
DENPASAR, BALIPOST.com – Tim Spensyora dari SMPN 9 Denpasar meraih juara dalam ajang kompetisi JA SparktheDream Social Challenge 2026. Tim yang berhasil meraih juara ketiga ini mengembangkan Cashora, situs web pencatatan uang saku yang memberikan notifikasi ketika pengeluaran meningkat terlalu cepat, sehingga anak-anak dan keluarga dapat menyesuaikan kebiasaan belanja sebelum uang saku habis.
Tim 13 Finsmart dari SMPN 13 Bandung meraih Juara Pertama melalui Finhabit, platform interaktif yang menggabungkan latihan, simulasi, dan tantangan kehidupan nyata agar pengguna dapat mempraktikkan pengetahuan keuangan, lalu merefleksikan keputusan mereka untuk membangun kebiasaan sehari-hari.
Sementara itu, Tim Finshield dari SMP Nation Star Academy Surabaya meraih juara kedua melalui Finshield, permainan papan dengan kartu skenario penipuan yang mengajak remaja mengenali risiko finansial dan berlatih mengambil keputusan keuangan yang aman. Solusi ini dilengkapi jurnal finansial, tantangan bersama keluarga, dan mentor AI SORA untuk mendukung pembelajaran.
Dua tim terbaik berhak mewakili Indonesia pada kompetisi tingkat Asia Pasifik pada November 2026. Mereka akan bersaing dengan peserta dari Hong Kong SAR, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.
Menurut Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan, Halimatus Sa’diyah, pelajar merupakan salah satu segmen prioritas dalam penguatan literasi dan inklusi keuangan karena tingkat pemahaman dan penggunaan layanan keuangannya masih berada di bawah rata-rata nasional. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan kalangan pelajar telah mencapai 92,76 persen, sementara indeks literasinya baru 62,72 persen.
Ia mengatakan edukasi sejak usia sekolah menjadi investasi penting untuk membangun kemampuan mengelola uang, memahami risiko, serta memanfaatkan layanan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab di masa depan. “Oleh karena itu, kolaborasi pemerintah, industri jasa keuangan, sekolah, keluarga, dan organisasi masyarakat diperlukan agar pembelajaran semakin relevan dan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” katanya.
Di tengah ketidakpastian finansial, lanjutnya, penguatan literasi dan kemampuan pengambilan keputusan keuangan sejak dini menjadi fondasi penting bagi ketahanan finansial generasi muda. Namun, akses layanan keuangan di kalangan generasi muda belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Kompetisi yang digagas FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) ini merupakan wadah bagi siswa SMP untuk mengembangkan inovasi sosial yang mendukung kesejahteraan finansial komunitas. Kompetisi ini merupakan puncak program JA SparktheDream yang pada tahun keempat menjangkau lebih dari 2.300 siswa di 12 kota dan kabupaten.
Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, mengungkapkan pihaknya berkeinginan agar siswa mampu menggunakan pengetahuan keuangan untuk mengambil keputusan dan memahami persoalan di sekitarnya. Ketika merancang solusi, mereka perlu mempertimbangkan siapa yang membutuhkan, bagaimana solusi digunakan, dan manfaat yang ingin dicapai.
Ia pun menekankan pendampingan guru, keluarga, dan sukarelawan membantu mereka mempertajam gagasan. “Proses ini mengasah penalaran kritis, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama, sekaligus membangun kepercayaan diri bahwa mereka dapat berkontribusi bagi komunitasnya,” jelasnya.
Sebelum memasuki kompetisi nasional, lanjutnya, peserta telah mengikuti bootcamp daring untuk mengembangkan solusi literasi keuangan yang relevan dan meningkatkan keterampilan presentasi. Sesi mentoring bersama sukarelawan turut memperkuat pengembangan ide dan kesiapan peserta untuk mempresentasikan solusi pada kompetisi nasional.
Rudy F. Manik, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance menambahkan di tengah tekanan finansial dan ketidakpastian pendapatan yang dihadapi masyarakat, pembelajaran keuangan sejak usia sekolah menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi risiko dan perubahan sepanjang kehidupan.
Pihaknya berkomitmen membantu mereka membangun kebiasaan finansial yang sehat serta kemampuan mengambil keputusan yang selaras dengan aspirasi mereka. “Fondasi ini memberi mereka kepercayaan diri untuk merencanakan masa depan dan meraih peluang,” katanya.
Dua belas gagasan yang dihadirkan dalam kompetisi tingkat nasional ini menawarkan solusi untuk memperkuat kebiasaan finansial, meningkatkan keamanan keuangan digital, serta mendukung pengelolaan keuangan keluarga.
Sejak dimulai pada 2023, program literasi keuangan ini telah menjangkau lebih dari 8.200 siswa di Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, Bandung, Cimahi, Surabaya, Sidoarjo, Bogor, Tangerang, Bekasi, Denpasar, dan Semarang. Melalui kolaborasi berkelanjutan, diharapkan bisa memperkuat ekosistem literasi keuangan yang menghubungkan rumah, sekolah, dan komunitas, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. (Suardika/balipost)

