Petugas dan warga memotong batang pohon beringin di Pura Puseh Ganggangan yang tumbang karena cuaca ekstrem, Senin (27/6). (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Pohon beringin kembar (bingin kembar) berusia ratusan tahun yang dikenal pingit (angker) di Pura Puseh Ganggangan, Banjar Pagi, Desa Senganan, Penebel, Tabanan tumbang, Senin (27/6). Selain dianggap pingit oleh warga setempat, daun pohon beringin ini juga dipercaya bisa untuk tamba (obat).

Pasckejadian, potongan-potongan kayu dari pohon beringin ini tidak diperbolehkan dibawa pulang. Material hanya akan diletakkan pada tempat yang dirasa aman untuk dibiarkan sampai lapuk.

Dari pantauan di lapangan, petugas BPBD Tabanan dibantu krama setempat melakukan evakuasi pohon beringin kembar yang tumbang sekitar pukul 09.00 WITA. Saat kejadian yang disaksikan langsung Jro Mangku Dalem terjadi saat hujan lebat.

Menurut penjelasan I Wayan Asmara Jaya Putra, atau pemangku pengayah Pura Puseh saat ditemui di lokasi kejadian, saat itu Jro Mangku Dalem tengah berteduh tidak jauh dari lokasi Pura. Ia mengaku seperti mendengar suara retakan pohon (kretek..kretek,red) disusul suara gemuruh dan melihat pohon beringin kembar yang ada di Pura Puseh tumbang.

Baca juga:  PHDI Tabanan Juga Tolak Proyek SUTET di Segara Rupek

Beruntung tidak sampai ada korban jiwa dalam insiden itu, pasalnya batang pohon beringin kembar dengan diameter yang cukup besar ini dengan ketinggian sekitar 15 meter tumbang menutup akses jalan penghubung Banjar Munduk Paku ke Senganan dan kerap dilintasi warga. Bahkan sepeda motor milik warga yang terparkir dekat dengan lokasi kejadian juga sempat ditimpa ranting pohon beringin.

Namun saat pohon tumbang, memang ada seorang warga Ni Ketut Sriasih (60) datang dari tegalan membawa kayu bakar (saang) saat melintas di lokasi kaget dan sempat pingsan. “Dia ini (Sriasih) hampir tertimpa, karena tumbang pelan-pelan, sempat menghindar hingga akhirnya kaget dan pingsan. Dan sudah kita tunasin tadi di Pura agar bisa merasa tenang,” terang Jro Mangku Asmara Jaya Putra.

Baca juga:  Ribuan Meter Garis Pantai di Buleleng Alami Abrasi Parah

Didampingi Jro Mangku Periana (I Ketut Suwendra), pengayah ring bale agung, dijelaskan juga pohon beringin kembar ini sudah berusia sekitar 200 tahun dengan ketinggian sekitar 30 meter. Tumbangnya pohon ini menyebabkan penyengker Pura Puseh rusak sepanjang kurang lebih lima meter.

Pohon beringin kembar menurut dua pemangku pengayah inipun dikenal pingit. Dimana saat ada Pujawali, daunnya digunakan untuk mengghias Pralingga. Termasuk ada juga yang meyakini daun pohon beringin ini bisa untuk menyembuhkan penyakit seperti lumpuh ataupun stroke. “Ada beberapa warga setempat yang memang kerap nunas daunnya untuk dijadikan boreh untuk obat, tentunya semua kembali pada keyakinan termasuk jika Beliau yang diatas berkenan,”pungkasnya.

Baca juga:  Dari Mobil Rombongan “Pemedek” Oleng dan Terbalik hingga Banyak Hotel dan Vila Dijual

Terkait dengan rencana perbaikan termasuk pelaksanaan upacara pasca kejadian, keduanya mengaku masih akan melakukan kordinasi atau rembug dengan prajuru desa. “Rencananya masih akan rembug, setelah pembersihan potong potong kayu,” jelasnya.

Terpisah, Kapolsek Penebel AKP I Nyoman Artadana, mengatakan, kejadian pohon tumbang ini adalah dampak dari cuaca yang cukup ekstrem belakangan ini, curah hujan cukup tinggi, dan angin kencang. Selain itu penyebab tumbangnya pohon Beringin yang berdiameter kurang lebih 3 meter dengan tinggi 30 meter tersebut karena usia pohon sudah tua, yakni sekitar 200 tahun. “Di tempat itu ada dua pohon beringin, awalnya yang tumbang pohon di posisi timur, kemudian menimpa cabang pohon beringin di sebelah barat selanjutnya menimpa tembok penyengker Pura Puseh sepanjang 5 meter,” terangnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN