Suasana antrean warga yang hendak membeli BBM di salah satu SPBU di Tabanan pada Selasa (13/10). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Bali terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pada Juli, Agustus, dan September 2026, konsumsi BBM harian secara konsisten berada di atas 5.000 kiloliter (KL).

Bahkan, angka terbaru mencapai sekitar 5.700 KL per hari, jauh di atas rata-rata konsumsi harian sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 4.766 KL.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Bali, I Kadek Mudarta, mengatakan peningkatan konsumsi tersebut mulai terlihat sejak Juli 2026. Sebelumnya, selama Januari hingga Juni 2026, konsumsi BBM harian masih berada di bawah 5.000 KL.

“Mulai Juli, Agustus, dan September memang konsisten di atas 5.000. Sebelumnya, dari Januari sampai Juni, angkanya masih di bawah 5.000 KL,” ungkapnya, Rabu (14/10).

Baca juga:  Renon Mencekam, Demo Anarkis Hingga Dini Hari

Peningkatan konsumsi ini terjadi di tengah tingginya kebutuhan energi untuk mendukung mobilitas masyarakat, aktivitas pariwisata, serta kegiatan ekonomi di Bali. Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama karena kebutuhan BBM yang terus meningkat harus diimbangi dengan ketersediaan pasokan dan pengendalian konsumsi.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan bahwa kebutuhan BBM di Bali tergolong tinggi. Konsumsi Pertalite saja diperkirakan mencapai 2 juta hingga 2,3 juta liter per hari (2.000-2.300 KL), sedangkan Pertamax sekitar 1 juta liter (1.000 KL) per hari.

Baca juga:  Sampah Jadi Agenda Super Prioritas, Gubernur Koster Dorong Pengolahan Jadi Energi

Tingginya konsumsi tersebut juga menjadi perhatian Pertamina Patra Niaga, khususnya terhadap penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite yang memiliki kuota tahunan.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan konsumsi Pertalite di Bali berpotensi melampaui kuota tahunan apabila tidak diikuti pengendalian.

Kuota Pertalite Bali pada 2025 tercatat sekitar 6,2 juta KL. Sementara itu, kuota pada 2026 turun menjadi sekitar 5,7 juta KL.

Berdasarkan data hingga 30 September 2026, realisasi penyaluran Pertalite di Bali tercatat sebanyak 4.239.187 KL atau sekitar 74,4 persen dari kuota tahunan sebesar 5.697.778 KL.

Baca juga:  PHMI Gandeng FKH Unud, Kembangkan Vaksin dan Serum Penyakit Babi

Dengan realisasi tersebut, sisa kuota Pertalite untuk periode Oktober hingga Desember 2026 mencapai 1.458.591 KL. Pertamina memperkirakan penyaluran hingga akhir tahun berpotensi melampaui kuota sekitar 0,7 persen apabila konsumsi terus meningkat tanpa pengendalian.

Kondisi ini menunjukkan tantangan pemenuhan kebutuhan BBM di Bali tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga peningkatan konsumsi dan pengelolaan kuota. Dengan tren konsumsi yang terus meningkat, pengendalian penyaluran menjadi salah satu faktor penting agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi hingga akhir tahun. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN