Sejumlah petugas dari Peternakan dan LH mengecek peternakan ayam. (BP/Istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Munculnya serbuan lalat ke rumah-rumah warga dikeluhkan warga. Gerombolan lalat yang muncul dengan jumlah tak biasa ini diduga dampak dari kandang peternakan ayam.

Menyikapi keluhan warga itu, Dinas Pertanian dan Pangan dan Dinas Lingkungan Hidup Jembrana, Rabu (8/12), turun melakukan pengecekan ke sejumlah peternakan ayam di Desa Batuagung dan Perancak. Dari pengecekan memang sebagian besar sudah panen, namun ekses dari pascapanen itu mengakibatkan lalat beterbangan ke permukiman warga.

Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gede Putu Kasthama, Kamis (9/12) memastikan lalat yang menyerbu ke permukiman warga ini merupakan dampak dari pascapanen peternakan ayam. Meskipun kandang sudah bersih dan kotoran dibersihkan, namun lalat-lalat yang sebelumnya di kandang terbang ke tempat lain untuk mencari makan.

Baca juga:  Mulai Agustus, Kantor PLN se-Bali Gunakan PLTS Atap

Di samping juga musim penghujan. “Kami berikan pembinaan ke pemilik kandang untuk segera membuang atau membersihkan kotoran ayam. Dan penyemprotan rutin. Termasuk pascapanen, beberapa mengungkapkan akan melakukan upaya selain penyemprotan juga menggunakan maggot,” kata Kasthama.

Maggot (belatung lalat) menurutnya salah satu cara yang efektif untuk mengurai kotoran dan bisa dijadikan makanan ikan sebelum menjadi lalat hitam. Dan di beberapa peternakan ayam sudah diterapkan mengurangi dampak munculnya lalat.

Baca juga:  Belasan Cakel Petahana Ditumbangkan Pendatang Baru

Terkait ijin, menurutnya dari pengecekan memang belum berijin. Disebabkan kendala pengurusan salah satu syarat, IMB bangunan kandang. Dan beberapa peternakan yang berada dekat permukiman ini skala kecil. “Serangan lalat ini sempat terjadi di beberapa lokasi. Di antaranya Batuagung, Perancak dan Tegalcangkring. Kami langsung melakukan pengecekan menindaklanjuti keluhan warga,” kata dia.

Dari beberapa lokasi itu memang terdapat kandang ayam peternak baik ayam boiler maupun petelur. Dan rerata merupakan peternakan rakyat kerjasama dengan perusahaan. Sistem ini mereka hanya memelihara dan dibeli sesuai kesepakatan kerjasama.

Baca juga:  Bupati Tamba Buka Bimtek Pengembangan Desa Wisata dan Digital

Akan tetapi meskipun skala kecil maupun besar, menurutnya tetap harus menjaga kebersihan baik itu sebelum, saat pemeliharaan hingga pascapanen. Pendataan terus dilakukan Dinas dan para peternak ini diarahkan untuk pengurusan izin. Sebab sebagian besar, peternakan ini belum berizin meskipun skala kecil. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN