Bahas tantangan bisnis asuransi, peserta dari 22 negara kumpul di Nusa Dua, Bali. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Berbagai tantangan dihadapi industri asuransi dan reasuransi global. Tantangan tersebut meliputi ketidakpastian geopolitik, tekanan ekonomi makro, peningkatan risiko perubahan iklim, ancaman siber, hingga potensi kemunculan kembali pandemi. Demikian mengemuka dalam Indonesia Rendezvous yang digelar Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).

Ketua AAUI, Budi Herawan, mengatakan forum tahunan industri asuransi dan reasuransi, yang pada 2026 memasuki penyelenggaraan ke-30 ini diikuti 873 peserta dari 22 negara. Kegiatan digelar di Nusa Dua, Badung, Bali selama 4 hari, 12 sampai 15 Oktober 2026.

Ia mengungkapkan jumlah peserta internasional tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti perwakilan dari 20 negara. Ada pun 22 negara yang berpartisipasi, yakni Uni Emirat Arab, Australia, Bahrain, Belarus, Swiss, Tiongkok, Siprus, Jerman, Prancis, Britania Raya, Hong Kong, Indonesia, India, Korea Selatan, Mongolia, Malaysia, Nigeria, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Baca juga:  Chinese Tourist Visits to Bali Decline 29 Percent

Memasuki tiga dekade penyelenggaraannya, lanjut Budi, forum ini terus memperkuat perannya sebagai wadah strategis yang mempertemukan pelaku industri, regulator, perusahaan reasuransi, dan mitra ekosistem dari dalam maupun luar negeri. Forum ini menjadi ruang untuk bertukar wawasan, memperluas jejaring bisnis, serta membangun kolaborasi guna mendukung pertumbuhan industri asuransi dan reasuransi yang berkelanjutan.

Penyelenggaraan Indonesia Rendezvous ke-30 menjadi momentum untuk memperkuat konektivitas industri asuransi dan reasuransi Indonesia dengan pasar internasional.

Baca juga:  Bali's First Food & Wine Festival at Rumah Luwih Beach Resort

Keterlibatan peserta dari berbagai kawasan tersebut diharapkan dapat memperluas jaringan profesional, meningkatkan pertukaran pengetahuan, serta membuka peluang kemitraan antara perusahaan domestik dan mitra internasional.

Beragam tantangan yang ada, katanya, menuntut pelaku industri untuk memperkuat pengelolaan risiko, mengevaluasi strategi bisnis, dan meningkatkan kesiapan dalam menghadapi perubahan lingkungan usaha. Pembahasan forum mencakup dampak risiko global terhadap pengelolaan aset dan liabilitas, profitabilitas, serta pengembangan produk asuransi.

Pada hari pertama, pembahasan mencakup kondisi pasar reasuransi global, risiko geopolitik, tekanan ekonomi, dampak perubahan iklim terhadap protection gap, Compulsory Third Party Liability, serta perkembangan ekonomi dan keuangan Indonesia.

Baca juga:  Sendai Focal Point Reception Held at Museum Pasifika

Agenda juga membahas risiko pandemi dan ancaman kesehatan yang berkembang. Selain itu, peserta mendiskusikan transformasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), transisi menuju mobilitas listrik, dan penguatan ketahanan siber.

Sementara itu, hari kedua difokuskan pada isu kebijakan dan operasional yang berkaitan dengan industri asuransi. Topik yang dibahas antara lain penguatan ketahanan keuangan perusahaan asuransi melalui regulasi berbasis risiko, koordinasi manfaat dalam pembiayaan kesehatan, serta Program Penjaminan Polis. (Suardika/balipost)

BAGIKAN