Gubernur Bali, Wayan Koster melaksanakan persembahyangan perayaan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/10). (BP/Istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster melaksanakan persembahyangan perayaan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/10). Persembahyangan ini diikuti secara bersama oleh Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung, I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, Wali Kota Denpasar yang diwakili Asisten I Pemerintah Kota Denpasar serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemerintah Provinsi Bali.

Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan secara niskala telah melaksanakan persembahyangan sebagai rasa syukur Kita memuliakan ajaran Leluhur yang diwariskan kepada kita sebagai krama Bali, warisan berupa nilai-nilai kearifan lokal, Sad Kerthi, yakni Atma Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Atman/Jiwa); Segara Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Laut dan Pantai); Danu Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Sumber Air); Wana Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Tumbuh-tumbuhan); Jana Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Manusia); dan Jagat Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Alam Semesta).

Baca juga:  Banjir Rob Terjang Pantai Monggalan Kusamba

“Kita sebagai generasi penerus, penyelenggara pemerintahan dan maupun sebagai komponen masyarakat, Kita harus belajar dari leluhur karena mampu membuat suatu konsep tatanan kehidupan yang dinamakan Sad Kerthi (enam sumber utama kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan krama Bali),” katanya.

Ia mengatakan Sad Kerthi merupakan suatu ajaran luar biasa. Karena ajaran ini membumi untuk menjalankan kehidupan ini agar survive secara berkelanjutan, dengan harus memelihara seluruh aspek yang ada di alam. Karena tanpa sumber kehidupan, manusia tidak bisa hidup, seperti tanpa tumbuh-tumbuhan, manusia tidak bisa nafas (tidak ada oksigen), tanpa laut mungkin tidak ada hujan, tanpa sumber air kita tidak bisa minum, tidak bisa mandi sampai ber-irigisasi (tidak bakal ada Subak), dan lain sebagainya.

Baca juga:  Waspada Penyebaran Super Flu, Pemkab Gianyar Perketat Pemantauan ISPA di Seluruh Faskes

“Ajaran ini saya implementasikan dalam visi pembangunan Bali, dinamakan dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan nilai Sad Kerthi,” jelas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Hal ini juga yang mendasari Koster terus menghidupkan perayaan Rahina Tumpek di Bali. “Ini modal dasar juga dalam membangun generasi muda yang menjadi bagian penentu masa depan peradaban Bali, sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru (2025 – 2125),” tegasnya.

Dalam mewujudkan ekosistem kehidupan yang sehat, bersih, berkualitas di Bali, juga harus mengimplementasikan sejumlah kebijakan seperti Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, Pembatasan Plastik Sekali Pakai, menerapkan Energi Bersih, Transportasi Ramah Lingkungan, hingga Pertanian Organik sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun. Sebagai Gubernur Bali bersama dengan Bupati/Walikota di Bali, terutama Bupati Badung, Bupati Klungkung, Bupati Gianyar, dan Wali Kota Denpasar, Koster menetapkan Kawasan Rendah Emisi, yang meliputi Ubud di Kabupaten Gianyar, Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, Sanur dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Kota Denpasar. Keenam kawasan ini ditetapkan sebagai Rendah Emisi, karena merupakan tempat kerumunan pariwisata, agar harmoni dengan alam dan tidak merusak ekosistem kehidupan. (kmb/balipost)

Baca juga:  Desa Adat Gianyar akan Gelar Upacara Tawur Agung Kasanga
BAGIKAN