Sri Agung Wulandewi Putri Laksana. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kebanggaan dan rasa syukur dirasakan Sri Agung Wulandewi Putri Laksana setelah mendapat kesempatan tampil di panggung nasional bersama Gita Bahana Nusantara (GBN) 2026. Mahasiswi ISI Bali tu menjadi bagian dari ratusan generasi muda dari berbagai provinsi di Indonesia yang dipercaya mengisi rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 lalu.

Bagi Sri Agung Wulandewi, pengalaman tampil dan bernyanyi di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka menjadi salah satu momentum paling berharga dalam perjalanan hidupnya.

“Sangat bangga, bahagia, bersyukur dan juga suatu kehormatan yang luar biasa bisa berdiri di atas panggung nasional, bernyanyi di hadapan Bapak Presiden Prabowo, mewakili dan membanggakan Indonesia melalui harmoni suara,” ungkapnya, Sabtu (29/8).

Putri dari pasangan I Putu Heri Nurlaksana dan Cokorda Istri Sri Juni tersebut mengaku pertemuan langsung dengan peserta GBN dari berbagai provinsi menjadi pengalaman yang sangat menggembirakan. Sebelumnya, para peserta telah menjalani latihan secara daring sehingga pertemuan secara langsung menjadi momentum yang dinantikan.

“Kesan pertama saat bertemu dan berlatih bersama peserta dari provinsi lain adalah sangat excited, karena akhirnya kami dipertemukan setelah sebelumnya latihan bersama secara daring,” ujarnya.

Mengharumkan nama Bali dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, menurutnya, menjadi kebanggaan sekaligus pengalaman yang mungkin hanya diperoleh sekali seumur hidup.

“Tentunya sangat bangga dan terharu bisa membawa nama Bali di HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Ini merupakan suatu momen berharga yang mungkin hanya didapat sekali seumur hidup saya,” katanya.

Berinteraksi dengan peserta dari sekitar 30 provinsi di Indonesia juga mempertemukan Sri Agung dengan karakter musik dan budaya yang beragam. Namun, perbedaan tersebut justru menjadi pengalaman berharga untuk memperluas wawasan.

Ia melihat keberagaman karakter musik dan budaya bukan sebagai hambatan, melainkan kekayaan yang dapat dipelajari bersama. Perbedaan tersebut, menurutnya, justru semakin menumbuhkan rasa cinta terhadap Tanah Air.

“Adanya keberagaman tersebut semakin menumbuhkan rasa cinta Tanah Air. Walaupun berbeda-beda, tapi satu tujuan,” tuturnya.

Pertemanan pun tumbuh secara perlahan. Dengan saling mengenal dan beradaptasi, para peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia akhirnya membangun ikatan pertemanan.

Baca juga:  Kasus Sembuh di Denpasar Bertambah 17 Orang, Kasus Positif Covid-19 Bertambah 22 Orang

“Bisa bertemu dengan teman-teman baru yang sangat luar biasa dari Sabang sampai Merauke merupakan suatu kesempatan untuk bisa menambah jaringan pertemanan,” katanya.

Pengalaman selama menjalani karantina pada 1-19 Agustus 2026 di Wisma Kinasih, Depok, juga meninggalkan banyak kenangan. Seluruh aktivitas peserta diatur secara disiplin, mulai dari bangun tidur hingga kegiatan malam.

Karantina tersebut sekaligus menjadi proses pematangan kemampuan bermusik. Para peserta mendapatkan pembinaan dari para pelatih GBN 2026 untuk meningkatkan keterampilan musikal sebelum tampil di panggung nasional.

“Banyak pengalaman selama kami dikarantina yang membekas hingga kami kembali ke Bali. Mulai dari kebiasaan sehari-hari untuk lebih disiplin karena semua kegiatan dari pagi kami bangun tidur sampai malam sudah diatur jadwalnya,” ungkapnya.

Salah satu konsekuensi yang harus dijalani selama pemusatan latihan adalah keterbatasan penggunaan telepon seluler. Ponsel peserta disita sementara dan hanya dapat digunakan pada waktu tertentu, sekitar satu jam sehari.

Bagi Sri Agung, berpisah sementara dengan keluarga menjadi salah satu pengorbanan terbesar untuk mendapatkan kesempatan tampil bersama GBN.

Sebelum tampil di Istana Merdeka, GBN 2026 terlebih dahulu menggelar Konser Kemerdekaan di Stadion Pakansari, Bogor. Konser tersebut menjadi ajang bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara.

Konser tersebut juga menghadirkan penyanyi Indonesia Shabrina Leanor. Penampilan para peserta GBN dipimpin conductor Vincent Wiguna.

Sri Agung menyebut konser di Pakansari menjadi semacam pemanasan sebelum mereka menghadapi panggung utama di Istana Merdeka.

Namun, tampil di Istana Merdeka tetap menjadi pengalaman yang paling membekas. Perjuangan latihan hari demi hari akhirnya terbayar ketika mereka tampil untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

“Yang paling berkesan adalah saat kami tampil di Istana Merdeka. Kami berusaha keras berlatih hari demi hari untuk bisa tampil maksimal. Itu merupakan momen yang kami impikan dan sangat kami nantikan, akhirnya terwujud,” ujarnya.

Sebagai salah satu dari empat perwakilan Bali, Sri Agung juga ingin menunjukkan bahwa generasi muda Bali memiliki beragam talenta. Tidak hanya dalam musik, tetapi juga seni tari.

