Pisang asal Lombok, NTB membanjiri Pasar Galiran, Klungkung. (BP/dok)

Oleh : Agung Kresna

Pasokan janur dari Jawa mencapai 100 ton/hari (Bali Post, 13/2). Kondisi yang terjadi pada masa hari raya Galungan dan Kuningan ini menyiratkan besarnya potensi pasar komoditi pertanian di Bali.

Data lain menunjukkan bahwa pasokan aneka buah dari Jawa pada pekan pertama Februari mencapai 1.115,2 ton. Angka yang cukup besar untuk menggambarkan potensi pasar produk pertanian di Bali.

Galungan dan Kuningan adalah momentum bisnis produk pertanian bagi pelaku ekonomi Bali yang berlangsung setiap 210 hari sekali. Kebutuhan krama Bali atas sarana upakara yang sebagian besar berupa produk pertanian, demikian besarnya pada momentum tersebut.

Sayangnya, kebutuhan produk pertanian tersebut tidak sepenuhnya dapat dipenuhi dari bumi Bali sendiri. Sebagian besar masih harus didatangkan dari luar Pulau Bali. Padahal ada potensi ekonomi sangat besar yang sebenarnya dapat diraup oleh krama Bali, dalam upaya memenuhi kebutuhan rutin kehidupan mereka sendiri.

Ketika Thomas Robert Malthus mengemukakan teori mengenai penduduk melalui edisi pertama ‘’Essay on Population’’ tahun 1798, masyarakat dunia seakan diingatkan akan kebutuhan pangan manusia. Dalil yang dikemukakan Malthus menyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan laju pertumbuhan pangan cenderung meningkat secara arismatik (deret hitung). Melalui teorinya Malthus pada prinsipnya menyampaikan bahwa pangan/bahan makanan adalah penting untuk kehidupan manusia.

Lalu bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia, utamanya Bali. Indonesia –-apalagi Pulau Bali– yang dikaruniai tanah sangat subur, rupanya masih belum mampu mengelola potensi alam yang ada guna memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Kebutuhan pangan Bali utamanya produk pertanian, harus kita akui masih banyak yang perlu didatangkan dari luar Pulau Bali. Padahal cukup banyak lahan di Pulau Bali yang sangat subur untuk diolah sebagai area pertanian/perkebunan sebagai sumber penghasil produk pangan bagi seluruh krama Bali.

Saat ini kejayaan salak Bali, jeruk Kintamani, kopi Singaraja, maupun manggis dan apel Bali seakan redup dan tinggal nama. Meski akhir-akhir ini sudah mulai terasa adanya upaya membangkitkan kembali produk unggulan pertanian Bali. Ironi pertanian Bali memang sebenarnya sudah cukup lama berlangsung. Padahal produk pertanian sejatinya sudah tumbuh dan berkembang menjadi penggerak roda ekonomi krama Bali, jauh sebelum industri pariwisata menyerbu Bali dan menawarkan gelimang dolar.

Tidak ada salahnya jika kita belajar dari negara Thailand dalam membangun pertanian masyarakat sebagai upaya menciptakan kemandirian pangan. Melalui berbagai riset dan teknologi unggul di bidang pertanian, Thailand berhasil membangun pertanian masyarakat hingga menghasilkan produk pangan berkualitas yang tidak saja cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal, namun sekaligus juga mampu melakukan ekspor produk pertaniannya. Meski secara luasan lahan, wilayah Thailand jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia.

Bagi Bali saat ini bagai ada keterpaduan yang hilang antara dunia riset di kampus dengan pemerintah daerah selaku pengampu pertanian krama Bali. Ada pendapat bahwa hasil riset pertanian di kampus belum dapat teraplikasi dengan baik di dunia nyata pertanian krama Bali. Sementara dukungan dari pemerintah daerah pada riset pertanian di perguruan tinggi juga dianggap belum optimal.

Budaya Pertanian

Pertanian hakikatnya adalah budaya keseharian krama Bali. Hanya di Bali ada tempat sembahyang –-berupa palinggih atau pelangkiran– di area ladang pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian menjadi denyut nadi kehidupan keseharian krama Bali. Masyarakat Bali sudah makmur sejahtera secara ekonomi jauh sebelum adanya gelimang dolar dari pariwisata.

Keseharian masyarakat Bali pada hakikatnya adalah kehidupan pertanian. Kehidupan krama Bali sejatinya sejalan dengan tatanan musim. Segala jenis upakara dalam kehidupan krama Bali selalu dalam bingkai hitungan alam, sejak Triwara, Panca Wara, Sapta Wara, wuku hingga sasih. Segala sarana upakara dalam keseharian krama Bali adalah hasil pertanian dari sawah, ladang dan kebun. Hanya saat ini semua abai terhadap pertanian Bali, kalah dengan kilau dunia pariwisata.

Potensi besar yang ada dalam bisnis pertanian Bali bagai disia-siakan. Akibatnya saat ini justru sarana upakara krama Bali lebih banyak didatangkan dari luar Pulau Bali. Atau sarana upakara yang sebelumnya menggunakan produk dari sawah dan kebun krama Bali, disiasati dengan penggunaan produk instan dari pabrik dalam kemasan sachet.

Potensi bisnis pangan/pertanian Bali harus digali dengan cara memaknai pertanian sebagai farming, tidak boleh hanya dimaknai sebagai agriculture semata. Sehingga tercakup bidang agriculture farm (bercocok tanam), dairy farm (berternak penghasil susu, keju), fish farm (bertambak ikan) maupun poultry farm (berternak unggas). Pertanian Bali harus dikerjakan dalam pola industrial farming. Harus tercakup unsur agroteknologi, agroindustri, dan agrobisnis.

Pada prinsipnya, potensi bisnis pertanian Bali harus digarap dengan Hi-Tech (teknologi tinggi) dan Hi-Touch (citarasa tinggi), sejak pembibitan, pembudidayaan, hingga pascapanen. Dilakukan melalui sentuhan teknologi informasi sehingga berwujud smart-farming. Krama Bali harus bangga atas kekayaan warisan budaya pertanian yang mereka miliki, serta sadar hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Harus kembali ke jati diri krama Bali dengan sifat komunal penuh kemitraan, dalam balutan filosofi keseimbangan Tri Hita Karana.

Penulis, Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies Bali, tinggal di Denpasar

BAGIKAN