Ratusan warga Desa Adat Blahbatuh Tua menggelar tradisi malasti setelah 15 hari perayaan Nyepi di Pantai Saba, Blahbatuh, Gianyar, Rabu (17/3). (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Berbicara soal desa adat di Bali banyak ditemukan sisi unik dan menarik. Seperti tradisi desa adat di Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.

Di sini ada tradisi unik digelar secara turun temurun
yakni ritual “Melasti” ke pantai yang dilaksanakan
setelah hari raya Nyepi. Tepatnya pada bulan penuh,
Purnama Sasih Kadasa. Sementara kegiatan ritual
pacaruan Tawur Agung Kasanga tetap dilaksanakan
sehari sebelum Nyepi, sama seperti desa adat lainnya.

Untuk pelaksanaan melasti pada Purnama Sasih Kadasa, Rabu (17/3) yang mendapat giliran sebagai panitia (panyanggra) yakni Desa Adat Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar. Bandesa Adat Belega, Ida Bagus Made Sujana mengatakan belum lama ini warganya mendapat giliran sebagai penyelenggara (ngemong) pelaksanaan melasti pada Purnama Kadasa, Rabu (17/3) lalu.

Baca juga:  Badung Luncurkan Layanan Elektronik Pendaftaran Tanah

Dikatakan, yang melaksanakan melasti setelah
15 hari perayaan Nyepi itu Desa Adat Blahbatuh
Tua yang terdiri 28 desa adat di Kecamatan Blahbatuh. Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun dan berlangsung dan dipertahankan hingga sekarang ini. “Hanya pelaksanaan malasti digelar setelah hari raya Nyepi, sementara pacaruan Tawur Agung Kasanga tetap ikut seperti desa adat pada umumnya yakni saat Pangrupukan, sehari sebelum hari raya Nyepi,” kata Bandesa Adat.

Baca juga:  Wisman yang Naik Pelinggih di Pura Luhur Batukaru Serahkan Diri

Dalam ritual malasti Purnama Sasih Kadasa yang
berlangsung di Pantai Saba, Blahbatuh di-puput Ida
Pedanda Gede Rai Buruan dari Geriya Belong, Desa Belega. Konon dulu di Desa Adat Blahbatuh Tua sempat mengubah tradisi melasti sebelum hari raya Nyepi, namun tiba-tiba terjadi bencana.

Sehingga para tokoh adat rapat untuk melakukan melasti kembali sesuai tradisi yang sudah biasa berjalan. Ditambahkan, selama COVID-19, Desa Adat Blahbatuh Tua tidak menggelar melasti ke pantai.

Baca juga:  Desa Adat Belega Gelar Upacara Atma Wedana

Namun kali ini mendapat izin pemerintah karena warga sudah 100 persen mendapat vaksinasi sehinggad digelar melasti dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sementara sejumlah pratima seperti Barong Ket, Barong Landung dan beberapa pratima lainnya juga dibawa dalam upacara melasti ini. (kmb/balipost)

BAGIKAN