Hal tersebut tidak terlepas dari latar belakang pendidikannya. Saat bersekolah di SMKN 5 Denpasar, ia memilih jurusan Seni Tari. Kini, ketika melanjutkan pendidikan di ISI Bali, ia memilih jurusan Musik. Menurutnya, tari dan musik memiliki keterkaitan yang erat dalam dunia seni.

Baca juga:  Denpasar Mulai Data Penerima Vaksinasi Tahap II, Termasuk Ojol

“Sebagai perwakilan Bali saya ingin menunjukkan kepada peserta dari daerah lain bahwa generasi muda Bali juga mempunyai talenta lain, salah satunya menari, seperti halnya saya. Walaupun sekarang saya kuliah di ISI Bali dan memilih jurusan Musik, bagi saya itu mempunyai keterkaitan satu sama lainnya,” katanya.

Nilai-nilai budaya Bali juga dibawanya dalam perjalanan mengikuti GBN, salah satunya melalui kostum yang dikenakan saat puncak peringatan HUT RI di Istana Merdeka.

Ia juga berupaya menunjukkan karakter generasi muda Bali yang ramah, mudah bergaul, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

Bagi Sri Agung, GBN tidak sekadar menjadi wadah menyanyikan lagu-lagu nasional. Ajang tersebut juga memperlihatkan betapa kayanya khazanah musik Indonesia.

Selain lagu wajib nasional dan lagu kebangsaan, repertoar GBN mencakup musik pop, dangdut, Melayu hingga lagu daerah dari berbagai wilayah.

Pada GBN 2026, lagu daerah yang dibawakan antara lain berasal dari Sumatera Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara dan Nusa Tenggara Timur. Meski tidak terdapat lagu daerah Bali, Sri Agung melihat hal tersebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah lain kepada seluruh peserta dan masyarakat.

“Ini salah satu cara memperkenalkan kekayaan budaya daerah yang ada di Indonesia melalui seni musik dan paduan suara, juga kostum daerah masing-masing. Itu sangatlah penting,” katanya.

Menurutnya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman Indonesia dapat dipersatukan melalui seni.

Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan bersama ratusan anak muda dari seluruh Indonesia juga memiliki makna tersendiri baginya. Musik menjadi identitas nasional sekaligus sarana memupuk patriotisme dan kecintaan terhadap Tanah Air.

Pengalaman di GBN tidak mengubah pandangannya terhadap keberagaman Indonesia. Sejak awal, ia telah memiliki pandangan positif terhadap perbedaan yang ada. Baginya, kunci utama kehidupan dalam keberagaman adalah saling menghormati dan membangun toleransi.

Namun, pengalaman berada dalam satu kelompok dengan peserta dari berbagai daerah semakin memperkuat pemahamannya mengenai arti persatuan.

Baca juga:  Tampil di Istana, Presiden Jokowi Puji Tari Jejer Kembang Menur Banyuwangi

“Di GBN ini, harmoni lahir bukan dari satu suara mendominasi, tapi karena semua suara saling melengkapi. Dan begitulah Indonesia, dibangun bukan oleh keseragaman, tapi dibangun oleh keberagaman yang hidup dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.

Makna persatuan, lanjutnya, merupakan faktor terpenting dalam mencapai tujuan bersama. Pengalaman GBN membuktikan bahwa perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang ketika semua orang bergerak menuju tujuan yang sama.

Sementara itu, bagi Sri Agung, HUT ke-81 Kemerdekaan RI merupakan momentum untuk meneruskan perjuangan melalui karya nyata, inovasi dan penguasaan teknologi di era modern.

Di balik keberhasilannya menjadi bagian dari GBN 2026, Sri Agung menyebut kedua orang tua, keluarga, guru vokal dan teman-temannya sebagai sosok yang memberikan dukungan besar.

Dukungan tersebut menjadi modal penting dalam menjalani proses seleksi hingga mengikuti rangkaian latihan dan karantina.

Pengorbanan meninggalkan keluarga selama hampir tiga pekan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dijalani. Namun, pengalaman tersebut justru memberikan pelajaran tentang disiplin, kemandirian, tanggung jawab dan kerja sama.

Ada pula kenangan unik selama karantina yang tidak akan dilupakannya. Teman-temannya dari kelompok suara sopran secara kompak menyelipkan bunga kamboja aneka warna yang tumbuh di halaman Wisma Kinasih ke rambutnya.

Momen tersebut membuatnya tampil bak “gadis Bali” di tengah suasana karantina.

Sepulang dari GBN 2026, Sri Agung belum akan berhenti berkarya. Tugas berikutnya sudah menanti. Ia akan kembali membawa nama Bali dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Jember, Jawa Timur, 7-11 September 2026, pada tangkai lomba Menyanyi Keroncong.

Ke depan, ia berharap dapat terus fokus mengembangkan kemampuan bermusik, sekaligus menapaki cita-cita menjadi akademisi dan praktisi profesional di bidang musik.

Bagi Sri Agung, pengalaman GBN menjadi lebih dari sekadar perjalanan musikal.

“Gita Bahana Nusantara adalah sebuah ajang yang bukan sekadar seleksi suara terbaik, tetapi juga ruang untuk bertumbuh, saling mengenal dan membangun persahabatan yang lahir dari harmoni bersama. Momen ini bukan sekadar latihan musikal, melainkan langkah awal untuk memperluas jejaring, memperkuat karakter dan menyatukan keberagaman Nusantara menjadi harmoni pemersatu bangsa,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN