpustakaan Keliling
Anak-anak di Taman Pintar YPJB diajarkan seni budaya untuk meningkatkan kognitifnya. (BP/Istimewa)

Ketua YPJB ini menerangkan sejak diinisiasi, taman pintar sudah menerima 124 siswa dengan yang terlibat aktif mencapai 74 orang dari 3 desa sekitar. “Mereka terdiri dari anak TK sampai SMA,” jelasnya.

Bahkan, anak-anak yang sudah tamat SMA, ada yang ikut membantu di yayasan. Terdapat 4 orang yang tamat ikut membantu di yayasan. Mereka membantu menjadi tutor bagi anak-anak lainnya sambil berkuliah.

“Selebihnya (mereka yang sudah tamat bersekolah, red) kerja di Denpasar,” ungkap Anik yang merupakan Doktor di Bidang Teknologi Pembelajaran ini.

Di Taman Pintar, anak-anak tak hanya belajar soal sains. Mereka juga diasah kognitifnya lewat berbagai kegiatan budaya dan lingkungan, seperti mengulat tipat, membuat canang sari, mengumpulkan sampah plastik kemudian mengolahnya menjadi ecobrick, dan belajar tari, serta karate. “Kami berkeyakinan ketika anak-anak pintar secara kognitif, mereka juga harus berbudi pekerti luhur dan berkarakter, sehingga nantinya menjadi generasi yang unggul dan berkualitas,” ujar perempuan kelahiran 1990 ini.

Percaya Karma

Disinggung soal dirinya yang rela tak memungut bayaran demi memberikan masa depan yang lebih baik ke anak-anak kurang mampu di perdesaan, Anik mengatakan sebagai orang Hindu, dirinya percaya karma. “Saya orang Bali, orang Hindu, saya percaya karma itu nyata,” tegasnya.

Baca juga:  Bupati Badung Larang Aliran Kepercayaan Manfaatkan Fasilitas Adat

Ia mengaku banyak rezeki yang diperoleh saat dirinya membantu anak-anak kurang mampu ini. Misalnya saja, ia menang beragam penghargaan dan pekerjaannya sebagai dosen tetap di Politeknik Ganesha Guru juga berjalan lancar. “Terlebih lagi, untuk membantu orang kita tak perlu menunggu kaya, karena membantu tak hanya lewat materi. Tapi dengan tenaga dan pikiran juga sangat membantu,” ucap perempuan yang punya metode khusus untuk mengajar yang dinamai Balii (belajar aktif, literatif, interaktif, dan inovatif) ini.

Anak-anak di Taman Pintar YPJB diajarkan seni budaya untuk meningkatkan kognitifnya. (BP/Istimewa)

Disampaikannya, pendidikan itu sangat penting. Tonggak dari perubahan kehidupan adalah pendidikan. “Jika ingin masa depan mu lebih baik lagi, ayo kita berpendidikan,” ajaknya.

Segala kerja keras yang dilakukan Anik untuk membantu anak-anak tak mampu ini, ternyata tak sia-sia. Apresiasi disampaikan salah satu siswa di Taman Pintar YPJB, Luh Sri Devi Widiani.

Remaja berusia 17 tahun ini mengaku sangat beruntung karena dapat belajar di Taman Pintar. Ia bisa belajar segala hal, mulai dari hal kecil hingga suatu yang luar biasa. “Bahkan, dapat mengikuti banyak lomba, memiliki banyak pengalaman, dan tentunya semua pembelajaran dan kegiatannya sangat seru,” katanya saat dihubungi lewat WhatsApp.

Ia mengaku tahu tentang taman pintar ini saat Anik menyosialisasikan dan diajak bergabung. Dirinya pun tiap hari mengikuti kegiatan di sana, mulai menari, yoga, pengenalan lingkungan, hingga karate. Untuk waktunya, Senin sampai Jumat, dari pukul 16.00-18.00 WITA. Sementara pada Sabtu dan Minggu dari pukul 09.00 sampai 12.30 WITA.

Baca juga:  Berbagai Persiapan Sudah Dilakukan, "Open Border" Diharapkan Sesuai Jadwal

Ucapan terima kasih juga terlontar dari salah satu orangtua siswa di taman pintar. Luh Mely Astini yang dua buah hatinya dibina oleh YPJB sangat merasakan manfaat dari taman pintar. “Sangat senang karena anak mempunyai kesibukan di hari libur dan belajar bertanggung jawab dalam memanfaatkan sampahnya sendiri dijadikan ecobrick di YPJB. Anak semakin kreatif dan displin,” katanya menyampaikan kesan selama dua anaknya dibina YPJB.

Jika saja ada banyak Anik lainnya, masa depan generasi penerus bangsa tentu akan lebih baik. Anak-anak tak mampu akan memiliki kesempatan sama dalam memperoleh pendidikan tinggi dan mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.

Mimpi Anik yang ingin suatu saat ada regenerasi untuk melanjutkan misinya membantu mengubah masa depan anak di desanya, mari kita bantu mewujudkan. Mulai lah bergerak bersama untuk masa depan lebih baik. Seperti kata Anik, sekecil apapun bantuan yang bisa diberikan, pasti akan berguna bagi mereka yang memerlukan. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN