Umat Hindu melaksanakan ritual melukat saat Banyu Pinaruh di Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu (1/11). Umat Hindu di Bali memaknai Banyu Pinaruh sebagai kesempatan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin sekaligus menyucikan pengetahuan yang telah diperoleh. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ribuan umat Hindu mendatangi Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, untuk melaksanakan persembahyangan dan menyucikan diri saat Banyu Pinaruh, Minggu (1/11).

Banyu Pinaruh yang jatuh sehari setelah Hari Raya Saraswati tersebut dimaknai sebagai kesempatan bagi umat untuk membersihkan diri secara lahir dan batin sekaligus menyucikan pengetahuan yang telah diperoleh.

Pemaknaan Banyu Pinaruh tersebut diwujudkan melalui prosesi Penglukatan Agung Banyu Pinaruh yang diselenggarakan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Wilayah Bali. Prosesi penglukatan yang berlangsung sejak pagi itu dipuput oleh tujuh sulinggih.

Ketua Panitia, Jero Gede Made Wirawan, menerangkan sekitar 2000 orang umat yang mengikuti kegiatan kali ini. Jumlah tersebut menurun dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang mencapai 4000 orang.

Baca juga:  Kajian Penyesuaian Tarif Roro Terus Bergulir

“Sekarang sedikit menurun, mungkin karena kesibukan, situasi, dan lain sebagainya,” terang Ketua Panitia.

Menurutnya, Banyu Pinaruh memiliki makna penting dalam rangkaian Hari Raya Saraswati. Banyu berarti air yang digunakan untuk membersihkan diri, sedangkan Pinaruh berkaitan dengan pengetahuan atau ilmu yang telah diterima umat.

Melalui momentum ini, umat diharapkan tidak hanya membersihkan diri secara fisik, tetapi juga menyucikan dan menjaga pengetahuan yang telah diperoleh agar dapat diterapkan secara bijaksana dalam kehidupan.

“Ilmu yang sudah kita dapatkan ini disucikan agar tetap bisa dijaga karena perjalanan masih panjang,” jelasnya.

Baca juga:  Volume Sampah Pergantian Tahun di Badung Pecahkan Rekor

Dalam prosesi Penglukatan Agung tersebut, umat secara bergiliran menerima tirta dari para sulinggih. Rangkaian penglukatan meliputi tujuh jenis pangelukatan, yakni Panglukatan Gangga, Siwa Baruna, Wisnu Panjara, Siwa Geni, Budha, Wana Gamana, dan Marga Gamana. Prosesi kemudian diakhiri dengan penggunaan karawista.

Ia menjelaskan, rangkaian ritual untuk mempersiapkan tirta penglukatan telah dilaksanakan sejak malam sebelumnya. Dalam upacara tersebut, pemangku melaksanakan ritual di tengah laut dengan mencelupkan botol tertutup ke dalam air laut untuk memperoleh tirta nirmala.

Selanjutnya, pada pagi hari bertepatan dengan Banyu Pinaruh, tirta tersebut dipendak untuk digunakan dalam prosesi penglukatan. Para sulinggih kemudian memberikan puja sehingga tirta nirmala menjadi salah satu bahan dasar tirta penglukatan.

Baca juga:  Baik untuk Upacara Dewa Yadnya, Berikut Ala Ayuning Dewasa 4 Desember 2025

“Ida Sulinggih memberikan puja untuk tirta nirmala ini dan menjadi salah satu bahan dasar tirta untuk melukat,” paparnya.

Lebih lanjut, Jero Gede Made Wirawan mengatakan, selama ini masyarakat umumnya mendatangi pantai saat Banyu Pinaruh untuk melukat dan membersihkan diri dari mala. Namun, melalui Penglukatan Agung Banyu Pinaruh, makna penyucian tersebut diperluas, tidak hanya untuk menghilangkan mala, tetapi juga memohon tirta pangweruh guna memperoleh pengetahuan sejati. (Eka Adhiyasa/balipost)

 

BAGIKAN