Sejumlah toko oleh-oleh dan kerajinan yang ada di seputaran Kuta, Kabupaten Badung. (BP/Dokumen)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Pariwisata Kuta yang mulai menggeliat pascadibukanya border internasional dan pelonggaran aturan bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) kembali mendapat tantangan. Pasalnya, dengan mulai ada kunjungan wisatawan, gepeng yang berkedok jualan tisu juga mulai menjamur.

Kondisi ini telah banyak mendapat keluhan dari wisatawan yang berkunjung ke Kuta. Jika hal ini dibiarkan akan membuat citra pariwisata kembali tercoreng.

Terkait hal itu, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kuta, I Made Agus Suantara mengaku telah menindaklanjuti laporan keberadaan gepeng berkedok jualan tisu di kawasan Pantai Kuta, yang meresahkan wisatawan. Menurutnya, hal ini harus mendapat perhatian serius karena di Kuta pariwisata baru mulai menggeliat setelah selama dua tahun terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Baca juga:  Bandara Bali Utara Diakomodir dalam Revisi Perda RTRWP Bali, Ubah Struktur Transportasi

Isu pedagang tisu ini bisa menjadi ancaman bagi pariwisata Kuta. Kata dia, sebagian besar dari mereka merupakan kalangan anak-anak. Informasi keberadaan mereka diketahui dari laporan masyarakat pada Minggu (17/4).

Atas laporan tersebut, pihaknya telah meminta Satpol-PP untuk bergerak menangani penjual tisu di sepanjang jalan di Kuta. “Saat itu beberapa penjual tisu sudah diamankan dan dilakukan pembinaan,” katanya, Selasa (19/4).

Mengingat dari informasi diketahui mereka tinggal di wilayah Kuta, pihak kecamatan akan memanggil pemilik rumah kos tempat mereka tinggal termasuk akan memanggil kElian lingkungan yang ada di lokasi mereka tinggal. “Kita harus bergerak dan mengantisipasi untuk bisa menjaga keamanan dan menjamin wisatawan untuk berkunjung ke Kuta,” tegasnya.

Baca juga:  Banyak Desa Wisata, Baru Sedikit yang Dilirik Wisatawan

Diceritakannya, informasi awal didapatkan dari salah seorang guide. Kala itu, guide tersebut sedang mengantar wisatawan dan didekati oleh pedagang tisu. Mengingat wisatawan itu tidak mau membeli, pedagang tisu kemudian beralih meminta uang kepada wisatawan.

Mereka bahkan memaksa meminta uang kepada wisatawan. Merasa risih, wisatawan tersebut kemudian meninggalkan pedagang tisu ini. Namun para pedagang tisu tadi terus mengajarnya. Akibat kejadian ini, guide ini kemudian menyampaikan kepada Bendesa Adat Kuta.

Baca juga:  Wakapolda Larang Personel "Over Acting" Unggah Tangkapan di Medsos

Lebih lanjut Agus Suantara menegaskan, pihaknya akan terus bergerak bersama Satpol PP BKO Kuta, Linmas serta berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk menindaklanjuti persoalan ini karena sangat berkaitan dengan citra pariwisata. “Ini sangat merugikan wisatawan yang berkunjung ke Kuta. Terkait apakah ini ada yang mengorganisir, belum bisa memastikan hal itu. Saat ini yang bisa dilakukan adalah pemberian pembinaan dan pengembalian ke daerah asalnya,” ujarnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN