I Wayan Dirgayusa. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Tingkat keterisian tempat isolasi terpusat (isoter) di Kabupaten Bangli terus menurun. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bangli mencatat, dari 96 bed yang disediakan saat ini hanya terisi 19.

Menurunnya tingkat keterisian tidak hanya terjadi karena kasus aktif yang mengalami penurunan. Juga dikarenakan warga yang terpapar COVID lebih memilih menjalani isolasi di rumahnya atau isolasi mandiri (isoman).

Baca juga:  Desa Abuan Masuk Zona Transmisi Lokal, Warganya akan Dikarantina dan Jalani "Rapid Test"

Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bangli I Wayan Dirgayusa mengatakan sekitar akhir Agustus lalu tempat isoter yang disediakan Pemkab Bangli di gedung RSJ Provinsi Bali pernah full. Seluruh bed yang ada terisi penuh. Bahkan pernah melebihi kapasitas yang disediakan. “Pernah full sampai 102,” ungkapnya Rabu (22/9).

Namun belakangan tingkat keterisian bed di isoter berkurang.seiring menurunnya angka kasus. Warga yang tak bergejala meski terjangkit COVID-19 juga lebih memilih isoman. Salah satu alasannya karena merasa lebih nyaman.

Baca juga:  Soal Pedagang Bangli Diimbau Tak Jualan di Gianyar, Ini Reaksi Bupati Bangli

Jelas Dirgayusa, selama ini Pemkab Bangli memang memberikan pilihan kepada warga yang terkonfirmasi positif bergejala ringan untuk menjalani isolasi terpusat atau isolasi di rumah. Apabila memilih menjalani isolasi di rumah, semua anggota keluarga dari warga yang positif itu wajib ikut isolasi. “Misalnya dalam satu keluarga yang terdiri dari lima orang, ada satu yang posiitif covid dan memilih isolasi di rumah, empat anggota keluarganya yang ada di pekarangannya wajib ikut isolasi,” jelasnya.

Baca juga:  Isoman Dianggap Berisiko Tinggi, Gubernur Koster Keluarkan Surat Aktivasi Isolasi Terpusat

Disebutkannya, saat ini total jumlah warga Bangli yang menjalani isoman mencapai 328 orang. Sementara jumlah kasus aktif COVID-19 tercatat hanya 158 orang. “Kenapa warga yang isolasi jumlahnya lebih banyak dari kasus aktif karena banyak warga tidak positif ikut isolasi,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *